Aku, Kania Marissa Putri

253 8 0
                                        

Sebuah sinar menyelip melalui celah di jendela, sinarnya menyilaukan membuat sepasang mata terbuka. Kania mengerjapkan matanya beberapa kali hingga merasa terbiasa dengan sinar yang begitu terang di kamarnya. Matanya melirik kemeja samping tempat tidurnya, kemudia terhenyak karena dia baru sadar akan sesuatu.

“Aku terlambat!” pekiknya karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Kania langsung berdiri dan melangkah cepat ke kamar mandi,  mandi bebek, memakai pakaian dan bergegas ke lantai bawah. Sesampainya di lantai bawah terlihat ayah dan ibu ya sedang sarapan di ruang makan.

“Pagi Pa, Ma” Ucap Kania tergesa-gesa sambil meraih sebuah roti yang sudah teroles selai, kemudian memakannya sesegera mungkin. Setelah selesai melahap sebuah roti makan Kania bergegas meraih tangan orangtuanya untuk berpamitan kemudian dengan langkah cepat menyalakan motor yang biasa ia kendarai jika hendak berpergian.

Kania terlahir dari keluarga yang berkecukupan, bisa jadi lebih setelah ayahnya menjadi manager di sebuah hotel berbintang. Ibunya seorang ibu rumahtangga yang begitu sayang terhadap keluarganya. Kania hidup sederhana dalam kecukupan.

Motor kania melesat cepat di jalan raya. berbelok ke kanan, ke kiri, berhenti di lampu merah dan melaju lagi dengan kecepatan tinggi. Hingga sampai di sebuah gedung besar dengan cat yang di dominasi warna hijau, ditambah tanaman-tanaman yang membuat sekolah tersebut semakin terasa sejuk.

“Untung belum bel,” Kania menghela napas panjang, kemudian menjalankan motornya menuju parkiran sekolah.

Kania melepas helm pink yang menutupi wajahnya, seketika rambut hitam lurus dan panjang itu terulur. Kania mengibaskan rambutnya, hendak merapikannya. Sementara itu murid laki-laki yang melewati Kania akan terus memandangi Kania hingga ia tak mampu lagi melihat Kania karena berbelok menuju kelas.

Kania meletakkan helm diatas motornya. Melihat dirinya sebentar melalui kaca spion, merapikan rambut dan tersenyum. Begitulah kebiasaan Kania setelah memarkir sepeda motornya. Kemudian melangakah dengan anggun menuju kelas.

Sepanjang perjalanan menuju kelas Kania banyak tersenyum, dan banyak menyapa. “Pagi pak Yono,” sapa Kania kepada tukang kebun yang ia lewati sambil melempar senyum.

Pak Yono memberhentikan pekerjaannya ssebentar, menatap Kania kemudian tersenyum. “Pagi juga.”

Kania Marissa Putri, seorang murid di sebuah sekolah swasta yang sederhana, ceria serta murah senyum. Alasan begitu banyak teman yang dimiliki Kania.

Kania sampai di kelasnya, ia duduk di tempat duduknya bagian ke 2 sebelah kanan. Sahabat-sahabatnya berada disamping dan dibelakangnya. Kania menoleh kebelakang dan bergabung bersama sahabat-sahabatnya.

“Kan, gue punya ini” ucap salah seorang sahabat Kania, sambil memamerkan gantungan kunci dengan aksen bunga berwarna pink.

“Aaaa Uliiii,” Kania langsung meraih gantungan yang ada ditangan Uli, dan memandanginya dengan penuh minat.

“Plis deh Kania, itu Cuma gantungan kunci doang kali,” ucap Yossi, dengan nada jengkel melihat ekspresi Kania yang menurutnya begitu, lebay.

“Ini bagus tau,” ucap Kania sambil terus memandangi gantungan tersebut. “warna pink, heeee.”

Kania memiliki 4 orang sahabat di sekolahnya. Uli Rahma, Yossi Adanta, Bagas Pranata, Tiara Dianti. Mereka sahabat yang selalu mengerti Kania, mereka yang memahami perasaan Kania dan mereka tau apa banyak tentang Kania termasuk warna kesukaannya. Pink.

Kania masih memandangi gantungan tersebut, mata coklatnya berbinar-binar, ekspresinya seperti baru saja menemukan berlian yang sangat berharga.

“Kan, lo kenapa suka banget sama pink?” suara itu muncul dari bibir Tiara.

Kania berhenti memandangi gantungan tersebut dan melihat sahabat-sahabatnya sedang memandanginya dengan pandangan yang, Kania tak pahami. Kania menjatuhkan padangannya ke Tiara, menatap ke gantungan yang berada di tangannya sebentar “warna pink itu lucu tau,” Kania mengucapkan kata-kata itu dengan senyum yang lebar.

Beberapa detik kemudian bel berbunyi dan semua bubar kembali ke tempat duduknya masing-masing.

hijrah storyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang