Piringan hitam kembali berputar alunan musik yang ku benci melantunkan iramanya tanpa jeda, aku benci bagian ini tapi tak bisa kulewati begitu saja mereka masuk kedalam playlist kehidupan, rasa yang tak nyaman dalam diri kini hadir tanpa permisi, anehnya aku harus kembali berperang dalam sepi, mengulang rasa sakit yang sempat kurasa.
Hari itu aku selesai meeting dengan client di caffee baru dekat kantor, tiba-tiba seseorang menghampiriku dengan bar bar dari kejauhan tanpa mengucap salam dan say hi dia memelukku dan mencium pipi kanan kiri ku dengan bringas
"ataaaa ma bebi balabala" sapanya setelah keberingasan yang sudah dia lakukan
"rusak make up gue bencong" mengelap bekas ciuman rian, yupss namanya rian dia temanku dari SMA dia laki laki tapi sedikit kemayu, sedari SMA dia aktif menari dan sekarang dia menjadi salah satu dancer terkemuka.
Rian mahendra itulah namanya salah satu temanku yang paling hedon dalan setiap pertemuan, dia mengunjungiku untuk pamitan karena dia ada job di luar negri sebagai dancer salah satu penyanyi terkenal di indonesia
"ta gue bakalan kangen lo nih kalo dapet job jauh" ucapnya
"gue kan emang ngangenin zeyengs" godaku
"kamprett ini bocah baydewey lo gimana sama si marimo? Dia masih gak ada kabar ?" pertanyaan rian seperti petir di siang bolong, hening sekejap ruangan terasa sempit dadaku sesak tanganku bergetar "kambuh" gumamku
"ta,,, ata heh ata" rian menyadarkan aku dalam lamunan
"eh iya gimana yan? Marimo? Oh dia baik baik aja kek nya" jawabku seenaknya
"ta gue mohon lupain dia lo berhak untuk bahagia dan kasih kesempatan orang lain untuk bahagian lo, ta please gue mohon sebelum gue pergi gue pengen lo sebahagia dulu" rian tiba-tiba membahas hal yang sensitif menurutku
"hahaha lo kenapa si yan, gue baik-baik aja percaya sama gue, udah dong masa lo pamitan sama gue sedih gini" menghampiri rian dan memeluknya, dia memelukku dan berbisik "ta dada lo rata ya" seketika moodku jadwal berubah
"bangsattt lo bencong" aku jambak rambutnya sampai meronta ronta.
Sebelum rian pamit dia bercerita panjang lebar kali tinggi rencana nya sampai sana mengunjungi beberapa tempat sebagai destinasi liburannya dia sekaligus kerja, enak banget ya dia dan dia tetep bersikukuh "kalo gue udah dah sampe pokoknya gue bakalan video call lo terus" dengan semangatnya yang membara kebayang kalo kita hidup di dunia komik mungkin dipunggungnya keluar kobaran api.
----
Setelah semuanya selesai aku bertemu edgar dirumahnya dia bilang sedang malas untuk bertemu diluar.
"nah kalo gini kan enak kita yang masak sendiri, terus makan dan udah gitu bagian kamu yang cuci piring" sambil membawa masakan yang sudah jadi ke meja makan
"haha mentang mentang kamu yang masak ya" jawabku
"hehe becanda nanti cuci piringnya bareng bareng yah jangan cemberut gitu dong" tiba-tiba sebuah cubitan manja mendarat di pipiku
"hih genit ya" mengusap bekas cubitan
Dia hanya tersenyum kegirangan melihat tingkahku yang masih kekanakan.
Setelah makan malam selesai dan acara cuci mencuci pun selesai kami lanjut nonton film di ruang tengah, edgar yang sepertinya sudah merencanakan semuanya kini di atas meja ada banyak cemilan yang kebanyakan cemilan kesukaanku.
Oh iya dibagian ini aku dan edgar sudah resmi pacaran meskipun hatiku masih untuk orang lain, bukan pelampiasan tapu lebih mencoba untuk membuka hati dan melupakan.
"gar" panggilku
"hmm"
"kamu serius sama aku? Apa cuma sekedar pacaran tak berujung? Kalo gitu mendingan kita akhiri sebelum jauh" aku hanya ingin memastikan se pasti pastinya tentang hubungan ini
"ko tiba-tiba bahas ini" dia mengerutnya dahinya
"aku gak mau aja kalo dengan kamu pun Sama-sama tak berujung" jelasku
"kamu ingat saat aku nembak kamu? Aku bilang apa? Aku serius sama kamu ata dan aku sayang kamu" dia memposisikan badannya dan kini kami jadi saling berhadapan dia menggenggam tanganku dengan lembut
"benarkah? Gak mainin di perasaan aku kan? " mencoba memasfikan kembali
" enggak sayang, aku beneran ada niatan serius sama kamu dan aku bener bener sayang sama kamu" jelasnya sambil memegang pipiku
Aku bisa bernafas dengan lega setelah mendengarnya, akhir akhir ini fikiranku sedang tidak baik mungkin mengingat seseorang yang kutunggu menghilang tanpa kabar jejaknya pun tak ada "marimo aku rindu" dadaku mulai sesak kembali.
--------
Marimo aku memanggilnya begitu nama yang selama ini aku tunggu dan aku rindukan, kenalkan nama aslinya adalah Eko Siswanto seorang laki laki bertubuh tinggi dan tampan, usiaku terpaut jauh 9 tahun.
Akhir pekan aku mengajaknya untuk bertemu setelah sekian lama tidak bertemu
"ayo mau ketemuan dimana" tanya nya
"gimana kalo di MC aja? " jawabku
" boleh kebetulan aa goes daerah situ" dia menyetujui
Oh iya dia asal cimahi orang sunda campuran jawa, hobbynya main sepedah dan panggilan untuk seorang laki-laki yang usianya lebih tua panggilannya "aa" dan untuk perempuan "teteh"
"serius cuma ngopi aja? " tanyanya
" iya lagian mau ngobrol santai, aa kalo mau makan pesen aja aku gak laper seriusan deh"
"yaudah aa kebawah dulu ya laper"
"yaudah sana"
"dih ngusir"
"katanya laper"
"haha iya iya ini mau kebawah"
Kami berada di lantai atas MC di area outdoor karena dia seorang perokok aktif.
Dia kembali dengan membawa nampan berisi makanan dengan porsi yang bikin melek mata haha, gimana gak bikim melek dia makan 3 nasi 5 ayam dimaklumi lah dengan postur badan yang tinggi dan habis main sepeda.
"a aku mau beli jam tangan yang harganya mahal ah" aku mencoba membuka obrolan meskipum receh
"ngapain beli jam tangan mahal mahal emangnya bisa bikin ngerubah musim, lagian tetep aja muternya ke kanan angkanya 12 buat apaan si emangnya bisa di keremua? Mendingan beli beras bisa dimakan" omelannya yang panjang
Bukannya aku ngerasa kesel malah pengen ketawa dengan logat khas sunda nya dan ekspresi dia yang lucu
"hah dikeremus emangnya es batu di keremus" tawaku yang memecah mendungnya awan saat itu
Tidak menjawab apapun dan masih melanjutnya makan siangnya, tak lama dia minta izin untuk terlelap sebentar karena cape dan kenyang habis makan.
Duduk dengan tangan yang menyangga kepalanya di atas meja agar tidak terjatuh saat tidur posisi duduk yang senyaman mungkin mampu membuatnya tertidur dengan cepat, aku memotretnya dengan bebas aku melihat raut wajahnya saat tertidur "suatu saat nanti mungkin wajah ini yang pertama aku lihat saat bangun tidur" tiba-tiba lamunanku datang begitu saja.
Setelah beberapa puluh menit kemudian dia terbangun dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan, menurutku tidak ada yang perlu dimaafkan
Perasaanku tiba-tiba berubah menjadi rasa takut kehilangan.
"a foto dulu yu, belum punya loh foto bareng" ajakku tiba-tiba
"ayoo"
Setelah berselfie ria dan obrolan santai selesai aku melihat bayangan punggungnya pergi kian menjauh lagi lagi perasaan takut itu hadir "kumohon jangan pergi jangam tinggalin aku a" dadaku mulai sesak ingin rasanya aku menangis dan bilang itu padanya.
"oh iya a aku mau ke toilet dulu ya, aa tunggu disini"
"yaudah aa tunggu di deoan pi tu utama aja ya"
"okay"
Setelah selesai aku mencuci tangan di wastafel depan kamar mandi, dan betapa terkejutnya aku ternyata diapun ke toilet sebelum masuk ke toilet dia datang menghampiriku dan posisinya sangat dekat aku yang kaget dengan spontan menutup bibirku dan mundur kebelakang, dia yang melihat tingkahku "nanti ajalah" gumamnya yang terdengar
"nanti aja? " maksudnya dia apa ya tiba-tiba pertanyaan itu hadir dikepalaku
Sampai di pintu utama kami berpamitan yang memang kami berdua tidak satu kendaraan, sebelum pergi aku memberinya kaos oblong untuk dia main sepedah atau sekedar untuk santai di rumah.
" hati-hati ya kalo udah sampe WA aa" pintanya
"okey, aa juga hati-hati ya" aku berpamitan untuk pulang, rasa sesak muncul kembali aku tau ini akan berakhir dan penantian tak berujungku berkahir terngiang di benakku "tunggu aa sampe taun depan sampe semuanya selesai baru setelah itu aa bakalan jemput kamu" kurasa itu hanya sebuah penolakan dibumbui sebuah hiburan hati agar tidak terluka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandung awan
Proză scurtăCerita perempuan penyuka kopi dengan anxiety disorder, belajar dari kopi meskipun pahit masih bisa kau nikmati #kopi
