Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . . . . Di salah satu lorong kastil milik kerajaan Dong terlihatlah seorang Putri yang tengah diseret oleh para pengawal kerajaan menuju ke ruang sang Raja. Jutaan kata penolakan dari yang lembut sampai kasar pun telah sang Putri lontarkan, tapi keempat pengawal tersebut seakan tuli dan tetap menjalankan perintah raja mereka.
Dan tibalah rombongan tersebut di hadapan pintu ruang sang Raja. Salah satu pengawal pun terlihat berbicara sebentar dengan prajurit penjaga yang berada di depan pintu untuk memberi tahu maksud kedatangan rombongannya.
Dibukalah pintu ruangan sang Raja yang amat sangat di benci oleh sang Putri kita ini dengan perlahan. tetapi tanpa aba-aba sang prajurit melempar sang Putri kedalam ruang dan dapat ia dengar pintu pun langsung terkunci dari luar disertai banyak langkah menjauh.
Sang putri yang merasa direndahkan oleh perlakuan mereka pun langsung berdiri dan mengibas-ngibaskan gaunnya yang ia akui sudah lumayan kotor. Hey! bagaimanapun ia tetap seorang putri kerajaan Qian!
"Ah...... putri tawananku yang cantik"
Tiba- tiba terdengar suara dari ujung ruangan yang bersumber dari sang Raja yang sedang duduk di kursi emas samping kasurnya.
Putri Kun pun menghentikan gerakkannya dan membalikkan badan. Disana, terlihat sang dalang dari pembunuh orang tuanya dan para penghuni istana lainnya. Juga penghancur kerajaan dan rakyat-rakyatnya.
Dilihatnya Raja Shiceng dengan tatapan sengit. Tangannya tanpa sadar mengepal penuh dendam.
"Kemarilah, duduk dipangkuanku" perintah sang Raja. Dan bisa terlihat wajah sang Putri mengeras. Tapi mau tak mau Putri Kun mematuhinya.
Ia tak mau ketiga adiknya dibunuh karena perlawanannya pada sang Raja. Ya itulah ancaman yang diberikan padannya agar ia mematuhi semua perintah sang Raja, ketiga adiknya Hendry, Xiaojun, dan Yangyang. Sunggu licik!
"Tak kusangka jika lebih dilihat kau makin cantik saja. Tak salah aku memilih kerajaan Qian untuk ditakhlukkan" Ucapnya sambil megusap pipi sang Putri yang terpaut umur dua belas tahun lebih muda.
Putri Kun pun hanya bisa menggigit pipi dalamnya untuk menahan agar ia tak bertindak lebih jauh untuk melawan.
"Tak kusangka lelaki bodoh itu bisa membuat anak seindah ini" lanjutnya.
Mendengar sang Ayah yang mulai dihina, tanpa pikir panjang tentang ancaman atau apapun Putri Kun pun berdiri dan menampar Raja Shiceng.
"Kau boleh menghinaku atau pun merendahkanku, tapi jangan sekali-kali kau menghina ayah ataupun keluargaku! Dasar iblis!" Marah Putri Kun dengan nafas terengah-engah dan mata memerah.
Sang Raja pun menyeringahi lalu tertawa pelan. Tetapi tatapan matanya berbanding terbalik dengan tawanya.
Sang Raja pun berdiri dan mendekat ke arah sang Putri. Menatap intens Putri Kun yang jauh lebih pendek darinnya. Sang lawan pun juga membalas tatapan tajam tersebut dengan tatapan benci yang tak kalah mengintimidasi. . . . . . .