Prolog

477K 10.1K 319
                                        

Sore jam tiga, ia sudah berganti dengan eragam pelayan. Menunggu dengan sabar, mobil yang membawa anaknya pulang. Ia meraba dadanya yang berdebar, memikirkan cara untuk mendapatkan perhatian anaknya. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa kembali berkumpul bersama buah hati. Meski berstatus sebagai bibi pengasuh. Ia tak peduli. Kematian Alana menguatkan tekad, untuk menjaga anak yang mereka idamkan dulu. Sepenuh hati, sepenuh jiwa.

Mobil hitam mengkilat memasuki halaman. Nara setengah berlari mendekatinya dan membuka pintu belakang. Matanya menatap wajah anak laki-laki yang terlihat enggan di bangku belakang. Menarik napas panjang dan memasang wajah tersenyum, ia menyapa ramah.

"Selamat datang, Danish."

Di bawah siraman cahaya matahari sore, Nara menatap wajah anaknya yang terlihat tampan. Bisa dikatakan sangat mirip dengan papinya, kecuali pipinya yang sedikit chubby. Ia menunggu dengan sabar meski anak kecil itu tak merespon. Ia masih tetap sabar, hingga Danish keluar dari mobil dan kini berdiri di hadapannya.

"Bibi, aku lapar."

Perkataan Danish seperti menghantam ulu hatinya, ia adalah bibi bukan mama. Ia adalah pelayan di rumah ini, bukan siapa-siapa.

"Yuk, bibi buatin makan."

Nara mengikuti langkah kecil Danish, diam-diam menghapus air mata yang menggenang di ujung pelupuk matanya. Menyadari jika tak semudah itu untuk meraup anaknya dalam pelukan. Dia adalah pelayan, bukan nyonya rumah.


Baca kisah lengkapnya dan mari kita baper bersama ....

ISTRI RAHASIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang