Dateperimen 2: Mission Completed

13.8K 718 43
                                        

DHISTI kira, ia hanya akan bertemu saja dengan teman kencannya tidak di-make over seperti ini. Tapi rencana Viona benar-benar di luar dugaan, Dhisti harus menggunakan make up tebal, rambut palsu dengan model lurus sedikit bergelombang berwarna pirang, tak lupa kontak lensa untuk menanggalkan kacamata Dhisti, dan terakhir dress cantik super seksi dengan warna terang.

Viona benar-benar sudah merencanakan ini semua, sungguh gadis jahat!

Dhisti tidak habis pikir, di mana otak Viona saat membeli dress seksi ini? Kalau Dhisti jadi Viona, ia lebih memilih menyimpan uang lima juta itu untuk modal usahanya dari pada membeli dress yang paling hanya sekali pakai. Lagi pula, mau pergi ke mana Dhisti saat mengenakan dress tersebut? Di bawa pulang ke kampung? Yang ada Dhisti mendapat ceramah dan makian dari bapaknya.

"Sempurna! Cantik banget lo, Dhis." Viona memuji gadis itu dengan wajah yang berseri-seri.

Dasar cewek sadis! Masih saja bisa tersenyum seperti itu di atas penderitaannya.

"Oh iya, pesan gue. Hilangin dulu logat Jawa lo waktu ketemu cowok itu ya!" saran Viona dan Dhisti menangguk paham tanpa menyanggah.

"Oh iya, Vi. Nama cowok itu siapa?"

"Hemp ...." Viona mencoba mengingat-ingat. Ia juga lupa, karena separuh isi kepalanya sedang dipenuhi sang pujaan hatinya. "Oh itu, kalau nggak salah Widhy." Akhirnya gadis itu menjawab.

"Widhy siapa? Profesinya apa?"

"Duh, gue lupa nama lengkapnya. Udah lah nanti 'kan lo bisa tanya langsung. Untuk profesi, kalau nggak salah dia kerja di EO gitu deh."

"Kamu gimana tho, mau kencan tapi buta identitas begitu?"

"Ya dia juga nggak nulis lengkap di profile-nya, mana gue hafal juga semua data pribadi cowok itu. Ini Udah siap 'kan? Ayo gue anter ke tempat janjian!"

"Bentar-bentar, Vi. Ini, aku harus berkarakter kayak gimana? Pakaianku seksi begini lho." Dhisti bingung sembari memperhatikan penampilannya di depan cermin.

Viona senyam-senyum tidak jelas lalu berkata, "Terserah lo mau kayak gimana, tapi cewek nakal boleh juga, Dhis!" bisik Viona tepat di telinga Dhisti. Sontak membuat Dhisti berjengit kaget dengan hal itu.

"Oalah, semprul kamu, Vi. Aku harus ngerayu-rayu dia begitu?" Viona mengangguk yakin. "Nggak mau ah," dumal Dhisti yang kini merasa terjebak dengan keputusannya sendiri.

"Dhis, gue kasih tahu ya. Cowok biasanya ilfil sama cewek agresif dan nakal. Jadi, supaya cowok itu menolak kencan ini, ya lo harus jadi cewek nakal!"

"Memangnya dibicarakan baik-baik ndak bisa tho?"

"Yah Dhis, zaman sekarang cowok susah dipercaya, bilang A padahal B. Nanti bilang B padahal C dan begitu terus sampai Patung Kuda pindah ke kampung lo!" Dhisti mengernyit di tempatnya berdiri, mendengar ocehan Viona. Lagi pula, siapa juga yang berniat memindahkan patung kuda?

"Ini kamu yakin ngorbanin temen kamu demi membatalkan kencan? Kok ya kesannya kamu sadis bener sih, Vi?" Dhisti masih misuh-misuh.

"Jangan begitu dong, Dhis. Gue 'kan sayang sama lo makanya gue minta bantuan lo. Uangnya juga udah lo terima 'kan? Artinya kita udah sepakat dong?" Viona tersenyum puas seraya menaik-turunkan sebelah alisnya.

Tidak ada pilihan lain, nasi sudah menjadi bubur. Uang pun sudah diterima oleh Dhisti. Sekarang saatnya meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa melakukannya. Semoga lelaki yang akan bertemu dengannya ini bisa diajak berdiskusi secara mudah.

DateperimenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang