Distraksi Logika

33 1 0
                                    

/riuh, keruh/

sore itu, aku bertanya pada deru ranting-ranting dipersimpangan jalan
mengapa, mengapa aritmia ini harus pura-pura mati?
tirai-tirai hujan berdistraksi
menderai mata yang sudah berhasil gersang ini
mengalirkan derunya bersama lagu-lagu elegi
lagi dan lagi,
sudah berapa lama harusnya kau sudah lupa tentang semua yang sudah sengaja melupa?

tolong jangan bertanya mengapa,
bila aksara tidak mampu lagi bersuara setidaknya aku ingin memaknai semua bukan dengan logika
ia masih hidup, rasa ini tidak bisa dipadamkan
lantai yang telah retak terkadang masih bisa dibenahi dengan layak
berapa kali harus menahan sesak, berapa kali harus
ah sudahlah, selamat berbahagia

selamat menjadi dirimu, selamat membuang ragaku
sepertiga malam yang mengangkasa seperti yang kau minta, semoga tidak menjelma yang bukan kamu
aku akan pura-pura tidak pernah punya rindu
selamat tinggal untuk sementara waktu
atau selamanya, bila ada pertemuan baik yang lebih dulu menghampiriku
pun jua dirimu;
terimakasih untuk malam-malam penuh kagum atas hati baikmu

teruntuk kamu, yang pergi
lalu kembali dengan seenak hati
semoga selalu bahagia.

Sajak SemenjanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang