part 1 || Pria Tampan ku

12.1K 360 0
                                    

Ia membuka jendela kamar putranya itu, sinar mentari masuk kedalam kamar, menyinari kegelapan.

"Leon bangun?" Ia mengoyangkan tubuh anaknya dengan pelan. Sang putra menggeliat dan duduk.

"Mandilah, Mamah tunggu di dapur ya?" Ia lalu pergi meninggalkan Anaknya untuk memasak sarapan pagi.

Putranya masuk kedalam kamar mandi, ia melepas semua pakaiannya dan menguyur tubuhnya dengan air dingin yang langsung membuat kesadarannya kembali.

"Wow....dingin se-ka-li." Ia menggigil dan cepat melanjutkan mandinya.

                                ***
Ia membuka dompet miliknya, hanya ada uang sedikit, yang tidak cukup membeli daging. Padahal ia ingin sekali membelikan anaknya daging agar anaknya makan dengan enak. Namun, hanya telur yang bisa anaknya makan.

"Mamah..." Ia menengok kebelakang, putranya telah rapi dan tampan.

"Ayo makan? Nanti keburu dingin." Putranya mengangguk dan langsung makan telur dengan nasi. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Ia gagal menjadi orang tua tunggal bagi putranya. Putranya selalu hidup dengan serba berkecukupan bahkan anaknya selalu makan sayur, ia jarang makan daging. Itu ya g membuat Hana merasa gagal menjadi orang tua karena tidak mampu menuruti semua keinginan Leon.

"Leon mau apa?" Tanyanya, Leon menghentikan makannya dan menatap sang Ibu dengan senyum.

"Ayah, Leon ingin bertemu Ayah, Mah!" Selalu jawaban itu yang Leon katakan. Mau bagaimana ia mempertemukan Leon dengan Ayahnya, ia takut nantinya Ayah kandung Leon sudah mempunyai istri dan anak.

"Iya, nanti Mamah akan mempertemukan Leon dengan Ayah. Makanya Leon harus cepat sembuh ya?" Ucapku memberinya semangat.

"Nah, sekarang minum obatnya lalu kita pergi ke dokter, oke?"

"Oke." Aku tersenyum, Leon memang Anak yang penurut, namun saat sudah menyangkut Ayahnya ia akan menjadi Anak yang pembangkang.

                                ***
"Ibu, sebaiknya Anak anda dibawa ke rumah sakit, karena sudah ketiga kali ini Anak anda berobat namun tidak kunjung membaik." Aku khawatir akan hal ini akhirnya terjadi. Bagaimanapun caranya Leon harus sembuh!!! Karena hanya Leon yang menjadi semangatnya hidup.

"Baiklah Dok."

"Nanti saya akan kasih surat rujukan untuk Anak anda. Anda bisa mengambilnya didepan dan pastikan secepatnya bawa Anak anda ke Rumah sakit." Ucap sang Dokter.

"Baiklah Dok, kalau begitu saya permisi." Aku keluar dari klinik. Aku melihat putraku yang pucat dan kurus karena sudah 2 Minggu ini Leon susah untuk makan.

                                ***

"Kenapa Leon? Ada yang sakit?" Tanyaku saat ia meringis.

"Kepala Leon hiks...sakit Mah!!" Ia menangis, aku diujung ranjang. Aku memijit kepalanya dengan pelan. Semoga saja sakit kepalanya mereda.

"Ayo minum?" Aku membantu Leon minum air putih. Dan menidurkan Leon kembali. Banyak orang sakit yang berada di ruangan ini, karena aku hanya mampu membayar ruangan dikelas 3 jadi ada sekitar 10 orang ya g dirawat di ruangan ini, dan perawatan disini juga lambat tidak seperti kamar lainya. Ya, karena memang semua harus mengeluarkan biaya yang besar jika ingin pelayanan yang baik dan bagus.

Setelah menidurkan Leon, aku keluar untuk mencari makan. Dari kemarin membawa Leon ke rumah sakit ia belum makan sama sekali.

Ia berjalan menuju kantin rumah sakit. Namun tepat didepan matanya tiga orang menghadangnya, membuat ia berhenti melangkah. Jantungnya berdetak dengan cepat.

"Apakah secepat ini? Kenapa? Ia belum siap dengan semua ini? Tolong berilah ia kesempatan untuk bertemu dengan mereka kembali? Tapi tolong jangan sekarang, ya Tuhan?"

"Hana...." Pangil wanita yang hampir memasuki usia setengah abad kepada dirinya.

Ia meneteskan air matanya. Rasanya ingin berlari memeluk mereka satu persatu, namun rasa malu membuatnya tidak berani mendekat kearah mereka.

Wanita paruh baya itu mendekat dan memeluk Hana dengan erat serta meneteskan air matanya bahagianya.

"Mamah...rindu denganmu Nak, kemana saja kamu selama ini? Lihat dirimu sangat kurus sekarang?" Tanya Ibunya panjang lebar. Ia hanya tersenyum dengan menghapus air mata sang Ibu.

"Hana baik-baik saja Mah, tidak perlu khawatirkan Hana."

"Hana minta maaf karena telah mencoreng nama baik keluarga Mamah dan Ayah. Karena Hana keluarga Mamah terkena malu." Aku menangis karena menyesali perbuatanku dulu.

"Dengarkan Ayah?" Tiba-tiba Ayah berada disamping Mamah.

"Seburuk apapun dirimu, kau tetap Anak Ayah. Ayah tentu marah dan kecewa kepada Hana. Namun, Ayah bangga kepada Hana karena, tidak mengugurkan kandungan Hana saat itu dan membesarkan Anak Hana dengan baik. Ayah bangga dengan Hana." Aku memeluk Ayah, sungguh aku sangat malu dengan semua ini. Keluargaku masih mau menerimaku walaupun aku sudah merusak nama baik mereka dan membuat malu mereka.

"Maaf, maafkan Hana, Ayah?" Aku menangis dalam pelukan Ayah. Aku sungguh rindu dengan pembelaan Ayah kepadaku. Ayah melepaskan pelukannya dan berganti dengan Kakakku yang berada di depanku.

"Kau bandel sekali, Kelinci kecil?" Kakak menarik hidungku pelan. Aku meneteskan air mata dan memeluknya dengan erat.

"Jangan pergi lagi? Atau aku akan gila kembali nantinya?" Ucap Kakak di telinggaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Dulu dia adalah orang yang selalu melindunggiku dan menuruti semua permintaanku, aku sangat senang berada disampingnya. Namun, hal yang aku tidak suka adalah dia orang yang kasar dan suka membentak.

"Apakah Anakmu dirawat disini?" Aku berbalik menghadap Mamah dan Ayah.

"Iya, dia mengalami Tipes dan DBD." Ucapku dengan sedih.

"Dimana dia? Mamah ingin melihat Cucu pertama Mamah?" Aku tersenyum dan membawa mereka kedalam ruangan dimana Anakku dirawat.

"Apa kau begitu susah? Hingga hanya mampu menyewa kamar rawat seperti ini?" Sindir Kakak kepadaku. Aku hanya bisa menunduk, Kakak sangat tidak suka dengan keramaian seperti ini.

"Pindahkan keponakkan ku diruangan VVIP, sekarang?" Perawat langsung mengangguk dan membawa  Leon dengan bantuan perawat pria lainya yang mendorong ranjang Leon.

"Kakak tidak perlu berlebi-" ucapan ku terpotong dengan ucapan tajam Kakak kepadaku.

"Dan membiarkan Keponakanku menadapat pelayanan yang kurang dan membuat ia tidak terselamatkan, begitu?" Ucapnya dengan menatap tajam diriku.

"Kau jangan khawatir dengan masalah uang, aku yang akan menanggung semuanya. Aku tahu kau sekarang susah bukan?" Tanyanya merendahkan ku.

"Bukanya lebih baik kau tetap bersamaku dulu? Jadinya Anakmu tidak akan merasa kekurangan, hidupnya akan selalu cukup." Aku tahu Kakak sekarang sedang menyindirku.

Ya, ucapannya memang benar. Jika saja dulu aku tidak kabur dari rumah, pasti Anakku tidak akan hidup susah seperti ini.

Ayah dan Mamah berada didalam ruangan Leon sedangkan aku bersama Kakak berada di depan ruangan.

Aku hanya terus menunduk, mengindari tatapan tajam Kakak disampingku.

"Apa kau masih sama seperti dulu?" Aku terkejut saat Kakak berada tepat disamping wajahku membuat aku hampir terjengkang dibuatnya.

"A-pa yang Kakak katakan? Aku masih sama seperti yang dulu namun bedanya sekarang aku sudah memiliki Anak." Aku tertawa sedangkan Kakak tersenyum simpul.

"Kakak, aku lapar. Bisa Kakak belikan aku makanan?" Pintu kepadanya. Tidak ada jawaban, Jack langsung pergi entah kemana?.

"Huh, sungguh dia masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah darinya. Aku masih sama takut dengan tatapannya hang tajam itu." Aku menghela nafas panjang, akhirnya detak jantungku kembali normal  saat Kakaknya pergi meninggalkannya.

"Aku harap kau tidak menyadarinya nanti?"








14 juli 2019

MY Wife IS MY FAMILY ANGEL ( Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang