"Bisma mana?." Tanya Edo ke Hadi
"Ya mana gua tau, kan gua daritadi sama elo ke kantin!" Ucap Hadi
"O iye. Cha, Cha, caca marica!." Panggil Edo ke Richa.
"Ha?"
"Lu liat Bisma ga ,Cha?" tanya Edo .
Richa menatap.
"Enggak, gue liatnya elo didepan gue." Jawab Richa bergurau
"Garing,Cha! Serius ah elah."
"Mau banget diseriusin yaa.. Hahaha."
"Bodo amat, anjir." Ucap Edo. Terkadang sikap Edo memang sedikit kasar . Tempramen!
"Gatau. Gua daritadi juga ga liat Dara."
"Yaelah , bentar lagi pak Udin dateng. Gua blom ngerjain PR." Gelisah Edo
Rio yang sejak tadi menyimak percakapan antara kunyuk dan gorila, langsung mengeluarkan buku ips nya.
"Yaelah,nih, kerjain. Kayak ga punya temen laen aja lo." Ketus rio
Edo hanya cengengesan sambil mengangguk. Ia langsung buru buru menyalin pr dari buku Rio.
'Bisma sama Dara? Mereka kemana' Batin Edo*******
"Udah,udah ,Ra."
"Tenang ya,"
Kini Dara dan Bisma berada ditaman. Bisma sedari tadi menenangkan Dara yang sejak tadi terus menangis. Suasana di taman belakang sudah sangat sepi, bel masuk sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Hanya ada Bisma dan Dara lah yang ada di taman belakang sekolah.
"Udah,Ra. Jangan nangis lagi."
Bisma memeluk Dara yang sejak tadi tak berhenti menangis. Bisma bingung harus berbuat apa agar perempuan didepannya bisa berhenti menangis. Sesekali ia mengusap air mata Dara.
"Udah,Ra. Nangis mulu ntar mata lu copot!"
Berhasil. Dara langsung mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air matanya. Dilihatnya Bisma yang tersenyum lebar sambil mengusap rambut Dara. *DEG* hati dara berdegup.
Dara tak langsung berkata, ia menatap lama Bisma. Sejak tadi ia tak sadar bahwa Bisma menemaninya di taman belakang. Mungkin karena terlalu larut dalam kesedihan, ia tak sadar dengan kehadiran Bisma.
"E-eh? Lo ngapain disini? Ga usah pegang-pegang!" Omel Dara sambil mengusap air matanya.
Bisma tertawa.
"Daraa..Dara. Juteknya ga ilang ternyata." Ucap Bisma sambil tertawa.
Dara hanya menatapnya sinis.
"Tapi gapapa, lo tetep cantik."
DEG. Jantung Dara berdetak hebat. Tak biasanya ia seperti ini.
"APAANSI, TAU AH." bentak Dara.
"Wuih santai santai. Nih minum dulu." Bisma menyodorkan minuman ke Dara.
Dara mengambil minuman itu tanpa ragu. Diteguknya langsung minuman itu.
Bisma yang sejak tadi memerhatikan tingkah lucu Dara tersenyum puas melihatnya."Haus, bu?."
"uhuk...uhuk.." Dara tersendak.
"pelan-pelan makanya,bu. Tangkinya baru diisi ya. Haus banget kayaknya." Ledek Bisma.
Dara hanya diam sambil menutup minuman yang ia teguk tadi.
"Lo kenapa?" Tanya Bisma membuka obrolan.
"gapapa."
Bisma diam.
"Menurut 'kamus cara mengerti wanita', kalo ada cewe yang bilang 'gapapa' berarti lagi ada apa apa. Ya ga." Ucap Bisma tersenyum pada Dara.
"Ish, apasi."
"gue bener kan, kalo pun salah, kenapa lo nangis tadi? Yakin jawabannya masih gapapa?" Bisma nyengir.
"mana ada kamus kayak gitu. Ngaco"
"ya ada lah. Buktinya gue tau ."
"ngawur, siapa yang buat?"
"Gue."
"kapan?"
"barusan. Hahaha" Tawa Bisma.
"Garing."
Bisma masih saja tertawa. Ia menertawakan bukan karena hal yang mereka bahas, Bisma merasa gemas dengan wajah Dara. Walaupun jutek,Dara memang pantas disebut wanita cantik. The most wanted girl school !
Dara masih saja bersikap dingin. Sedangkan Bisma tetap mengajak Dara berbicara, alih alih untuk menenangkannya. Setelah dipikir pikir, menurut Dara, apa yang Bisma katakan itu memang benar. Jikalau kata 'gapapa' bermakna 'lagi ada apa apa'. Itu yang Dara rasakan sekarang.
Krrrkkk..krrkkk
"Subhanallah. Terkejoed hamba." Lawak Bisma
Untuk pertama kalinya, Dara tersenyum didepan Bisma. Senyum sayu dari wajah Dara. Ia memegangi perutnya yang keroncongan.
"hehehe, maap."
"yaudah ,ayo!" Ajak Bisma.
Dara bingung dengan ucapan Bisma.
"kemana?"
"lo mau disini terus? Itu perut lo keroncongan gitu. Lo pasti belum makan kan. Yaudah ayo ke kantin." Ucap Bisma
"e-eh? Tapi gue lupa bawa uang."
"gue yang bayarin. Ayo cepet bangun. Udah jam 11 gini lo belom makan. Bisa sakit tau ga."
Dara hanya diam dengan ocehan Bisma. Ia bingung harus menjawab apa.
Tanpa ragu, Bisma langsung menarik tangan Dara.
"a-aw!" Dara langsung menarik tangannya kembali. Jari mungilnya terluka akibat membersihkan beling gelas kaca tadi pagi . Ia belum sempat mengobatinya. Hanya ia cuci dengan air mengalir di wastafel sekolah.
Bisma menarik tangan Dara kembali.
"ini kenapa?" Tanya Bisma tak langsung meminta maaf.
Dara hanya diam. Tak menjawab pertanyaan Bisma.
"kenapa?" tanya Bisma lagi.
"enggak , gapapa. Kemarin kena pisau."
"yakin?"
"iya."
"yaudah kalo gitu ke uks dulu. Luka lo bisa infeksi kalo ga diobatin gini." Ucap Bisma sambil memegang tangan Dara. Ia memerhatikan luka di jemari Dara.
Bunyi detak jantung Dara tak karuan. Tak biasanya ia diperlakukan begini.
'mampus gue mampus, kena penyakit jantung deh nih.' batin Dara."ayo." Ajak Bisma
Dara berjalan mendahului Bisma. Ia salah tingkah akibat perlakuan Bisma kepadanya. Bisma yang memerhatikan gerak gerik Dara dari belakang, hanya cengengesan. Ia tahu bahwa Dara sedang salah tingkah.
"Eh, Ra. Tunggu." Ucapan Bisma membuat langkah Dara terhenti. Ia membalikkan tubuh ke arah Bisma.
"kenapa?"
"ternyata gue salah." Ucap Bisma
"salah apanya?"
"iya ternyata gue salah. Ternyata lo kalo senyum tambah cantik,Ra."
*******
Ikutin lanjutan ceritanya ya kawan!
Jangan lupa vote dan share ke temen temen. Semakin banyak yang vote akan semakin rajin aku update. Yuhuuu
Semangat semua~

KAMU SEDANG MEMBACA
Sourire
Teen Fiction"Mau lu apa si?" timpal ku cepat. "Kamu mau kemana si emang ,Ra? "Perlu dikasih tau gitu? Kenapa juga harus tau?" "Ya,perlu. Aku kan mau ikut kemana pun kamu pergi" "Emang lo pikir dengan rayuan lo itu , gue bakal ngasih tau gue mau kemana ?!" "Yaud...