6 -

20 3 0
                                        

Warning ⚠
Typo dimana-mana

🎈🎈🎈🎈🎈🎈

Hari ini adalah hari Senin dimana haru yang paling dibenci siswa-siswi karena harus berpanasan di bawah matahari. Tapi hanya satu dari sekian banyak siswa di sekolah itu yang menyukai hari Senin dan menyukai upacara. Katanya, kita harus menghargai pahlawan-pahlawan kita yang sudah bertaruh nyawa untuk Negaranya, karena kalau bukan karena mereka yang menyelamatkan Negara kita, kita semua ini mungkin tidak bisa menikmati betapa indahnya keberagaman Indonesia.

Nata Malikha Pratama, remaja yang menyukai upacara itu tengah tersenyum lebar tanpa beban dibawah teriknya matahari disaat yang lainnya tengah mengeluh kepanasan.

"Nata? lo kok kayaknya seneng banget deh dengan upacara" ucap Tiara disamping Nata.

"Ya terus? gue juga gak tau kenapa" ucap Nata acuh tak acuh.

"Sarap lu" ketus Tiara tapi Nata tidak menggubrisnya.

Upacara telah selesai, dan itu membuat seluruh siswa langsung berlari ke kantin untuk menghilangkan penat. Tapi tidak dengan Nata, dia malahan berjalan santai menuju kelasnya. Sesampainya di kelas dia mengambil botol minumnya lalu meminumnya (yakali dipake mandi) kebiasaan Nata membawa botol minum itu sudah sejak SD, dan itu kemauannya sendiri. Nata bukanlah orang yang boros,melainkan pandai mengatur uang.
Hal tersebut diajarkan oleh Geral sejak Nata masuk bangku SD.

Sifat Nata kadang berubah-rubah menjadi pemarah,pendiam,ceria,pecicilan,dan suka membantah guru. Contohnya saja waktu tabrakkan dengan pak Toni, entah kenapa dia bisa mengatai guru itu di depan istrinya. Tapi sekarang? dia malah menjadi sifat yang baik, dengan mengikuti upacara tanpa mengeluh.

Tapi sekarang sifat Nata berubah lagi, kini dia tengah menatap kosong kedepan entah apa yang ada dipikirannya. Citra yang melihat pun menyenggol lengan Nata tapi Nata tidak bergerak sedikit pun.
"Nat? kok bengong?" Nata masih diam. "Natt? helooooooo" ucap Citra sambil melambaikan tangannya didepan wajah Nata. Tapi Nata tetap diam.
"Ishhh Nataa!!" suara Citra meninggi karena geram pada Nata.

Nata tersentak, tentu saja dia kaget karena suara Citra begitu kuat ditelinganya.
"ha---eeehh ke--kenapa Cit?"

"Ishh, lo tuh yah gue panggil juga gak nyaut-nyaut. kerasukkan lo?" ketus Citra.

"Emang gue ngapain?" tanyanya polos laalu menatap kosong kembali kedepan.

"Dari tadi lo bengongg Nata astagaa! Gue panggilin lo gak nyaut nanti gue teriakin baru sadar"

Nata lagi-lagi tidak membalas ucapan Citra. Karena pikirannya itu sekarang tidak beraturan. Dia masih memikirkan kata-kata yang berputar-putar kemarin saat pulang dari makam orangtuanya.

Tak lama, guru pelajaran Biologi masuk tetapi Nata masih dengan keadaan yang sama. Citra pun dengan cepat menyadarkan Nata dan Nata pun tersadar dari lamunannya lalu fokus belajar.

🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈

Geral dkk sekarang tengah berada di lapangan basket outdoor karena mereka saat ini pelajaran olahraga, mereka berempat duduk di tribun sambil tertawa karena ucapan yang keluar dari Rangga. Mereka tidak mengikuti jam olahraga karena gurunya tidak mengizinkan mereka alasannya, mereka akan latihan full sebentar untuk mengikuti lomba antar sekolah.

"Vin? gue mau nanya" Vanno bersuara ketika mereka yang mendadak hening entah kehabisan topik atau apalah itu.

"Sejak kapan lo mau nanya pake bilang dulu?" ucap Gavin.

"SIMPLE WOMAN"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang