Rasanya sudah lama aku nggak mengunjungi tempat itu, jika dihitung tanpa kamu bisa jadi sudah 2 tahun yang lalu.
Toko buku dikotaku dan kota kita sebenarnya sama saja.Aroma kertas yang berasal dari kayu dan kadang berdebu dibeberapa sudut juga sama.
Bedanya, nggak ada kamu yang biasanya berdiri dihadapan novel-novel filsafat yang pada saat itu belum ku mengerti.
Biasanya kamu pasti akan meraih sebuah buku yang plastiknya sudah dibuka lalu membacanya tanpa memperhatikan orang yang berlalu lalang disekitarmu.
Kalau dari dekat keriput disekitar mata yang akan tampak saat kamu sedang tertawa pasti tidak akan terlihat, karena raut wajahmu yang terlalu serius itu.Berbeda dengan aku yang lebih memilih ke tumpukan novel remaja yang bagimu terlalu penuh khayalan.
Selalu bemuara dengan akhir yang bahagia, dan hanya berisikan permasalahan cinta monyet yang berlebihan.
Toko buku selalu menjadi tempat dimana kita biasa berdiskusi singkat sambil mendengarkan lagu-lagu balad yang sedang diputar.
Kupikir setelah bertahun-tahun rasanya sama saja pergi ke toko buku tanpa kamu,
Tapi ternyata ada yang hilang saat aku melihat deretan novel-novel yang dipajang malah bertuliskan namamu.18 Agustus 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA DAN PERGI (SUDAH DITERBITKAN)
General FictionSINOPSIS "Kita harus sering-sering seperti ini" kataku sambil menopangkan dagu. "Seperti apa?" tanyamu penuh jenaka. "Pergi ke tempat yang jauh bersama-sama tanpa direncanakan, naik kereta, lalu menyewa kendaraan di pusat kota, menikmati makanan tra...