05. Berdua?

19 3 0
                                    


"yuk, Ra" ajak Rizal yang tiba tiba sudah di depan Aira. "Ana, gimana?" tanya Aira pada Rizal. "Ana? Sahabat lo? Dia sama Faiz aja" jawab Rizal santai. "Na, sini" panggil Aira. "Lo sama Rizal ya, sono naik" ucap Aira. "Hah?" tanya Rizal tak mengerti. "Iya, Rizal sama Ana. Gua sama Faiz" jawab Aira sambil berjalan ke motor Faiz.

Aira tersenyum kepada Faiz, "gakpapa kan iz?" tanya Aira kepada Faiz. "Iya, kenapa gak sama Rizal?" tanya Faiz. "Kalian duluan aja ya!" Teriak Aira kepada Rizal dan Ana. "Gua gak enak sama Ana. Dia suka sama Rizal" ucap Aira sedikit berbisik. Faiz mengangkat sebelah alisnya, pertanda tak mengerti. "Iya, gua aja tadinya gak kenal Rizal siapa. Gua taunya dari Ana" sekarang Faiz paham dengan ucapan Aira.

"Iz, lo anak Avenger juga?" tanya Aira sambil naik ke motor Faiz. "Iya, Ra. Kenapa emang?" Faiz balik bertanya. "Emang seserem itu ya Avenger?" tanya Aira. "Enggaklah, Ra. Tugas Avenger cuma ngelindungin SMA Miracle. Dan ngelakuin pembelaan kalo ada yang serang SMA Miracle" jawab Faiz yang hanya di jawab anggukan oleh Aira.

Faiz mulai melajukan motornya, "Iz gua mau nanya lagi, kenapa semua geng di Miracle pada tunduk semua sama Rizal?" ucap Aira yang sangat ingin tahu akan hubungan Avenger, SMA Miracle, dan geng lainnya.

"Kok gua jadi kepo banget tentang ini? Biasanya mau roll depan belakang juga gak peduli gua. Apa karena Rizal? Apa sih Ra! Sadar, sadar!" batin Aira mulai berbicara.

Faiz ingin menjawab pertanyaan Aira, tapi ia berfikir bahwa Rizal pernah berbicara pada anggota Avenger bahwa "Jangan pernah ada yang bilang ke siapapun, siapa itu gua, dan berasal dari mana gua. Kalo pun mereka tau, biar mereka tau sendiri. Bukan karena ada salah satu dari kalian yang bilang siapa itu Rizal!" Tegas Rizal kepada semua anggota Avenger.

"Udah gausah di jawab kok iz, santai aja santai" ucap Aira memecahkan suasana. Faiz menghembuskan nafasnya, karena ia tak harus berbohong dan melanggar janji nya pada Rizal.

Sampailah mereka di toko buku ini, Rizal dan Ana sudah ada di dalam menunggu Faiz dan Aira. Untungnya, toko buku ini berada di Mall. Jadi Rizal dan Ana tak perlu bingung mencari tempat untuk mereka menunggu Faiz dan Aira.

Aira dan Faiz menghampiri Ana dan Rizal, "lama banget, kemana aja?" tanya Rizal dingin. "kena lampu merah tadi gua" jawab Faiz sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Makan dulu aja yuk? Laper soalnya" ucap Aira dengan senyumannya. Kedua lelaki itu langsung lemah ketika mendapat senyuman dari Aira. "Itu perut apa karet? perasaan tadi istirahat kedua juga udah makan" tanya Ana. Aira hanya terkekeh.

"Kalian disini pada bingung kan mau kemana? Udah mendingan ikutin gua aja ya" ucap Aira yang membawa mereka ke restoran cepat saji itu. Apalagi kalau bukan Mcd.

"Karena kalian udah berbaik hati udah mau temenin gua kesini, jadi gua aja yang traktir. Sebagai tanda terima kasih gua ke kalian" ucap Aira lagi yang diiringi senyuman manisnya.

"Aturan mah kalo ada cowo, buat apa cewe bayar?" tanya Rizal. "Santai, Ra. Gua yang ngajak lo kesini kan. Gua aja yang bayar" lanjut Rizal.

"Gak ada deh zal, udah gua aja pokoknya" balas Aira. "Cepet cepetan aja kalo gitu" Rizal langsung berjalan dengan langkah besarnya menuju tempat pemesanan. Aira menyusul Rizal dengan berlari. "Kesandung ntar lo Ra" ucap Ana sambil terkekeh. Faiz tersenyum melihat tingkah Aira yang menggemaskan.

"Lo suka ya sama Aira?" tanya Ana yang melihat ekspresi Faiz. "Kaga, lucu aja" jawab Faiz singkat. "Ngaku juga gakpapa kali, Iz. Kalo emang lo gasuka sama Aira. Mending comblangin aja sama Rizal. Cocok noh" balas Ana sambil menunjuk Rizal dan Aira dengan dagunya.

"Bukannya lo suka sama Rizal?" pertanyaan Faiz itu membuat Ana tertawa. "gaklah, iz. Gua cuma kagum aja sama Rizal. Gua heran kenapa pubertas is real banget buat dia, ahahaha. Coba lu inget inget waktu Rizal kelas 10. Culun gitu, wajah pas pasan, sekarang bisa ganteng gitu, ahahahah. Kalo urusan hati, gua gabisa berpaling cepet" jawab Ana dengan santai.

"Gabisa berpaling cepet? Maksudnya?" tanya Faiz lagi dan lagi. "Iya, lagian udah masa lalu. Gausah di bahas" balas Ana sambil tersenyum lalu berpaling ke ponselnya.

"Lo cantik, Na. Dan lo keliatan baik. Gua harap lo bisa dapet yang lebih dari masa lalu lo kalo masa lalu lo itu menyakitkan" batin Faiz sambil ngelamun. "Udah, jangan ngelamun. Tulis nama ig lo, itung itung nambah followers kan, ahahaha" canda Ana.

"Gila, udah 5rebu followersnya. Kagem ya lo?" Ana tertawa terbahak bahak. "Kagem? Apaan?" tanya Faiz. "Kakak gemes, ahahahahaha. Lo hobi banget nanya ya kayaknya, ahahahaha. Eh sorry tapi gua emang sereceh ini, ahahaha" jawab Ana. Faiz ikut tertawa dengan perilaku Ana.

Faiz memang orang yang ramah, tapi dia jarang tertawa. Hanya orang orang tertentu yang bisa membuat Faiz tertawa.


Hi, Smart People.
Jangan lupa untuk vote karena itu berguna untukku,
Pada penasaran gak sama kelanjutannya?
Kritik dan saran kalian itu penting banget buat aku, kalo ada kesalahan langsung komen aja yaa ☺️

AranaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang