Bab 15

3.7K 443 25
                                        

|A Dandelion Wish [Markhyuck]🌸|
🔎 Original Story From Xi Zhi 🔍
📝 Remake By JisungDevian 📝










































Keesokan harinya, Haechan terserang demam. Suhu tubuhnya yang mencapai 39°C itu membuat seluruh wajahnya memerah seperti apel.

Disaat seperti ini, keuntungan menjadi seorang dokter bagi Haechan adalah dapat membuat resep obat untuk dirinya sendiri. Mark bisa ke toko obat sebentar, membawa pulang dua plastik obat, dan virus demam itu sudah dapat teratasi.

Siang harinya, Mark membuatkan satu porsi bubur untuk Haechan kemudian menyuruhnya menelan beberapa butir obat.

Mark duduk di samping tempat tidur Haechan. Melihat Haechan yang biasanya angkuh itu menjadi sangat lemah dan bermuka kusut membuat Mark tidak bisa menyembunyikan tawanya.

"Kau adalah pria yang tidak memiliki belas kasih"

Haechan mengkerutkan bibirnya. Gayanya yang manja dan lucu itu sangat berlawanan dengan gaya sehari-harinya yang keras.

"Saat kau demam, aku lebih cemas daripada kau. Sekarang kau malah bilang aku tidak punya rasa belas kasih?"

Mark mengulurkan tangannya, mencoba merasakan panas di kening Haechan.

"Orang yang memiliki rasa belas kasih tidak akan tertawa begitu bahagia seperti kau."

"Aku tidak menertawakanmu."

Mark merasa bahwa Haechan sangatlah lucu, tetapi bila Haechan tau dirinya menggunakan kata 'lucu' untuk melukiskannya, pasti ia akan merasa bahwa Mark sedang meremehkannya.

Mark memundurkan kursinya, menarik satu sisi bagian selimut, lalu bersandar di samping Haechan. Kakinya yang besar diletakkan di atas kaki Haechan, lalu ia memeluk bagian atas tubuh Haechan dengan erat, mengunci pergerakan tubuh kekasihnya.

"Tadi pagi aku menelepon ke rumah sakit untuk meminta cuti. Orang yang mengangkat telepon sangat terkejut mendengar Dokter Lee sakit."

"Mereka pikir aku itu mesin?"

Haechan menunduk, meletakkan kepalanya untuk bersandar pada dada bidang Mark. Terkadang perasaan lemah itu tak seburuk yang ia kira.

"Kau adalah bayi yang sehat, tidak pernah jatuh sakit?" tanya Mark sambil mencium rambut Haechan.

"Jatuh sakit? Seingatku tidak pernah."

"Jelas sekali semalam kau diguyur air hujan entah berapa lama."

Mark menghela napas, manarik selimut untuk naik ke dagu Haechan.

"Maaf semalam sudah membuatmu khawatir."

Haechan mengangkat kepalanya, keningnya mengenai rahang tegas milik Mark.

"Mau menceritakannya?"

Haechan tidak menjawab. Mark menundukkan kepalanya mencari bibir kekasihnya itu. Namun, sebelum berhasil menyentuhnya Haechan dengan cepat mendorong dada Mark.

"Tidak boleh, kau bisa tertular."

"Tenang saja, kau adalah medin dan aku adalah pahlawan super. Virus akan sangat sulit berpindah diantara kita."

Sambil berkata begitu, Mark dengan paksa mencium bibir Haechan. Sebuah pagi yang dibuka dengan ciuman hangat. Haechan merasa kepanasan, suhu tubuh Mark terlalu hangat untuk dirinya.

A Dandelion Wish [Markhyuck Ver]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang