Disudut sekolah tempat dimana aku dan Defthan sering bertemu, Defthan yang mendorongku ke dinding secara tiba-tiba dan kasar yang membuat diriku kaget atas perlakuannya. "Gua gak suka sama lu!!, jangan lu deket-deket lagi sama gua! dasar lu bucin"
Aku hanya diam dan mulai menangis, walaupun Defthan terus membentak diriku. Terasa ada yang memanggil diriku.
"Kakak bangun!, nanti terlambat lagi loh" triakan ibu membangunkan ku sambil menggedor-gedor pintu kamarku.
Secara perlahan-lahan aku membuka mata dan mulai tersadar. Ternyata semua itu hanya mimpi, bolak—balik aku meregangkan tubuh diatas kasur dan kemudian bergegas untuk sekolah.
"Bu..Kaina berangkat dulu ya" pamitku pada ibu yang sedang menyiapkan sarapan untuku.
"Ini bekal siangnya gak dibawa?" tanya ibu yang cepat-cepat memasukan makanan ke kotak nasiku.
"Gak usah deh bu, nanti kasi Kaino aja bekalnya. Nanti kakak sarapan di kantin aja" jelasku dan kemudian meninggalkan rumah.
Biasanya pagi-pagi sekali Defthan sudah stay di depan rumahku, tapi entah kenapa hari ini dia tidak menjemputku.
"Mendung, pasti bakalan turun hujan nih" gumamku dan langsung berjalan dengan cepat.
Di depan gerbang sekolah lagi-lagi aku melihat ketua osis sok perhatian itu. "huh lagi-lagi aku liat dia" sambil mempalingkan wajah.
"Pagi buk tolong lepas jaketnya ya" katanya ketika aku melewatinya.
"Apaan sih lu, awes anak orang marah lu bilang ibu-ibu" jelas osis yang lain.
~•~
Kring...Kring...Kring...
"Udah jam istirahat nih, hari ini aku mau makan apa ya?" gerutuku sampil merapikan buku di atas meja dan memeriksa uang saku. Tiba-tiba Michel datang dan memukul mejaku dengan keras.
Brakkkkkkkkk
Aku terkejut awalnya aku tidak melihat Michel masuk kedalam kelas dan tiba-tiba saja Michel sudah ada didepan ku.
Michel mendekati wajahku dan kemudian mendekati telingaku dan berkata "Kantin yuk bu"
Akupun langsung berdiri dan mendorong Michel dengan keras "Apaan sih deket-deket" dan kemudian pergi meninggalkannya.
Michel menyusul dan kemudian mengikuti ku dari belakang, tiba-tiba Michel menarik tanganku dan berkata "Pelan-pelan dong capek nih"
"Siapa suruh ngikutin" sahutku sambil jalan dengan langkah yang lebih cepat.
"Gua mau ngajak lu ke kantin doang" jelasnya yang masih mengikuti diriku.
Aku tetap jalan dan tak menghiraukan apa yang dia katakan.
"Woi gua ngomong!" bentaknya dengan keras.
Terkejut setengah mati, aku berhenti dan langsung melihat dirinya.
"Nah kan diem lu" Gerutunya dan memegang tanganku kemudian mengajaku pergi ke kantin. Dalam perjalanan menuju kantin dia berkata padaku "Entah lu mau ke kantin sama pacar lu atau sama gua, yang penting sekarang lu ke kantin sama gua"

KAMU SEDANG MEMBACA
My Destiny
Fiksi RemajaSahabatku apakah semua perasaan ku ini tidak kau rasakan? apakah semua perhatian ku kau tak hiraukan? Dibalik persahabatan ini aku menyimpan perasaan yang tulus akan tetapi sulit bagiku untuk di ungkapkan