Bab 2

281K 9.6K 305
                                        

Sesuai kesepakatan, Aaron membawa istrinya dan Nara ke vila mereka di puncak. Selama tinggal di sana, Alana menolak dilayani oleh Nara.

"Bersikaplah sebagai Nyonya rumah mulai sekarang. Besok adalah hari pernikahan kalian," ucap Alana tanpa beban. Seakan-akan, pernikahan suaminya dengan perempuan lain tidak mempengaruhi perasaannya.

"Tapi, Nyonya. Apa Anda yakin dengan semua ini?" tanya Nara sekali lagi.

"Iya, aku yakin."

Nara tinggal di vila yang lebih kecil. Disediakan sebuah kamar dengan tempat tidur besar. Ada jendela yang menampakkan pemandangan alam yang luar biasa. Vila itu dilengkapi dapur kecil dan ruang tamu. Sementara mereka tinggal bersama, Alana sering menyuruhnya dan Aaron menghabiskan waktu berdua.

"Sana, berjalan-jalanlah kalian. Jangan terkukung di rumah. Setidaknya, kalian harus saling memahami dan mengakrabkan diri."

Meski enggan, demi menghormati sang istri, Aaron mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kebun teh. Namun sepanjang satu jam mereka bersama, tidak ada sepatah pun perkataan keluar dari laki-laki itu. Sikap diam sang tuan membuat Nara melangkah dengan menunduk, menjaga jarak satu langkah di belakang tuannya. Rencana pernikahan mereka tidak mempengaruhi strata sosial yang membentang di depan mata. Antara tuan dan pelayannya.

***

Upacara pernikahan dilakukan secara sederhana. Secara agama tanpa mendaftarkan ke catatan sipil. Dengan penjaga vila mereka menjadi saksi pernikahan. Saat ucapan 'sah' terdengar, bukan hanya Nara yang menangis, melainkan Alana juga.

Dalam balutan kebaya putih, Nara mendengarkan Aaron mengucapkan janji pernikahan. Setelahnya ia, mencium tangan laki-laki tampan yang kini menjadi suaminya.

Dibanding dirinya, Alana yang terlihat sangat bahagia.

"Terima kasih, Sayang." Nara melihat Alana memeluk Aaron dengan bahagia. Sementara sang tuan, hanya mengangguk tanpa kata.

Sedangkan dia, berdiri gugup dalam balutan kebaya. Tidak yakin jika sudah menjadi istri muda dari Aaron Bramatara.

Malamnya, Nara berdiri di dekat meja rias. Dengan gaun tidur yang dibelikan Alana untuknya. Berbahan sutra hitam yang transparan di bagian depan. Menonjolkan dadanya yang padat dan bulat. Bagian bawah gaun sebatas dengkul. Dengan tali tipis di bahu. Wajahnya memerah saat melihat bayangannya di cermin. Gaun tidur melekat pas di tubuh dan menonjolkan tidak hanya dada tapi juga pinggulnya.

Matanya menerawang memandang malam. Hamparan daun teh di perkebunan seperti hanya berupa kehijauan yang tertutup gulita. Beberapa lampu yang dinyalakan di pinggir jalan, tidak mampu melawan gelap.

Ia mendesah, resah. Merenungi putaran nasib yang membawa begitu banyak perubahan dalam hidup. Dia yang hanya pelayan biasa, kini menjadi istri muda dari seorang jutawan nan tampan. Masih terngiang dalam ingatan, ketika ibunya memberi pesan saat berpamitan.

"Jaga baik-baik selama kamu kerja ikut Nyonya Alana. Jangan membantah dan bertindak gegabah." Rusmi, ibunya sangat menghormati sang nyonya. Begitu ia setuju melakukan pernikahan siri, perempuan itu membayar semua hutang-hutangnya. Bahkan memberi tabungan cukup untuk Rusmi. Agar tidak kekurangan selama Nara tidak di sisi. Bahkan berpamitan dengan sopan, akan membawa Nara pergi untuk waktu yang lama.

Tanpa terasa, sebutir air mata menetes di ujung pelupuk. Jantungnya bertalu-talu, saat jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebentar lagi, sang tuan akan mendatanginya.

Suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Tak lama, sosok Aaron muncul. Keduanya berpandangan dengan Nara berusaha meredakan kegugupan. Tangannya bergerak untuk menutupi dadannya yang terbuka. Sementara Aaron yang terlihat tampan dengan kaos dan celana jin, hanya menatap tanpa kata.

ISTRI RAHASIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang