Merindukan Pelangi

16 1 0
                                        

Sudah beberapa bulan ini aku tinggal di kota kecil penuh cerita katanya, aku belum begitu hafal setiap sudut kota ini kota yang mulai padat seperti ibu kota, dari sekian banyak hari yang ku lalui hanya ada satu hari yang menyesakkan dada, bagaimana tidak hari ini adalah hari dimana mendiang Bagas Aditya Wiguna pergi meninggalkan dunia yang fana, hah apalah aku ini untuk melankolis pun tak cocok.

Bagas adalah cinta monyetku saat SMA dulu meski hariku kurang menyenangkan tapi karena nya lah hari-hari ku berwarna selama 3 tahun, bagaimana tidak saat aku merasa bosan di jam pelajaran karena aku sudah belajar sebelumnya ditambah sang guru yang menerangkan dengan suara pelan rasanya aku ingin tidur saja kala itu, bu maaf kan muridmu yang satu ini dulu hehe

"ta,, mau bolos ga? " tiba-tiba pesan WA dari bagas
"kagak deh gue mau belajar dulu biar kek si dodit" balasku cepat, si dodit ini terkenal si kutu buku dikelasku bahkan satu sekolah pun tau

"bu elii,, " suara bagas tiba-tiba terdengar memanggil bu eli yang sedang menerangkan sejarah bagaimana kerajaan majapahit dikalahkan oleh kerajaan islam demak yang dipimpin oleh pati unus
" iya gas ada apa? " jawab bu eli
" bagas ijin bu mau nganter ata ke UKS lambungnya kambuh lagi" bagas berdiri lalu berjalan ke arah bangku ku yang berada di baris ke 3 bangku ke 3 sedangkan bangku bagas baris ke 5 bangku ke 5, yang memang sedari tadi aku tidak fokus belajar dan lebih memilih bermalasan di atas meja sehingga terlihat seperti orang sakit atau tidur setibanya dibelakang bagas memegang kedua bahuku untuk dibopong dan aku kaget sekaget kagetnya
"loh ata kenapa gak bilang? Yaudah sana gas bawa ata ke UKS nanti ada kak lela disana" kata bu eli
"baik bu, ayo ta gue anter ke UKS masih kuat kan? " bagas berbicara ke arahku lalu menekan bahuku sedikit lebih kencang dan aku baru paham apa yang sudah dia lakukan
" ah i,, iiya gas masih ko" aku berdiri pelan pelan dari kursi seakan akan terlihat seperti orang sakit, bagas yang masih memegang bahuku dari belakang mencoba untuk menahan agar tidak jatuh kami berjalan menuju keluar kelas
"ijin ya bu" pamit bagas saat mau melewati bu eli yang berdiri di depan kelas
Bu eli hanya mengangguk dan tersenyum
"ayo ta,,, kuat ya sampe UKS" senyum yang menggelikan
Aku hanya mengangguk pelan dan berjalan tertatih tatih agar terlihat seperti orang sakit, bagas terus membawaku sampai lorong menuju UKS
"hahahhaha duh ta gue sumpah degdegan tadi gila ya gue bisa kaya gini cuma lu yang bisa bikin gue se gila ini" bagas terus ketawa sampai sampai dia nyender ke tembok saking gak bisa nahan tawanya
"woy bambang harusnya yang ngomong gitu itu gue bukan lu" dengan indahnya tanganku menoyor kepalanya
"seriusan gue seneng banget hari ini di masa SMA gue,, gue bisa lakuin hal gila sama orang yang spesial" kata bagas yang perlahan tawanya memudar
"pake karet 2 gak pedes "balasku ketus lalu pergi meninggalkannya
Bagas terus menggodaku sepanjang jalan menuju UKS

*****

Jam istirahat dimulai evan dan salma mulai barbar mengirimku wa dan telfon lebih drama si evan dia mulai dari chat yang isinya kekhawatiran sampai berlebihan ntahlah anak satu itu dingin dingin tapi care banget biasanya tipikal begitu biasa aja gak terlalu over
"ta lo gak apa apa kan? Giman lambung lo masih sakit? Obatnya udah diminum? Kata kak lela gimana? Mesti ke rumah sakit? " pertanyaan evan yang bertubi tubi
" van tenang van gue gak apa apa tadi iseng aja lagi gak bisa ngikut kelas dengan fokus" jelasku pelan
"ALEANDRA HIRATA KEISENGAN LO GAK LUCU" suara evan yang meninggi dan itu membuatku kaget
"eh selaw dong bro kalo ngomong sama cewe" bagas mulai kurang suka dengan sikap evan
"gua gak ada urusan sama lo" tak ayal telunjuk tangannya mulai melayang di depan muka bagas
"woooo santai dong, mau lo apa sekarang" bagas mulai terpancing emosi
"heh kalian berdua mesti ya berantem di UKS" lerai salma "udah dong gak usah diperpanjang lagian si ata baik baik aja kek orang tolol aja lo berdua berantem di UKS ayo ta kita pergi baso mang mamay nungguin" salma yang menarik tanganku untuk pergi menuju kantin

Sepanjang perjalanan menuju kantin fikiranku mulai berkeliaran, dan panic attack mulai barbar menjajah dada sesak rasanya "tenang ta tenang" aku mencoba berdamai dengan sakit. Salma yang menyadari akan hal itu dia memelukku dengan lembut segera, dia mengusap usap punggung ku "all is well ta, ada gue" dia terus melakukannya sampai degup jantungku kembali normal
"salma you are may second fam, really"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 04, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Senandung awan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang