Seulgi diam-diam menaruh hati pada Jimin yang sedang gagah-gagahnya saat mengenakan dobok. Dada bidang yang sedikit terekspos, dan juga urat lehernya terukir kuat membangkitkan hasrat.
Disaat alam bawah sadarnya sudah berani berpikir lebih jauh, Seulgi tersentak dengan sekelebat bayang-bayang bagaimana rupa otot perut Jimin yang selama ini bersembunyi di balik seragam.
Sadar dirinya baru saja hendak berpikir mesum, Seulgi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.
'Dasar aku..'
Lebih baik sekarang ia pastikan apa Jimin sudah selesai mengenakan Gum Shield yang ia sempat lempar tadi.
"Sudah dipakai?" tanyanya saat Jimin berjalan mendekat. Jimin mengangguk dan bersiap-siap dengan peralatan selanjutnya. Head protector, dan berbagai macam hal seperti itu.
Dirasa sudah selesai semua, Jimin memberikan kode mata pada Seulgi yang dibalas dengan anggukan, lantas dirinya segera bersiap memasuki karpet tanding dan memasang kuda-kuda bertarungnya. Jimin pun melakukan hal serupa.
"Langsung?" Jimin menyela sebentar.
"Kenapa?"
"Kamu tidak mengajariku beberapa gerakan dasar? Masa mau langsung bertarung?"
"Ah iya ya" Seulgi mengangguk-angguk paham, tapi karena ia pikir sudah terlalu banyak menyita waktu, jadinya Jimin hanya disuruh untuk menggerakkan badannya sesuka hati, asal tidak mengarah pada kepala atau organ vital lawan.
"Dasar tidak professional"
"Haish berisik, cepat"
Keduanya saling bergerak mengelilingi masing-masing pihak dengan tetap mempertahankan kuda-kuda mereka. Seulgi fokus menganalisa titik lemah Jimin, yang ia perkirakan ada pada sisi kirinya. Lantas serangan pertama dilancarkan duluan oleh Seulgi, pukulannya mengarah pada perut Jimin dan tanpa memberikan jeda sama sekali, kaki kanannya melesat cepat mengincar leher pria itu.
Jimin yang mendapat serangan brutal dengan intesintas kecepatan tinggi , menjadi sedikit kewalahan dalam menghadapi serangan bertubi-tubi yang beringas tanpa kenal berhenti.
Namun pada dasarnya yang ia yakini, setiap serangan pasti punya celah, dan Seulgi secara tidak sengaja memberikan sedikit jeda untuk menatap garang pada kaki kirinya.
Jimin sontak terburu-buru memundurkan kakinya yang ia duga akan menjadi target serangan berikut.
Ternyata dugaannya benar, sedetik kemudian Seulgi menyerang dengan tumit kanannya .
"Terlalu lama Jim!"
"Hah?"
Seulgi keburu jengah dengan betapa lambannya Jimin dalam merespon atau membalas serangan. Dalam sekali hantaman pada pundak kanannya , Jimin terlempar keluar dari lingkaran batas tanding.
Jimin kalah, dan bukan hal yang mengejutkan,
'setidaknya ini sudah kuperkirakan' pikir Jimin yang terlentang menghadap lampu ruangan.
Seulgi melepas head protectornya kemudian menatap Jimin yang terengah-engah dengan nafas yang kian memberat. Sedetik kemudian ia menghelas nafasnya.
"Lain kali fokus pada mata lawan, aku tau kamu sempat menghindar sekali" Seulgi berjalan mendekat dan merebahkan badannya tepat disamping Jimin.
"Serang dengan membabi buta juga tidak masalah, toh itu juga bagian dari taktik menyerang bukan?"
Jimin menoleh dan tersenyum. Dia mendapati tengkuk bebas Seulgi yang banjir dengan keringat. Dan tangannya bergerak tanpa sadar menyentuh bagian tersebut. Seulgi sedikit berjengit karena leher adalah daerah sensitifnya, dan buru-buru berguling menjauh dari Jimin.
"Ah maaf, lehermu berkeringat banyak dan aku.." Sadar dengan sikapnya barusan, Jimin lantas meminta maaf karena tindakannya yang kurang sopan.
"Umh, iya, tidak apa-apa" Seulgi berdeham meredakan kecanggungan.
Posisinya memang tidak menghadap Jimin saat ini, dikarenakan badannya yang sedang berbalik berlawanan arah, tapi Jimin terlalu sensitif untuk menyadari perubahan warna kemerahan pada tengkuk Seulgi yang sangat putih tersebut.
Diam-diam Jimin bergrogi tidak bersuara.
'duh, kenapa gemas ya?'
Sadar dengan Seulgi yang ternyata salah tingkah, Jimin terkekeh pelan dan menyenderkan kepalanya pada kedua tangan yang dibentakangkan.
Seulgi beranjak bangun dengan niat hendak mengambil minum.
Di benaknya , dan bahkan pada indera perabanya masih tersimpan sensasi 'tergelitik' dari sengatan listrik akibat sentuhan tangan Jimin yang bergerak tanpa sadar. Bibirnya mengulum senyum.
Saat langkahnya semakin dekat dengan bangku latihan, Seulgi mendengar derap kaki yang tergesa-gesa berjalan ke arahnya.
Sebuah lengan tiba-tiba mengikat lehernya dari belakang dengan tenaga besar yang tidak sama sekali Seulgi perkirakan.
And suddenly her body fell and all of her system felt numbed as she touched the floor.
"AH" Seulgi mengeluarkan pekiknya yang sempat tertahan barusan. Emosinya membucah naik ke atas sebab memang menjadi lebih sensitif karena ini adalah hari pertama dia menstruasi.
Tentu saja hal tersebut menjadi pelatuk, orang yang barusan menyerang dari belakang juga ikut tertimpa berat badannya.
Seulgi berjengit kaget saat melihat sosok yang ia tumpangi tersebut.
"Jimin !?"
Sumpah Seulgi tidak menyangka pelakunya adalah Jimin, karena ia kira orang barusan adalah salah satu preman yang acap kali datang- semenjak insiden kantin, untuk mencari pembalasan dendam dengannya.
Sementara sosok Jimin yang barusan bersikap kurang ajar, hanya diam tanpa mengutarakan sepatah kata apapun.
"Jimin..?" Seulgi yang sudah beranjak bangun, memanggil namanya, sebab pria itu sama sekali tidak mengeluarkan suara.
Dia memiringkan kepalanya keheranan. "Ada apa denganm-
"Serangan"
"Huh?"
Jimin mengubah posisinya menjadi duduk sila dan menopang pelipisnya menggunakan sebelah tangan.
"Kau bilang serangan dan itu contohnya"
Entah ada apa yang terjadi, tapi Seulgi berani yakin bahwa atsmosfir dan hawa di sekitar Jimin menjadi sedikit lebih..
mencekam?
Bukan tanpa sebab, hanya saja kali ini giliran Jimin yang tiba-tiba mengintimidasi Seulgi lewat tatapannya.
Dan Seulgi belum tahu bagaimana menghadapinya.
"Aku hanya memberi tahu Kang Seulgi, kalau kumpulan pembuat onar itu kembali menindas, aku tinggal mereka ulang apa yang tadi kulakukan padamu"
Jimin mengelus surai kehitaman Seulgi sebelum dirinya beranjak dan melangkah pergi meninggalkannya.
Dan sama seperti saat itu, saat Seulgi memperhatikan,
bagaimana punggung sempit yang tampak rapuh untuk sebagian orang, seperti menyimpan rahasia dibaliknya,
dan satu hal yang pasti
.
.
Jimin itu berbahaya
entah untuk dirinya atau semua orang.

KAMU SEDANG MEMBACA
bully and warrior
FanfictionKendati Seulgi mengira Jimin anak yang culun dan seorang pengecut, dirinya terpana saat pemuda itu berkata terima kasih. Im sorry but, this isnt your typical of fanfiction karakter sepenuhnya bukan dari saya.