suspect

26 5 3
                                    

""Permisi.."

"Kenapa malu-malu begitu?, geli ah"

"Aish, ini namanya menjaga sikap "

Jimin memiringkan kepalanya tanda tidak paham.

"Aku tinggal sendiri Seulgi"

Tepat setelah itu, Seulgi melepas sepatunya dan beringsut masuk kedalam apartemen kecil milik Park Jimin. Tidak ada yang mencengangkan, tipikal kamar biasa, ruangannya cukup sempit, tapi memang dikhususkan untuk satu orang jadi sepertinya tidak masalah.

Setelah kejadian memalukan , dengan adegan isak tangis penuh drama dan Jimin yang tidak berhenti terpingkal-pingkal, Seulgi diboyong_memaksa Jimin, untuk singgah sementara di rumahnya.

" Ini sudah sore, nanti ayahmu khawatir " sahutnya dengan sedikit cemas, tidak dapat dipastikan entah itu karena Seulgi yang belum pulang atau memang kediamannya yang tidak mau diusik oleh siapapun

"Tidak, ayahku sedang dinas keluar"

Menyerah untuk membujuk, Jimin mengalah dan mengizinkan tanpa syarat.

" Mau makan ?" tukas Jimin membuka kulkas, memastikan ada persediaan bahan pangan yang bisa diolahnya untuk tamu spesial yang satu ini.

"Yaaa, boleh, terima kasih "

"Aku ada sedikit nasi dan beberapa bumbu serta .., uuh, apa ini ? Udang? Sial, tidak ada cemilan sama sekali" terdengar bunyi kulkas yang tertutup beriringan dengan decak frustasi Jimin.

" Tidak masalah, kamu bisa membuat nasi goreng kan? "

Jimin menggeleng pelan dengan tatapan yang mendadak menjadi sendu.

" Lantas biasanya masak apa di rumah ?" Seulgi beranjak bangun dan memeriksa isi kulkas sekali lagi. Jimin di sampingnya mengetuk-ngetuk dagu terlihat berpikir.

" Seadanya, yah sesuatu yang bisa digoreng lalu kumakan"

" Aduuh, sini biar aku yang masak"

"Eh, memang bisa?" Jimin menemukan suatu fakta baru. Sementara Seulgi menoleh padanya dengan tatapan datar.

" Aku perempuan Jiim, ya pasti bisa " dia berujar gemas, yang disambut kekehan oleh Jimin.

" Aku pinjam dapur mu sebentar ya, sudah tidak apa-apa, kubuat yang agak banyak porsinya biar bisa kamu makan sampai besok pagi" tukas Seulgi dengan cepat memotong Jimin yang ingin menyampaikan protes, tersirat raut tidak enak yang Seulgi cepat tanggapi.

*
Kalau ini bukan apartemen Jimin, atau bukan untuk pria itu, sumpah Seulgi tidak akan mau jadi babu mendadak seperti ini. Sudah bagus dibuatkan makanan, Jimin yang sedang di kamar mandi berteriak menyahut dari sana, seenaknya meminta tolong Seulgi untuk mencuci pakaian.

" NANTI SAJA BISA KAN !?"

" TIDAK BISA , DUUH, INI SUDAH SETENGAH JALAN "

Seulgi mendengus kesal. 'apanya !? '

Setahu Seulgi, yang namanya mencuci baju hanya tinggal melempar semua baju kotor ke dalam mesin , detergen, kemudian putar, bilas, keringkan, selanjutnya jemur. Tidak ribet, simpel, apalagi Jimin punya mesinnya, sehingga tidak mengharuskan Seulgi menggunakan cara konvensional.

Lantas segera mengangkut keranjang merah yang ada di pinggir dapur, dan membawanya menuju mesin cuci. Niat hendak langsung melemparkan semua isinya ke dalam mesin itu, urung dilakukan ketika melihat kemeja berwarna putih.

Peraturan saat mencuci baju, pisahkan baju putih dengan yang lain.

Seulgi pernah mencampur baju putih seragamnya dengan kaos ombre cindera mata dari hawaii. Bisa ditebak, saat kemeja putihnya diangkat, warna-warna pelangi sudah menghiasi kemeja putihnya dengan apik.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 13, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

bully and warriorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang