Setelah menjemput Acha, Abay tidak langsung menuju kesekolah. Melainkan mampir untuk sarapan ditukang bubur ayam langganannya.
Sebenarnya Abay tidak menyukai bubur ayam, teksturnya yang lembut kadang membuatnya mual untuk mulai memakanya. Kalau bukan karna Acha, mungkin Abay tidak akan pernah mencoba satu suap pun bubur ayam.
"Sudah lama ya, kalian nggak mampir kesini. Bapak kira, kalian sudah lupa sama bubur ayam bapak." Kata pak Odang sembari meletakan dua mangkuk bubur ayam dimeja.
"Abay sibuk mulu pak, makanya Acha jarang ajak Abay buat makan disini." Jawab Acha sembari melirik Abay yang asik mengaduk bubur ayamnya.
Pak Odang tertawa pelan, melihat tingkah dua remaja yang sering membuat keributan diwarung bubur ayamnya.
"Ya sudah. Bapak kesana dulu ya, kalian buruan sarapanya udah siang ini." Peringat pak Odang yang diberi anggukan sopan oleh Acha.
"Kebiasaan kamu, makan bubur ayam kok diaduk." Ejek Acha
Abay mendongak lalu mulai memasukan suapan pertama kedalam mulutnya "lebih enak diaduk."
"Lebih enak nggak diaduk." Ucap Acha tak mau kalah.
"Enak diaduk."
"Enggak diaduk."
"Enak diaduk."
"Engga diad ..."
"Mas mbak, bisa jangan berantem disini? Anak saya rewel terus ini dengar kalian ribut mulu." Tegur seorang ibu muda yang menggendong bayinya.
Acha meringis lalu melirik Abay tajam, dan yang dilirik hanya bisa menaikan satu alisnya tanpa dosa. Menyebalkan memang.
Setelah 10 menit menghabiskan bubur ayam dengan dibumbui keributan tadi, mereka berdua buru-buru bergegas berangkat kesekolah.
"Mauryn?"
Acha yang sedang memasang helmnya terpaksa melepas kembali karna tiba-tiba Abay menyebut nama Mauryn. "Kamu kenapa?"
"Nggak papa, aku salah liat aja kali." Jawab Abay dengan sedikit keraguan dan hanya mendapat anggukan dari Acha.
Sebenarnya, Acha ingin menanyakan perihal Mauryn pada Abay. Namun, waktunya sama sekali tidak mendukung.
Kadang, Acha benar-benar dibuat bingung oleh sikap Abay. Satu sisi Abay enggan untuk kehilangan Acha, dan satu sisi Abay juga tidak mau sepenuhnya melepaskan Mauryn begitu saja.
_________
Hari ini adalah jam olahraga dikelas Acha. Semua teman-temannya sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang asik bergosip, bermain basket sampai menjahili pak Yunus tukang kebun sekolah.
Acha sendiri sedang memperhatikan teman kelasnya satu persatu. Ponselnya bergetar menandakan ada satu pesan masuk. Acha mengerutkan keningnya lalu memasukan kembali kedalam kantung celana olahraganya.
"Mau kemana, Cha?" Teriak Bela dari tengah lapangan.
"Kekamar mandi sebentar, izinin ya kalau pak Iwan dateng."
"Oke. Jangan lama-lama!"
Acha menyusuri lorong yang lumayan sepi karna aktivitas belajar sudah dimulai. Kakinya terus melangkah menuju kantin sembari menggerutu.
Sesampainya dipintu kantin, Acha berdecak kesal melihat cowok yang duduk dibangku paling pojok. Siapa lagi kalau bukan Vino. Cowok itu memang selalu menyusahkan sedari dulu, tidak pernah berubah.
"Kenapa si? Gue kan ada jam olahraga. Kalo pak Iwan tau gue telat bisa disuruh lari puter lapangan tau!" Gerutu Acha yang sudah duduk dihapan Vino.
KAMU SEDANG MEMBACA
AlBay
Fiksi Remaja"Aku mau kita udahan sekarang." Ucap cowok yang berdiri didekat ring basket itu. "Jadi gini,ya. Rasanya jatuh cinta sendiri dalam suatu hubungan yang mengatasnamakan 'pacaran'. Miris banget kisah cinta gue." Balas cewek berambut pendek sebahu itu ya...
