Bel istirahat berbunyi dan artinya jam pelajaran Pak Sudiro sudah berakhir. Rista menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas setelah Pak Sudiro keluar dari kelas.
“Kau mau ke kantin? Aku lapar dan aku ingin sekali soto,” ucap Leury.
“I hate you, Leury.”
“No, you don’t.”
Rista menatapnya tajam dan menghembuskan nafas. Ya, Leury benar. Rista tidak pernah bisa membenci sahabatnya itu.
Leury Angelarisa merupakan sahabat Rista sejak ia menduduki bangku SMP. Dia adalah seorang penari dan juga penyanyi. Suaranya sangat bagus dan ia memiliki wajah yang cantik dan menawan. Dia juga sangat pintar dan kaya. Makanya, banyak laki-laki yang mengaguminya.
Sedangkan Rista Jey. Perempuan dengan IQ rata-rata, tidak cantik, dan tidak memiliki satu pun prestasi.
Tanpa sadar langkah Rista terhenti ketika melihat Cogorsky masuk ke dalam kantin. Ia tepat berdiri beberapa langkah dari tempat Rista berdiri. Leury melihat ia memandangi Cogorsky dan Leury tersenyum manis kepada Rista.
Rista memutar bola matanya, “Apa?”
Leury hanya menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum. Ia kemudian menarik Rista untuk kembali berjalan. Rista mengikuti Leury dari belakang. Leury membuka pintu kantin dan di sana terlihat ratusan siswa sedang duduk dan ada juga yang sedang memesan makanan. Beberapa di antara mereka tidak makan dan hanya duduk saja.
Tiba-tiba Rista merasakan seseorang menepuk bahunya. Ia membalikkan badan dan terdiam ketika melihat Cogorsky yang memanggilnya.
“Hai! Kau yang memperhatikanku tadi, kan? Namaku Cogorsky Hary.”
Sejenak Rista menyesal telah menemani Leury ke kantin dan membuatnya harus bertemu dengan Cogorsky, serta mendapat pertanyaan yang memalukan itu dari mulutnya.
“Hmm. Kau boleh memanggilku Sky,” lanjut Cogorsky karena Rista hanya terdiam.
“Hai, namaku Rista Jey.”
“Senang bertemu denganmu Jey. Aku harus kembali ke kelas. Sampai jumpa lagi, Jey.”
Setelah itu Rista melihat Cogorsky menjauh. Tiba-tiba ia merasa pipinya panas karena Cogorsky. Tidak pernah ada yang memanggilnya dengan nama belakangnya.
Tampan, baik, dan ramah. Cogorsky Hary.
Rista langsung mencari Leury dan duduk di depannya. Leury sudah memesankan Rista es jeruk seperti biasanya. Rista langsung meminum es jeruknya.
“Jadi, Cogorsky mengatakan apa?” tembak Leury.
Rista langsung terbatuk-batuk dan hampir saja mengeluarkan es jeruk dalam mulutnya.
“Bagaimana kau tau?”
“Kalian menjadi tontonan di satu kantin ini. Sudah kubilang kau harus mendengar penjelasanku tadi saat pelajaran Pak Sudiro.”
“Itu tidak ada hubungannya dengan apa yang barusan terjadi.”
“Kau harus tau kalau Cogorsky sekarang menjadi bahan gosip para cewek-cewek di sekolah ini. Ia tampan dan pintar, makanya ia digemari oleh murid-murid perempuan.”
Rista hanya diam dan menyimak perkataan Leury karena ia juga penasaran dengan Cogorsky.
“Seperti yang kukatakan tadi. Cogorsky merupakan siswa IPA 3. Kelasnya ada di samping kelas kita. Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padamu,” ucap Leury ditutup dengan suapan nasi dan soto.
“Apa maksudmu?”
“Ia akan pindah ke jurusan IPS. Dan melihat dari jumlah kelas kita yang hanya 29 orang, aku yakin ia akan pindah ke kelas IPS 1, kelas kita. Dan itu artinya...”
Rista terdiam sejenak. Ketika selesai mencerna perkataan Leury, ia hampir saja berteriak.
“Kita akan sekelas dengan Cogorsky.”
“Benar. Dan kau mau tau apa yang lebih menarik?”
Rista masih terdiam.
“Tempat duduk yang kosong hanya ada tepat di depan tempat duduk kita.”
Kali ini Rista langsung berdiri dan menatap Leury dengan mata berbinar-binar. Ia tau itu hanya perkiraan, tetapi ntah kenapa ia merasa Dewi Fortuna memang berada di pihaknya hari ini dan saat ini juga.
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi, Leury?” ucap Rista sambil duduk kembali dan meminum es jeruknya.
“Kau menyuruhku untuk tidak melanjutkannya dan kupikir Pak Sudiro juga akan memarahiku jika aku melanjutkannya tadi. Thanks to you. Dan aku akan mengatakan sesuatu padamu.”
“Apa?”
“Kau tertarik padanya. Jangan mengelak. And thanks to you again.”
“Aku tidak tertarik padanya. Dan kenapa kau mengucapkan terima kasih padaku? Kau juga tertarik padanya?”
“Juga? Tidak, aku tidak tertarik pada Cogorsky. Aku berterima kasih padamu karena kau menghabiskan jam makan siangku.”
May 1st, 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Some Memories
RomanceMenceritakan seorang perempuan sederhana dengan kehidupan yang tidak sederhana. Sebagian cerita merupakan kisah nyata seorang penulis.
