Meski sudah menikah dengan Nara, tapi Aaron tetap bekerja di Jakarta. Ia pulang ke vila hanya saat akhir pekan. Selama seminggu cuti bulan madu-itu adalah istilah Alana-waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menemani istrinya saat siang. Dan, menghangatkan ranjang Nara kala malam. Jujur diakuinya, ia merasa tersiksa. Merasa sebagai laki-laki paling brengsek di dunia. Tapi, tak kuasa menolak permohonan istrinya.
"Sudah malam, Sayang. Sudah waktunya pergi tidur. Aku Lelah." Itu adalah kata-kata yang diucapkan Alana, tiap kali ia berniat tidur di samping istrinya.
Lagi-lagi, ia tak mampu membendung hasrat pada pesona tubuh Nara. Bagaimana tatapan mata perempuan itu meluruhkan hatinya. Bagaimana sikapnya yang penuh penerimaan membuatnya tak berdaya. Aaron mengutuk diri sendiri, terhimpit di antara dua perempuan.
Satu orang adalah istriku dan satu lagi adalah pelampiasan syahwatku. Rasanya sebagai manusia aku begitu brengsek dan hina.
Meski begitu, ia tak menolak saat Nara melayaninya seperti Alana. Menyiapkan sarapan, menyiapkan baju ganti, dan hal-hal lainnya. Meski ia dan Alana menyuruh Nara memanggil kakak, tetap saja perempuan itu memanggilnya, Tuan. Ia sendiri mencoba menjadi suami yang sesungguhnya, memberi perhatian meski tidak banyak. Mencoba mengajak bicara dari hati ke hati, untuk saling mengakrabkan diri. Meski pada akhirnya, istri keduanya lebih banyak terdiam karena malu.
Satu hal lagi, ia mencoba bersikap adil dalam pemberian hadiah. Jika pulang dari Jakarta ia akan membawa dua barang sama persis untuk Alana dan Nara. Baik berupa perhiasan mau pun hal lain. Ia tak pernah memberikan uang pada istri muda, karena tahu itu adalah wewenang istri pertamanya.
Jika semua orang tahu kalau Alana adalah istrinya, berbeda dengan Nara. Mereka menyimpan rapat-rapat rahasia pernikahan kedua yang ia jalani. Tidak ada seorang pun yang tahu bahkan keluarganya sendiri. Aaron berpikir, suatu saat semua orang akan mengetahui hubungannya dengan Nara. Tapi, untuk saat ini, biarkan tetap menjadi rahasia.
***
Nara bersikap tenang selama tinggal di Vila sebagai istri Aaron. Ia tak pernah lupa akan siapa dia sebenarnya. Ia tetap membereskan kamarnya sendiri dan tetap melayanu kebutuhan Alana sehari-hari.
Sering kali, Alana menolak untuk dilayani dan ia bergeming.
"Kamu bukan lagi pelayanku, biarkan soal obat dan sebagainya diurus orang lain."
"Kamu kakakku, biarkan aku mengurusmu," jawab Nara sambil tertawa. Dalam hatinya benar-benar merasa sayang pada Alana.
Perihal sang tuan atau bisa disebut suaminya, ia tak tahu perasaan apa yang ia punya untuk laki-laki itu. Antara mendamba tapi juga segan. Ia hanya berani mendekat saat mereka sedang berduaan di dalam kamar. Selebihnya, ia akan menjaga jarak.
Pernah suatu malam, setelah sesi bercinta yang panas, Aaron menanyakan apa dia ingin hadiah tertentu. Dengan polos ia menjawab tidak ingin apa-apa.
"Bagaimana kalau pakaian?"
"Tidak, terima kasih Tuan. Pakaian saya sudah banyak dari Kakak."
"Bagaimana dengan barang lain? Apa kamu ingin punya mobil?" tanya Aaron dengan tangan bermain-main di perut Nara yang terlanjang.
Nara melotot sambil menahan geli saat mendengar tawaran Aaron. "Hah, buat apa saya punya mobil. Nyetir aja nggak bisa?"
"Buat pamer ke tetangga barangkali."
Tawa Nara pecah, ia merasa suaminya amat lucu. Satu ciuman panjang membungkam mulutnya, dan keduanya kembali terjebak dalam hasrat tak berkesudahan.
Kabar gembira datang menghampiri mereka, satu bulan setelah pernikahan Aaron dan Nara. Suatu hari, Nara yang biasanya bangun lebih pagi untuk menemani Alana jalan-jalan, tergeletak tak berdaya di atas ranjang. Ia merasa tubuhnya lemah dan terur menerus mual.
KAMU SEDANG MEMBACA
ISTRI RAHASIA
Storie d'AmoreAaron Bramasta, atas dorongan dan restu istrinya yang sedang sakit, menikahi Nara, seorang asisten rumah tangga untuk mendapatkan keturunan. *** Atas persetujuan Alana yang punya penyakit bawaan, Aaron akhirnya setuju menikahi Nara demi mendapatkan...
