Renjun pikir, waktu itu Jeno bilang dia mau makan ramen, itu gara-gara soal dia salah baca 'ramean' jadi 'ramen'. Renjun kira, Jeno sesimpel itu orangnya.
Tapi sepertinya, kalau melihat ke tempat apa Jeno membawanya, Renjun bisa menarik kesimpulan sebenarnya Jeno ini pada dasarnya memang senang makan masakan Jepang.
"Udah lama nggak makan udon! Akhirnya makan lagi, sama Injun pula!" Jeno dengan wajah senang mengambil duduk di sebelah Renjun setelah dia pergi ke kasir dan memesan. "Kamu serius nggak makan? Aku nggak mau dimintain, lho."
"Bawel. Iya, tenang, aku udah makan kok! Aku nggak bakal minta!"
"Hehe, becanda. Nanti bagi dua juga nggak apa-apa kok, santai!"
Tidak berselang lama, waiter tempat itu membawakan pesanan Jeno. Yakitori udon dan segelas ocha dingin.
Hm. Makin kelihatan saja tadi itu Jeno bohong saat dia bilang kedinginan. Tapi yah, Renjun putuskan untuk tidak berkomentar soal itu. Toh, dirinya juga senang... Digandeng....
Hah! Renjun tanpa sadar berusaha mengingat lagi bagaimana tadi rasanya berjalan sambil dituntun Jeno di depannya. Aneh. Aneh! Rasanya aneh!
Apa karena tadi itu pertama kalinya dia digandeng orang yang bukan orangtuanya? Hm... Tidak juga. Tak jarang Jaemin menggandeng tangannya kalau berfoto atau sedang di tempat ramai seperti tadi, tapi kenapa saat Jeno yang melakukannya, bekas yang ditinggalkan rasanya... Panas?
Oh, iya. Karena di dalam genggaman tangannya tadi ada heatpack ya? Ya, pasti gara-gara itu.
Tapi juga rasanya ada yang lebih. Ada panas yang bukan berasal dari heatpack.
"Wey, jangan bengong."
Renjun menoleh pada Jeno yang sudah akan menghabiskan setengah mangkok udon-nya. Wow, sepertinya dia memang selapar itu. "...aku nggak bengong."
"Jelas-jelas kamu bengong. Nih, makan, daripada bengong-bengong doang, tau-tau nanti laper gara-gara liat aku makan."
Renjun merengut, yang tentu tidak bisa Jeno lihat sepenuhnya. Jeno hanya bisa melihat kening Renjun yang berkerut. Setelah berkali-kali bertemu, Jeno sudah lumayan paham caranya membaca ekspresi Renjun walaupun ditutupi masker.
"Nggak, aku lagi mikir keras. Kalau sambil makan, nanti pikiranku buyar."
Jeno terkekeh. Mikir keras, katanya? Padahal daritadi juga Jeno lihat bagaimana Renjun hanya memain-mainkan tangannya. "Aku beneran becanda kok yang tadi. Pokoknya nanti kalau kamu mau makan, bilang aja. Biar aku pindah meja, baru setelah itu kita bicara."
Renjun menelan ludah. Tangannya terkepal mendengar Jeno bilang akan pindah meja kalau dia bilang dia mau makan.
Huft. Orang ini. Mau sebaik apa dia sebenarnya? Terus-terusan mengikuti mau Renjun yang sebenarnya juga sedang berusaha ia tahan.
"Jen, coba... Coba tuntut lebih dari aku."
"Hm?"
Tadi itu, Renjun bicara saat Jeno sudah kembali fokus menghabiskan mangkok udonnya. Belum sempat Jeno bisa meminta Renjun mengulang, Renjun sudah keburu mengatakan yang lain lagi, "Ini," dia menunjuk gelas berisi ocha milik Jeno. "Bisa refill, kan?"
"...? Bisa? Kenapa?"
Renjun menarik napasnya. "Aku, aku nggak lagi sakit. Aku juga tadi udah mandi, udah sikat gigi...," Katanya, lalu menatap Jeno. "Aku boleh minta ini ya?"
Minta? Minta minumnya? Boleh, boleh banget. Seperti yang tadi sudah Renjun tanya, ocha-nya ini memang bisa refill (kebetulan juga inilah yang jadi alasan utama Jeno memesan ocha saja ketimbang minuman lainnya). Seteguk, dua teguk, atau bahkan sampai tegukan terakhir pun Jeno tidak keberatan. Apalagi kalau Renjun yang minta, walaupun tidak bisa refill juga, Jeno tidak akan melarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] dating app [noren] (chat)
Fanfiction「。。。awalnya cari temen 。。。」 cast: lee jeno, huang renjun, nct sidepairs!!!markmin
![[✓] dating app [noren] (chat)](https://img.wattpad.com/cover/158911256-64-k117953.jpg)