Tangis

141 13 4
                                    

"Neng,, bangun neng. Udah pagi." Terdengar suara pria tua membangunkan Dara.

"Mmmm" Kata Dara yang masih memejamkan mata.

"Bangunn, ayo sholat shubuh. Nanti keburu fajar."

Dara pun bangkit dari tidurnya sambil mengucak matanya . Saat ia membuka matanya, terlihat pria  tua tersenyum dihadapannya.

"Iyaa,kakek." Kata Dara sambil tersenyum.

Dara tinggal bersama kakek dan neneknya. Kakeknya berusia 75 tahun dan neneknya 69 tahun. Orangtua Dara sudah tiada sejak ia lahir. Ayahnya meninggal saat Dara 5 bulan didalam kandungan ibunya. Dan Ibunya meninggal saat melahirkan Dara.
Kakek Dara dahulu adalah tentara. Namun, ia dipecat oleh atasannya entah karena masalah apa. Dara sendiri pun tak pernah menanyakan perihal mengapa kakeknya diberhentikan dari tentara. Sedangkan neneknya dahulu hanyalah buruh cuci pakaian.
Dara hidup bersama kakek dan neneknya dengan mengandalkan uang pensiun kakeknya serta uang hasil kerja laundry pakaian Dara.

"Mandi. Abis itu sholat ya." Kata kakek Dara meninggalkan kamarnya.

Dara mengangguk. Ia pun menyegerakan perintah kakeknya.

******
05.50
Dara telah memakai seragam sekolahnya rapih. Ia sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kakek,nenek dan dirinya.

"Daraa, mana makanannya!!." Teriak seorang wanita tua dari kejauhan.

"Iyaa, nek. Sebentar lagi kok." Jawab Dara sambil terburu buru.

Dara pun menyediakan sarapannya sambil terburu buru. Ia memasak nasi goreng kesukaan kakeknya.

"Nah ini Kek,Nek." Dara menyediakan nasi goreng.

"Makasih Dara." Ucap Kakek tersenyum dan dibalas senyuman pula oleh Dara.

Mereka pun segera melahap nasi goreng tersebut. Dara memang yang paling diandalkan dirumah ini, soal memasak, Dara lah yang paling jagonya. Nenek dan kakeknya sudah tua, jadi wajar saja Dara yang paling diandalkan.

"Uhukk..uhukk.. DARA! MASAKAAN APA INI!! KEASINAN!! KAMU MAU RACUNIN SAYA?!" Bentak Nenek pada Dara. Dara pun terkejut serta ketakutan.

"e-eh? Nek? Ini minum dulu." Ucap Dara sambil memberikan segelas air putih. Gelas kaca berisi air yang Dara berikan, langsung dihempas keras oleh Nenek sehingga pecah.

"GAK USAH! SAYA GA PERLU BANTUAN KAMU!."

"Nek, Tapi..."

"Kamu memang ga guna disini! Pergi kamu!!!." Bentak nenek

"Nek, maaf nek. Tapi tadi Dara gak..."

"PERGI!" Bentak nenek.

"Sudah sudah ,Fatimah." Kata Kakek menenangkan Istrinya

Tak terasa air mata Dara pun menetes. Bukan satu atau dua kali neneknya berperilaku seperti ini.

Dara sedang membersihkan gelas kaca yang pecah tadi sambil terisak dengan tangisnya.

"A-aw." Serpihan kaca melukai telunjuk Dara

"Sudah,sudah. Nak. Kamu berangkat sekolah gih, biar kakek yang bersihkan. Maafin sikap nenekmu tadi ,ya." Ucap kakek

"Ta-tapi ,kek." Ucap Dara terbata bata.

"Sudah. Obatin luka kamu. Biar kakek yg urus ini. "

"emm. Iya kek. Yaudah Dara berangkat dulu, Assalamualaikum." Ucap Dara sambil bersalaman dengan kakek.

"Waalaikumsalam."

**********
Triiinggggg

"Nah, anak-anak. Karena bel istirahat sudah berbunyi, kalian boleh istirahat." Kata pak Gunawan menutup pengajarannya.

"Iya,pak." jawab seorang murid.

Pada saat itu juga, murid murid kelas pun berhamburan menuju ke kantin. Memanjakan perut mereka yang sedari tadi 'minta makan.'
Somay Bude Rini lah yang paling dinanti nanti.

"Yo,Bisma, ke kantin kagak?" tanya Edo

"Ayolah. Lu ikut kan ,Di?" Tanya Rio ke Hadi

"Iyaa. Yaudah buru, keburu rame nanti gue ketemu si drakula." Ucap Hadi.

"E-eh ,Bisma? Bisa tolong saya?." Tanya pak Gunawan .

"Kenapa, Pak?."

"Anterin buku ini ke meja saya ya, diruang guru. Saya ada urusan sebentar sama Guru dikelas 10. Saya minta tolong ya." Pinta Pak Gunawan.

"Oh,iya siap pak." Ucap Bisma semangat.

"Bro , maap ga bisa bareng. Duluan aja." Ucap Bisma pada tiga serangkai sambil tersenyum.

"Yaudah, kita duluan ye." Ucap Hadi.

"sip sip." tutup Bisma.

Kemudian Bisma menyegerakan perintah pak Gunawan. Ia membawa setumpuk buku kelas menuju ruang guru.

Hiks..hiks..hiks..

"kok gue kayak denger suara orang nangis ya?" Batin Bisma yang baru saja keluar dari ruang guru.

Bisma kemudian mencari sumber suara tangis tersebut. Ia mencari kesana kemari. Suasana di koridor padahal sedang sepi, tak banyak murid yang ada disana.

"Hiks..hiks..hikss.. Sa-sakit.."

Betapa terkejutnya Bisma melihat perempuan yang sedang menangis di belakang koridor sekolah...

"DA-DARA?!"

*****
MAAP YA LAMBAT UPDATE. MAAPINNN. IKUTIN TERUS CERITANYA YA. HIHI

SourireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang