Kebanyakan dari mereka menghilangkan rasa malunya pada seseorang yang belum makhrom baginya. Padahal malu itu sebagian dari iman.
🌹🌹🌹
Hari menjelang pernikahan datang begitu cepat. Dimana Hizam akan resmi menjadi seorang suami dan Zava menjadi seorang istri.
Ijab qobul terlaksana. Allah memberikan kelancaran kepada kedua insan yang mengikat cintanya dalam kesucian.
Sejak ijab qobul terucap dari bibir pria itu, hati Zava seperti meletup-letup walaupun dia belum mencintai Hizam.
Detik Zava harus mencium punggung tangannya, detik itu juga ia merasa kaku. Tangannya berubah menjadi dingin seperti sifat pria yang ada di depannya.
Tingkah mereka berdua membuat para tamu tertawa. Salah satu diantara mereka menteriaki kedua pengantin.
"Udah halal! Gausah malu-malu."
Pipi kecilnya berubah menjadi merah merona. Akhirnya Zava memberanikan diri untuk mencium punggung tangan suami. Hizam pun membacakan do'a kepada sang istri.
Mereka berdua akhirnya bersanding di pelaminan. Tak bisa di pungkiri jantung Zava masih berdetak kencang, sedangkan Hizam masih mempertahankan wajah datarnya.
Seorang photografer berjalan mendekati mereka berdua.
"Mas, mba kita sesi foto dulu yuk." Hizam menghela nafas panjang.
Mereka berdua berdiri berdiri berdampingan. Posenya masih terlihat kaku, membuat pria yang memfotoinya, nyengir.
"Mempelai prianya coba peluk istrinya sambil cium keningnya."
"Harus seperti itu ya, Mas?" Zava tidak terima. Melakukan adegan tersebut, membuat jantungnya semakin berontak. Bisa-bisa jantung Zava jatuh dan terbang tidak kembali lagi.
"Kalian kan sudah suami istri. Ok hitungan ketiga, harus mesra ciumnya."
Hizam mencoba mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang Zava. Merasa dirinya ingin di peluk, ia memejamkan matanya rapat-rapat hingga kelopak matanya berkerut. Hizam yang menatapnya menaikkan satu alis. Tak lama kemudian bibirnya menempel mengenai keningnya.
Ya Allah, boleh tidak aku terbang sekarang? batin Zava.
Photografer itu mengabadikan adegan tersebut dalam satu jepret. Selanjutnya pria itu menyuruh sesi foto kedua. Mereka berdua harus saling bertatapan dengan posisi masih sama. Hizam memeluk pinggang sang istri.
Aku baru sadar, suamiku sangat tampan, batin Zava.
Lagi-lagi Zava terlena karna fisik wajah Hizam terlihat sempurna. Rahangnya yang kuat, memiliki mata berwarna coklat dengan tatapan yang tajam, bibir yang tipis, serta suaranya yang dalam cenderung ngebass. Ah, rasanya para wanita di luar sana banyak meminta kepadanya untuk dijadikan istri.
Seseorang berjilbab biru langit menyelamatkan Zava dari serangan jantung. Saat berdekatan dengan Hizam.
"Assalamu'alaikum. Ehem..hem..hem. Anget-anget tuh pinggang," celetuk Salwa.
Hizam langsung melepaskan tangannya sedangkan Zava menatap Salwa penuh arti berhenti menggoda.
"Wa'alaikum salam," jawab mereka berdua. "Ciee yang kondangannya sendirian," balas Zava.
Mata Hizam tertuju kepada pria yang mengahmpirinya.
"Eh Yusuf? Kapan dateng?"
Canda tawa kedua perempuan itu terhenti ketika Hizam menyambut kedatangan seorang pria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr Cold ✓
Espiritual[SUDAH TERBIT] ⚠Hati-hati dapet baper dan greget! 📍Hak Cipta Dilindungi oleh Allah Pria berhati dingin kerap dipanggil Hizam menginginkan gadis yang ia kenali sewaktu kecil. Gadis itu masih menetap dihatinya hingga menikah dengan seorang wanita ber...
