Biasanya, mendengar kata belajar saja Seulgi bisa langsung berpura-pura mendadak terkena vertigo. Atau memohon izin ke UKS dengan alasan nyeri menstruasi. Kalau sudah begini, guru matematika Seulgi yang notaben-nya adalah laki-laki, tida bisa berkutik melawan pernyataannya yang dilakukan dengan wajah menggemaskan..
'Aduuh, pak sakit sekali!, kalau saja bapak perempuan pasti sudah tau rasanya!'
Tapi kali ini Sujin dan Ji-ah berontak kesal sebab keduanya dipaksa menemani Seulgi mengunjungi toko buku. Tentu saja keduanya keheranan, sempat bertanya namun hanya dibalas kekehan bodoh Seulgi.
'Mencurigakan!' pikir mereka berdua bersamaan.
Saat di toko buku pun tidak kalah anehnya, Sujin pikir Seulgi akan menghampiri rak berbau soal-soal dengan angka numerik, atau rak berbau hafalan cairan alam yang sekolah menuntut mereka agar menghafal semuanya. Setidaknya begitulah seharusnya tujuan ke toko buku.
Seulgi juga sempat menyuruh mereka berdua melihat-lihat.
"Kalian pergi saja ke tempat yang lain, yang penting jangan tinggalkan aku! Awas lho ya! Nanti kalau sudah selesai aku telpon. Daah" begitu saja, disusul kepergiannya menuju rak tujuan.
Saat satu plastik penuh berisi belanjaan milik Seulgi ditenteng pulang dengan wajah sumringah, pun mereka berdua tidak dapat bertanya buku apa yang dibeli, sebab yang ditanya meraung protes "Jangan kepo! Kalau buku ini tidak berguna nanti akan kukasih kalian" begitu, tapi dia juga tahu diri kok, Seulgi masih mau berbaik hati untuk mentraktir mereka taco gurita milik kedai Mr.John.
Keesokan harinya saat di sekolah, menuju jam terakhir, Sujin melihat Seulgi memakai training olahraga dibalik roknya.
Sebenarnya bukan Sujin saja yang melihat, tapi karena Seulgi tidak menggulungnya dengan benar, tentu saja akhirnya terlihat oleh murid satu kelas. Ada yang bertanya, tapi Seulgi balas dengan mimik meraut gusar
"Aku sedang berdarah! memangnya kalian mau melihat aku berdarah!? Hah!?"
Sujin cuma bisa menutup muka dengan telapak tangan. Malu..
*
"Seulgi ! "
"Ji-ah!"
Ji-ah datang menghampiri kelas Sujin dan Seulgi karena memang sekolah telah usai. Seperti biasa mereka akan selalu pulang bertiga. Tapi Seulgi menolak. Tiba-tiba saja dia beralasan
"Aku mau latihan Ji, maaf yaa, duuh, turnamennya kan 2 minggu lagi, tidak boleh lengah"
Sujin dan Ji-ah pasrah mengangguk. Ya sudah, apa boleh buat. Seulgi ini kebanggaan ekskul karate sekolah mereka, yang sudah melaju sampai babak nasional hingga mencapai juara 2. Tidak bisa dicegah sebab mereka berdua sendiri juga merasa bangga.
Setidaknya masih ada yang bisa dibanggakan dari otaknya yang bodoh, begitu pikir mereka..
Tapi mereka tidak tahu, kalau..
Seulgi berbohong.
Kakinya berjingkrak dengan pelan menenteng sebuah handbag berwarna putih berisi satu setel dobok .
Setelah sampai pada tempat tujuan, lebih tepatnya ruang kelas, dia menggeser pintu tersebut degan kencang kepalang terlalu semangat.
Mimiknya berubah cerah, tidak tahu saja ada yang sedang gemetar ketakutan di bawah meja.
"PARK JIMIN !, AYO BERLATIH DENGANKU!"
Usaha Jimin besembunyi di sana tampaknya percuma saja, karena kalau Seulgi sudah memanggil seperti ini, mau tidak mau, Jimin keluar dengan sendirinya dari balik meja.

KAMU SEDANG MEMBACA
bully and warrior
FanfictionKendati Seulgi mengira Jimin anak yang culun dan seorang pengecut, dirinya terpana saat pemuda itu berkata terima kasih. Im sorry but, this isnt your typical of fanfiction karakter sepenuhnya bukan dari saya.