Part 7

48 6 0
                                        

Cuaca pagi ini cukup dingin dedaunan dan jalanan yang masih basah karena sisa guyuran hujan semalam yang cukup deras, membuat semua orang ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dibalik selimut yang tebal nan lembut selembut sikap doi ketika masih dalam tahap PDKT.

Sama hal nya seperti Carmen yang saat ini masih menyembunyikan tubuh mungilnya dibalik selimut yang tebal. Padahal hari ini hari pertama ia resmi menjadi seorang murid SMA. Dering suara alarm tidak membuat Carmen terbangun, karena hanya teriakan Ranti sang bunda yang dapat membangunkan Carmen dari dunia mimpinya.

Terdengar beberapa kali suara ketukan pintu, namun hal itu tidak membuat Carmen terbangun. Membuat seseorang yang berada di balik pintu tersebut mau tidak mau langsung masuk ke dalam kamar.

"Buset dah ini kebo masi aja enak-enakan tidur," ucap Zero yang baru saja masuk kedalam kamar Carmen dan melihat Carmen masih tertidur pulas di balik selimut tebal kesayangannya.

"EH KEBO CEPETAN BANGUN, GUA UDAH MAU BERANGKAT SEKOLAH. KALO MASIH BELOM BANGUN GUA TINGGALIN TAU RASA," teriak Zero karena menurut dia membangunkan Carmen tanpa berteriak itu adalah hal yang sangat sia-sia.

"GUA HITUNG SAMPE 3 KALO MASIH TIDUR GUA BENER-BENER BAKALAN TINGGALIN LU DEK, TE I TI GE A GA TIGA. UDAH BYE GUA TINGGAL LU."

"Aduuuhh  bang apaan si teriak-teriak ganggu mimpi indah gua aja, gara-gara lu gua gagal di tembak nih sama cowo ganteng," ucap Carmen kesal sambil mengerucutkan bibir mungilnya.

"Lu yang apa-apaan dek, udah jam segini masih aja ngebo,"

"Yeu si abangnya so rajin, udah sana ah gua mau lanjut tidur lagi," ucap Carmen sambil membaringkan kembali tubuhnya dan menyelimuti dirinya sendiri.

Namun saat Carmen ingin menyelimuti dirinya, Zero lebih dulu menarik selimut tersebut.

"Sekarang itu udah jam 7 kurang 15 menit ogeb, kalo lu mau telat terusin aja tidurnya," ucap Zero melenggang pergi keluar kamar.

Carmen yang mendengar ucapan Zero langsung berlari secepat kilat menuju kamar mandi, ia hanya membasuh wajah dan menggosok giginya. Karena jika ia mandi itu akan menghabiskan waktu yang cukup lama.

Carmen melihat dirinya di pantulan Cermin yang berukuran cukup besar dan merasa bahwa dirinya sudah rapih, ia memutuskan untuk segera mengejar Zero sebelum ia ditinggalkan.

"ABANG TUNGGUIN ELAH," teriak Carmen sambil sentengah berlari menuruni anak tangga.

"Eh sayang ini sarapannya dibawa, entar makannya di mobil atau ngga di sekolah," ucap Ranti sambil menghentikan Carmen.

"Iya bunda makasih, Carmen berangkat dulu mwaah," ucap Carmen sambil mengecup pipi dan menyalami tangan Ranti dan berlari cepat meninggalkan bundanya. Ranti yang melihat anaknya seperti itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

🍒🍒🍒

Akhirnya Carmen sampai di depan gerbang sekolah nya yang sudah tertutup dengan nafasnya yang ngos ngos an karena Zero menurunkan Carmen di tempat yang cukup jauh dari sekolahannya, membuat Carmen mau tidak mau harus berlari.

"Pak bukain dong," titah Carmen pada satpam sekolah sambil menggebrak gebrakan pagar sekolah nya yang menjulang tinggi.

"Ga bisa neng, kamu udah telat 10 menit," jawab pak satpam

"Yaelah cuman 10 menit doang pak, cuman telat sedikit, ayo dong pak buka," melas Carmen.

"Tidak bisa neng kalo saya buka gerbangnya nanti saya kena tegur kepala sekolah," ucap bapak satpam

Carmen mendengus kesal sambil meniup poni nya.

"Tolong buka pak," titah seorang lelaki yang berada di samping Carmen pada pak satpam.

KULKASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang