#10

81 16 12
                                        

Dear Marco,

Bagiku kau adalah Cahaya
Cahaya yang selalu bersinar indah di kehidupan suram ku selama ini.

Kau.. Orang yang selalu menerima ku apa ada nya, dikala semua orang sangat risih dengan keadaan ku sekarang ini.

Kau.. Orang yang selalu melindungi ku di kala cacian dan hinaan menimpa diriku yang lusuh ini.

Aku terlalu beruntung memilikimu.

Aku benar-benar tak pantas menerima ini semua.

Malam ini, aku memutuskan pergi dari kehidupan mu.

Aku tak mau lagi menimpakan kesialan kepada orang yang aku cintai.

Kamu sudah terlalu sabar menghadapi kehidupan bersamaku.

Maaf janji untuk hidup bersama selamanya saat pernikahan dulu tidak bisa aku penuhi. Kamu berhak hidup tenang dan nyaman tanpaku.

Jangan mencariku lagi, karena aku akan pergi jauh. Terima kasih atas semua nya. Salam untuk Nyai, Raden, dan semua penghuni kost.

Sekian.
Tertanda : Idah.

Entah kenapa ingin sekali Ia kembali membaca tulisan terakhir dari wanita itu. Walaupun setiap huruf dari surat itu terasa terus mencabik hati nya yang sangat terluka.

Surat itu selalu ia simpan di tempat terbaik di kamar nya. Wangi sekali. Tak lupa selalu memberi parfum untuk surat buram itu.

Setelah kepergian orang tua nya, hanya wanita itu yang membuat Ia kembali bangkit untuk bersemangat menjalani kehidupan. Tapi kenapa? Kenapa wanita itu pergi di kala hati nya sudah membaik seperti sedia kala?

"Coo!!"

"Ucoo!"

Panggilan Nyai Suman membuyarkan kenangan lama Uco bersama wanita itu. Dan ia segera turun untuk menemui paman nya.

"Iya Nyai ada apa?"

"Besok kan ulangtahun Restoran mendiang ayah kamu. Jadi Nyai mau malam ini kamu atur pesta untuk besok sore disana. Untuk perlengkapan nya kamu tinggal bilang aja sama koki utama, oke? Nanti Nyai nyusul bareng yang lain dan Raden. Tu anak gak tau kemana malam2 begini"

Uco pun mengangguk dan segera pergi ke Restoran penuh kenangan bersama orangtua dan wanita nya itu.

***

"Jadi sebenarnya apa Raden???" Desak gue pada Raden yang mulai ragu ingin bercerita tentang Uco lebih lanjut.

"Ya karena saya lebih memilih hidup seperti itu Mas Ceyy.. "

DEG!

Suara yang bener-bener gak asing, sontak saja mengaggetkan gua dan Raden. Ia menjawab sendiri pertanyaan gua tentang diri nya. 

"Tak ada alasan bukan untuk hidup sederhana?"  lanjut nya sembari tersenyum.

Entah sejak kapan dia ada duduk di meja bagian tepat di belakang Raden. Gua benar-benar terhanyut dengan cerita tadi sampai gak merhatikan siapa orang berjaket abu-abu yang menggunakan kupluk hitam di kepala nya itu.

"Uco! Sejak kapan kamu duduk disini?" tanya Raden keringat dingin.

"Baru semenit yang lalu Raden!"

Cilok Mang UcoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang