acceptable

37 4 3
                                    


"Aw-aw-aw, pelan-pelan dong" sungut Seulgi kesakitan. Sujin yang sedang duduk disampingnya megobati luka lebam pada pergelangan Seulgi menghela nafasnya lelah.

"Salah sendiri sampai segitunya, jelas kamu perempuan dan mereka berlima semuanya laki-laki, jangan sok jagoan!"

"ADUH!"

Sujin selesai mengoles salep pada tangan Seulgi. Namun dasar iseng, tau sedang sakit begitu makanya sengaja ia tekan kencang-kencang, sampai Seulgi bersungut-sungut dengan raut menggemaskan.

"Katamu mau jadi bodyguard, kalau begini saja mengaduh mana bisa jadi pelindung malaikat kesayangan. Yang namanya malaikat kan pasti banyak yang mengincar" Ji-ah datang dari balik tirai UKS membawa sekantung plastik berisi pesanan mereka berdua.

Sujin tertawa, dan Seulgi semain merungut. Malaikat, itu julukan terbaru Seulgi untuk Jimin, si culun menggemaskan yang menurut Seulgi seperti mochi isi es krim vanilla di tengah jalan. Kecil tidak terlalu menarik perhatian, tapi terancam terlindas mobil setiap saat. Analogi yang aneh..

Seulgi melirik pergelangan tangannya yang membiru akibat cengkraman preman di kantin saat itu. Kuat sekali.., kalau saja jenis kelaminnya laki-laki, sudah pasti akan ia hajar orang yang bernama Sanha itu.Penyebab tangannya menjadi bengkak sekarang.

Tapi kalau dirinya saja sudah separah ini, bagaimana dengan Jimin yang jadi target penindasan harian oleh mereka semua? Seulgi mengeratkan genggamannya, berjanji untuk menjadi lebih kuat lagi.

.

Nyatanya Jimin sadar dengan keberadaan langkah kaki milik orang lain yang menyertai miliknya dari belakang. Hanya saja dia berusaha tenang dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang berbahaya.

Namun semakin lama, ia merasa semakin was-was dan cemas.

'Benarkah..?'

Jimin berhenti melangkah, dia sedang sendirian di jalanan pada sore hari, untuk perempuan jelas ini masalah, tapi Jimin adalah pria. Dengan segudang pengalaman bertarungnya, mungkin bisa ia jadikan panduan untuk melakukan sedikit perlawanan.

"Aku tau ada orang disana"

Geming, tidak ada yang menyahut.

"Apa tujuanmu, keluar dan hadapi aku"

'Tetap masih tidak mau menjawab huh?'. 

Jimin kesal bukan main, dengan langkah yang dibesar-besarkan, dia menghampiri seseorang yang sedang bersembunyi dibalik tembok.

Alangkah terkejutnya dia saat tau siapa yang ada di balik sana.

"KANG SEULGI!?"

Sadar dirinya tertangkap basah, Seulgi tertawa canggung dan berusaha mengalihkan matanya dari Jimin.

"Ha..halo.., k-kebetulan sekali ya kita bertemu di tempat seperti ini.. He he he" ucapnya memilin jari-jari.

'Kebetulan katanya..'

Seulgi mengusap tengkuk, berniat menengadah untuk mengintip sedikit dan langsung bergidik ngeri saat tau Jimin masih memelototinya. Kalau begini , dia harus mengatakan alasan yang sebenarnya agar tidak dikira stalker mesum oleh Jimin.

"A-aku kan bodyguardmu! Berarti aku harus melindungimu 24 jam dong!"

Jimin terpongoh tidak percaya dengn penuturan kelewat berani milik Seulgi.

"Heh, apanya yang bodyguard ? Tidak lihat aku ketakutan setengah mati saat berjalan dari sekolah sampai sini!?"

Seulgi mengerucutkan bibirnya, bersiap untuk menyerang balik.

"Aku berencana mengantarkanmu hanya sampai depan rumah! Habis itu aku akan langsung berbalik pergi! Kenapa? Mau aku awasi terus bahkan saat kau mandi!?"

Jimin tersenyum kesal,alisnya menukik keatas. Melampiaskan amarah dengan mencubit kencang pipi yang tidak ada bedanya dengan adonan tepung di hadapannya.

"Auuungghhh, lhepaaashh" sial, tenaga Jimin untuk mencubit tidak main-main. 'Pasti kesal sekali pikirnya. Seolah-olah pipi Seulgi bisa robek kapan saja karena cubitan mematikan Park Jimin.

"Dengar ya.., aku menghargainya, sangat. Tapi kamu ini perempuan" tangannya beralih fungsi mengelus pipi Seulgi, yang diam-diam mebuat hatinya sedikit berdesir.

"Aku tau kok, kamu kapten klub karate di sekolah kan? Tidak heran semua orang yang menggangguku habis terkapar begitu saja, dasar. Remaja perempuan sepertimu harusnya pergi bersama Sujin dan Ji-ah berbelanja baju dan menghabiskan waktu di cafe atau semacamnya. Memangnya kalau jadi bodyguardku kamu dapat apa ?"

Seulgi diam bergeming, tidak berkata apa-apa. Tetap pada posisi kepalanya yang sedikit mendongak sebab selisih tinggi yang tidak begitu jauh. Menikmati hangat dari tangan Jimin di pipinya.

Lantas menggenggam tangan tersebut yang dimana membuat Jimin sedikit terkejut., dan menghempaskannya dengan pelan ke bawah.

"Entah ya? Mungkin selangkah lebih dekat untuk jadi pacarmu?" jawabnya acuh mengendikkan bahu.

Jimin menghela nafas dengan kasar. Seulgi kepalang terlalu gigih. Tipe wanita ambisius yang susah dijatuhkan. Harus dengan cara apa dia memberitahu?

"Kang Seulgi, sudah tau kan, penggemar-ku ini banyaak sekali. Tidak di sekolah, tidak di rumah. dan aku tidak bisa memberi kompensasi kalau-kalau kamu terluka atau lebih parah lagi."

Seulgi mengernyit bingung

"Memang ada lagi?"

"Trauma mental"

Ada getaran kecil yang membuat Seulgi sedikit bergdidik di sekitar tengkuknya. Jimin tersenyum dan menepuk-nepuk kepalanya.

"Sudah, aku tidak apa-apa. Kalau penindasan di sekolah sudah keterlaluan aku janji akan melapor"

"Sebelum-sebelumnya kemana saja?"

"Terlalu malas meladeni"

Jimin berbalik dan melenggang pergi meninggalkan Seulgi. Punggung yang tampak sempit di mata semua orang itu terkesan rapuh dan ringkih, tapi Seulgi yakin Jimin sebenarnya jauh lebih kuat dari itu.

Padahal niatnya baik, tapi kalau yang bersangkutan sudah menolak apa boleh buat? Seulgi menghela nafas pelan. Berbalik arah menuju rumahnya dan segera menempelkan kartu saat sudah turun dari perjalanan dengan Bus umum.

Jalan setapak menuju rumahnya memang tidak terlalu jauh kalau dilihat dari posisinya saat ini, tapi Seulgi berjalan pelan sekali, mungkin baru 20 menit lagi baru sampai. 

Terlalu banyak yang ia lamunkan dalam pikirannya.

Termasuk memilih antara menjaga Jimin secara terang-terangan, atau menghukum pelaku penindasan Jimin diam-diam.

Dan Seulgi sudah punya lebih dari 1001 cara untuk menghadapinya.   


bully and warriorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang