02. Satu Tempat? 🌿

10.7K 874 19
                                        

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Bersabarlah wahai hati.
Jangan sampai rasa yang terpendam meledak hanya karena seringnya bertemu.

~Sembunyi Rasa~
@JaisiQ

🌿🌿🌿

Motor sudah sampai di depan rumahku. Aku bergegas turun, dan melepaskan helm. Haduh, bagaimana ini? Helm Arkan jadi kotor. Arghh.... Aku jadi tidak enak.

"Emm, gimana? Jadi kotor helmnya," ucapku.

"Nggak papa."

Kuserahkan helm itu padanya. Aku melihat wajah Arkan yang tidak seputih dan sebersih dulu. Bisa kutebak, ini pasti gara-gara dia sering naik gunung. Tapi, dia tetap tampan, kok. Eh, berpikir apa aku ini? Aku sudah berjanji pada Allah, untuk jangan terlalu menatap sesuatu yang bisa menggugah syahwat.

Arkan kembali melajukan motornya, berbelok ke halaman rumahnya yang ada tepat di sebelah rumahku.

Dulu aku sering sekali masuk ke rumah itu. Arkan selalu mengajakku main setiap hari, dan membawaku ke rumahnya. Ya, dulu dia anak manja, yang lebih senang main di rumah. Tapi ia tak pernah malu untuk memanggil namaku di luar rumahku setiap libur sekolah. Dia yang selalu pertama kali mengajakku main tanpa jaim.

Aku selalu mengintip di jendela, melihatnya berdiri di depan pagar sambil tersenyum. Aku suka cara dia mengajakku main. Arkan itu lucu, selain tampan, dia juga manis.

Dia teman kecil terbaikku.

Karena seringnya bersama, menjalin pertemanan dekat, seiring berjalannya waktu hatiku berubah. Aku tidak tahu apa arti dari perasaan itu. Perasaan bahagia setiapkali berada dekatnya.

Aku pikir, itu hanya perasaan seorang sahabat kepada sahabatnya. Tapi saat hubungan kami mulai renggang dan beranjak dewasa, aku merasa kehilangan. Menginjak kelas dua SMP aku sudah jarang bermain dengan Arkan. Mungkin karena kami sibuk dengan urusan masing-masing. Kami juga beda sekolah, jadi jarang bertemu. Berbeda ketika saat SD, kami masih satu sekolah bahkan satu kelas.

Semuanya terasa berbeda, sampai aku ingin menjadi anak kecil lagi.

Tidak ada dia yang memanggil namaku di luar pagar.

Tidak ada dia yang mengajak bermain.

Malah jadi aku yang ingin berbalik mengajak main.

Tapi, aku malu.

Lagi-lagi aku harus mengenang masa kecilku yang penuh warna bersama Arkan. Aku mengerjap. Mengenang hanya akan membuat rinduku semakin berlapis. Aku langsung masuk, rasanya semua badanku gatal dan bau. Aku harus segera membersihkan badan.

"Assalamu'alaikum...."

"Ciee, dianterin Arkan. Kamu bareng sama dia?" tanya ibuku yang ternyata sudah berdiri di depan jendela.

"Nggak kok, Bu. Tadi cuma kebetulan."

"Kamu pacaran?"

"Apaan sih, Bu. Istilah pacaran itu nggak ada dalam islam."

Ibuku terkekeh. Keluargaku memang bukan keturunan agamis. Tapi kami berusaha mencegah perbuatan yang melenceng dari agama.

"Ya terus kok bisa bareng? Ini baru pertama kalinya Ibu liat kamu dibonceng dia."

"Emang Arkan mau sama aku...." Aku ini terlalu jelek untul bisa bersanding dengan Arkan.

"Eh, kok kamu bau gini, sih? Mana kotor lagi."

Sembunyi Rasa √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang