rumble

37 7 0
                                    

"Kamu serius bilang begitu?"

"Iya, kenapa? Salah kalau perempuan yang menyatakan cinta duluan?"

Sujin tertawa terpingkal-pingkal. Tidak menyangka ada kejadian seperti itu, saat insiden Seulgi menyelamatkan pemuda yang ia kira lemah tapi ternyata begitu menggemaskan saat berterima kasih. Tanpa sungkan-sungkan, langsung ia ajak berpacaran.

Menurutnya, dibanding berpacaran, kalau suatu saat nanti memang akan terjadi, Seulgi lebih cocok disebut bodyguard daripada pacar perempuan.

Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu makan siang tiba.

"Ya ampun, sudah makan siang! Aku pergi dulu ya Sujin" Seulgi beranjak bangun dari kursinya menuju keluar kelas. Sementara Sujin tertawa pelan sembari menyenderkan pelipisnya dengan satu tangan.

"Ada-ada saja.."

....

"Halo, Aku Kang Seulgi, apa Park Jimin ada di sini?" sahut Seulgi di depan pintu sebuah kelas, dan tentu saja mengundang atensi seluruh penghuninya.

Seulgi tersenyum lebar dengan sebuah kotak bento di tangan. Meskipun Jimin tidak  memberitahukan kelasnya, tapi Seulgi dan perangainya, menilik lebih dalam informasi Jimin.

"Ah, Jimin!" tukas Seulgi saat netranya menangkap presensi seseorang yang dicari. Kemudian bergegas masuk tanpa menunggu dipersilahkan yang lain, berlari kecil bak anak-anak menuju Jimin. Tersenyum pongah di depan mejanya kemudian menyahut mengajak makan siang bersama.

"Ayo makan siang bersama!"

Sudah seminggu sejak kejadian pengeroyokan itu, dan Seulgi acap kali datang ke kelas Jimin. Entah bermaksud apa, tapi yang pasti dia selalu datang saat makan siang atau barangkali menyapanya kalau-kalau berpapasan di suatu tempat di sekolah.

Bukannya Jimin tidak mau. Tapi makan siang dengan Kang Seulgi?

"u-uh, oke.., ayo"

............

Disinilah mereka, berdua, ah bukan. Berempat di meja kantin, tambahan dengan Sujin dan Ji-ah yang ikut bergabung dengan Seulgi.

"Jimin, makan yang banyak ya! Apa mau sosisnya lagi?, ini-ini! Ambil saja punyaku." Seulgi menyodorkan sosisnya ke kotak bekal Jimin.

"Seulgi.." Jimin menyahut pelan agar tidak terdengar kedua temannya.

"Iya?"

"Habis ini aku ingin berbicara sebentar, boleh? Berdua saja"

Seulgi mengerjapkan matanya dan mengangguk pelan. Tanpa diduga, Sujin mendengar Jimin dan tiba-tiba bangun dari kursi dengan mengangkat nampan makanannya.

"Tidak perlu nanti, lebih baik sekarang. Aku tinggal ya.., ayo Ji-ah"

"Ah baik"

Tersisa mereka berdua, dan lagi-lagi ini terasa seperti situasi saat di taman minggu lalu.

Jimin menatap Seulgi sebentar kemudian membuka mulutnya untuk mulai berbicara.

"Kang Seulgi, benar?"

"Ya benar"

Jimin menghela nafasnya. Mengumpulkan keberanian untuk segera mengutarakan isi hatinya yang tersimpan selama semingggu ini.

"Begini, aku berterima kasih untuk bantuanmu saat itu. Tapi maaf, kalau pendekatanmu akhir-akhir ini karena pernyataan seminggu yang lalu, aku.. tidak bisa. Maaf"

Dia terdiam untuk beberapa saat. Sama seperti minggu lalu, pembawaanya yang acuh, menyulitkan Jimin untuk dapat membaca ekspresinya.

Seulgi menghela nafasnya, bukan pertanda yang bagus untuk Jimin.

"Sebenarnya bukan karena hal itu juga sih.., tapi karena kamu menduganya demikian, ya apa boleh buat" ucapnya ringan tanpa beban mengendikkan bahu.

Lantas apa Kang Seulgi?

"Dengar, memangnya aku tidak boleh menghabiskan waktu bersama laki-laki menggemaskan hanya karena aku wanita yang cukup bar-bar?"

Seulgi mencondongkan badannya, menyentak Jimin dengan tatapannya yang mengintimidasi, sekali lagi. Sama seperti saat itu.

Tidak ada Seulgi yang tersenyum kekanakan seperti beberapa saat yang lalu. Seulgi yang sekarang dengan sorot mata yang tajam dan seringai kecil cukup kembali membangkitkan rasa takut dan rasa terintimidasi Jimin sekali lagi.

Tanpa disadari, satu bulir peluh mengalir dari belakang kepalanya, membasahi kerah Jimin.

"A-aku.."

"HOI JIMIN!"

Gerombolan remaja tanggung berjenis kelamin laki-laki tiba-tiba menghampiri tempatnya dan Seulgi berada. Salah satu diantara mereka yang berbadan jauh lebih kekar dan tinggi dari Jimin duduk disebelahnya dan merangkul Jimin seperti kawan akrab.

"Siapa wanita di depan mu? Pacar? Wah.., hebat sekali punya pacar yang cantik seperti ini" Dia mengacak-acak rambut Jimin dengan kencang dan kasar, membuatnya mengaduh pelan.

"Tapi punya pacar atau tidak, Jinmen harus tetap setia pada kami, benar tidak?" sahutnya menunduk menatap Jimin.

Jimin diam saja, lebih tidak berminat. Seulgi hanya diam dan memperhatikan dari sebrang, tapi tidak, sampai salah satu dari mereka menarik paksa kerah belakang baju Jimin hingga tersepak dari kursi.

Seulgi membola dan kaget. Tangannya terkepal menahan amarah. Ternyata Jimin juga merasakan penindasan di sekolah, dan kenapa ia baru sadar sekarang!?

Bahkan kepala Jimin dipiting dengan cukup kencang, sampai rintihannya mengundang atensi seluruh penghuni yang ada di kantin.

"Jinmen ayo traktir! Mana pajak jadiannya?"

"Akhhh, tolong lepas.."

Seulgi tidak bisa diam saja. Amarahnya sudah diambang batas, dan siapapun yang melihat wajahnya sekarang bisa tau kalau Seulgi akan murka sebentar lagi.

Sementara itu Sujin dan Ji-ah yang duduk tidak jauh dari tempat Seulgi, sebenarnya mengawasi dan memperhatikan mereka sejak tadi. Bahkan Sujin memperkirakan Seulgi akan mengamuk sebentar lagi.

Sujin tertawa pelan saat Seulgi bangun dari kurisnya dengan raut wajah berapi-api. Apa yang ia duga akan segera terjadi dengan tontonan menyenangkan sebagai bonus tambahan.

Semua tidak menduga Seulgi cukup berani untuk melemparkan semangkuk sup ke kepala preman yang sedang mengikat kepala Jimin dengan kencang.

"Jangan macam-macam dengan Jimin bajingan" sahutnya pelan, namun terselip sedikit rasa kesal yang begitu kentara dalam nadanya.

Jimin sedikit terkejut, kembali mengkhawatirkan kejadian serupa seminggu yang lalu. Dia sudah pernah melihat Seulgi yang murka mengambil aksi, dan jangan sampai terulang kembali.

Pria yang Seulgi lemparkan mangkuk tersebut, melepaskan tautannya dari Jimin, dan menatap Seulgi dengan kesal. Sementara Seulgi yang kemudian berjalan santai menuju ke arahnya.

"Bisa kalian hentikan? itu kekanak-kanakan"

Mereka semua tertawa meremehkan, terkecuali Jimin, Sujin, dan Ji-ah, karena mereka tau sebentar lagi apa yang akan Seulgi lakukan.

Dan benar saja, karena mengacuhkan perkataan Seulgi, seseorang yang mencoba merangkulnya habis dengan sekali pukul tepat pada uluh hati. Kali ini Jimin sudah tidak terlalu terkejut, justru sisa penghuni kantin yang kaget dengan aksi Seulgi barusan.

Tidak sampai situ, satu per satu dari mereka yang mencoba melawan juga tumbang dengan hadiah pukulan di berbagai tempat yang Seulgi berikan.

Mereka semua akhirnya kabur tanpa perlawanan yang cukup berarti bagi Seulgi.

Jimin terkekeh, Seulgi memang luar biasa pikirnya.

"Park Jimin"

Jimin menoleh ke arahnya.

"Aku ubah pernyataanku waktu itu,
















biarkan aku menjadi bodyguardmu"

bully and warriorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang