Bab 5

204K 8.8K 132
                                        

Kehamilan Nara berjalan sulit. Perempuan itu menolak segala makanan yang masuk ke mulut. Sikapnya juga berubah murung karena kelelahan.

Alana tak habis akal, dia meminta pada Aaron untuk mengambil cuti. Agar lebih banyak waktu menemani Nara.

"Cutilah dua minggu, tinggal bersama kami. Rawatlah Nara, Sayang."

Aaron yang mendengar permintaan istrinya hanya mengangguk tanpa kata. Tangannya bergerak sigap menelepon asisten dan sekretarisnya, memberitahu mereka perihal cuti. Dia menginginkan semua pekerjaan dikirim ke surel dan kalau ada dokumen penting, harus dikirim ke vila.

Meski demikian, Nara menolak usul Alana. Dia bersikeras mengatakan kalau kondisinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Namun, Aaron membantahnya.

"Aku sudah cuti, untuk menemani kalian."

Jawaban Aaron membungkam penyangkalan sang istri muda.

Permasalahan Aaron tidak hanya soal pekerjaan tapi juga keluarganya. Papa dan mamanya menelepon ingin tahu keadaan Alana. Mereka berniat datang ke vila tapi dihalangi olehnya. Timbul kecurigaan pada dua keluarga baik keluarga Alana maupun keluarganya, perihal kepindahan mereka di vila. Oarng-orang itu sempat berasumsi kalau keadaan Alana memburuk, tapi ia berhasil meyakinkan jika istrinya sehat. Hanya butuh udara segar.

"Makanya, mama dari dulu nggak setuju kamu menikahi perempuan pesakitan itu. Kamu masih muda, kaya-raya, apalagi yang kamu harapkan dari dia? Jangankan punya anak, menjaga dirinya sendiri saja tak mampu!"

Lagi-lagi, omelan sang mama hanya didengar tanpa ditanggapi. Ada banyak masalah yang lebih penting dari pada sekadar berbantah dengan orang tua. Ia menghormati orang tuanya dan tidak ingin memperpanjang masalah dengan mereka. Apalagi menyangkut kondisi sang istri. Pernikahannya yang ditentang hingga sampai sekarang, cukup membuatnya tahu diri. Apalagi kalau sampai keluarganya tahu ia menikah lagi demi anak, akan semakin runyam urusan.

Selama masa kehamilan, Nara sedikit kesusahan untuk tidur. Selain muntah juga berkali-kali ingin buang air kecil. Aaron yang melihatnya merasa kuatir. Ia dengan setia menjaga sang istri setiap malam.

"Kita akan panggil dokter besok," ucap Aaron saat mengambil dua buah tisu dan memberikan pada Nara, yang baru saja muntah.

"Untuk apa?" Nara bertanya bingung.

"Meminta obat-obatan atau konsultasi untuk menghilangkan mual."

Saat Nara menegakkan tubuh, Aaron menatapnya dengan kritis. Terlihat tubuh perempuan itu yang makin kurus. Bulir-bulir keringat membasahi dahinya. Dengan sabar, dia mengulurkan tangan untuk membasuh keringat. Bisa dilihat, Nara seperti ingin menolak tapi perempuan itu diam saja. Membiarkan dirinya diurus.

"Hanya muntah, Tuan."

"Tetap saja, banyak cairan keluar. Ayo, kembali ke ranjang." Aaron meraih lengannya dan membaringkannya ke atas ranjang.

"Tuan, sudah saatnya kembali ke kamar Kakak." Nara berucap pelan dari atas ranjang. Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Dan, ia tahu karena menjaganya Aaron sama sekali tidak terlelap.

"Alana mengirim pesan barusan, bertanya keadaanmu. Aku sudah memberitahu dia kalau kamu muntah lagi."

"Pasti dia kuatir."

"Sangat, makanya dia menyuruhku tetap di sini. Mau minum?" Aaron bertanya lembut.

Nara mengangguk. Menatap penuh haru tapi juga merasa kikuk, saat melihat sang tuan yang juga suaminya, melangkah untuk membantunya mengambil air. Biasanya, ia yang melayani bukan seperti sekarang, dilayani. Tubuhnya yang lemah, membuatnya kesulitan bergerak.

"Ini, minumlah." Aaron menyerahkan gelas kristal berisi air. Mengamati istri mudanya yang minum dengan kikuk dan mengembalikan gelas padanya.

"Sudah? Berbaring saja sekarang."

Nara mencoba membaringkan tubuh dan melihat Aaron kembali menyelimutinya. Ia menatap dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa? Ada yang sakit?"

Ia menggeleng. "Tuan, saya kangen ibu."

Aaron terkesiap saat mendengarnya. Ia duduk di samping ranjang dan mengelus lengan Nara. "Aku akan membawamu menengoknya kalau keadaanmu sudah stabil."

"Apa beliau nggak kaget lihat perutku membesar?"

"Ah, ya. Kita pakai video call besok. Sekarang, tidur dan istirahatlah." Jemarinya bergerak untuk menggenggam tangan Nara, dan melihat bagaimana perempuan itu pelan-pelan menutup mata lalu tertidur.

Entah berapa lama mereka saling menggenggam. Setelah yakin Nara tidak akan terbangun, Aaron bangkit dari sisi ranjang. Menarik gorden hingga benar-benar rapat lalu melangkah ke arah pintu. Sesaat ia terkaget saat pintu terbuka dan mendapati Alana berdiri tak jauh dari kamar. Bersandar pada tiang ruang tamu. Terlihat pucat dalam balutan gaun tidur.

Keadaan Nara mulai membaik setelah masa kehamilan melewati tiga bulan. Nafsu makannya meningkat tajam dan tidak lagi muntah-muntah. Di antara semua orang yang antusias dengan kehamilannya adalah Alana. Perempuan itu yang memilih menu makanan untuknya. Membeli bahan-bahan terbaik untuk dimasak. Kesibukannya merawat Nara seperti obat untuknya. Jika dilihat, akhir-akhir ini ia kembali sehat dan tidak terlihat sakit sama sekali.

Masa ngidam Nara pun bisa dibilang mudah. Dia tidak ingin hal aneh-aneh. Hanya ingin makan rujak dan entah kenapa suka sekali memakai kemeja Aaron. Awalnya ia malu-malu bilang pada suaminya, tapi karena ngidam, dengan terpaksa ia meminta.

Ngidamnya yang aneh membuat Alana tertawa. "Bisa jadi anak kita nanti laki-laki dan mirip papanya. Makanya kamu pingin pakai baju suamimu terus."

Nara berpikir, ucapan Alana ada benarnya. Seringkali, ia tak bisa memendam hasrat saat melihat sosok suaminya. Ia berpikir, bisa jadi karena ini bawaan bayi. Tidak biasanya ia begitu memuja Aaron, bukan sekadar ingin memakai kemeja saja.

Saat melihat laki-laki itu datang, adalah kebahagiaan tersendiri untunya. Apalagi, jika sang tuan menemaninya di kamar sambil mengelus perutnya.

"Apa dia di dalam sana nakal?" tanya Aaron sambil mengawasi perut Nara yang membulat.

"Iya, sesekali menendang."

"Apa kamu kesakitan?"

Nara menggeleng. "Tidak Tuan, senang malah."

"Bayi pintar, dan kamu ibu yang hebat," puji Aaron sambil mengecup pipi istrinya.

Nara tersenyum malu, merebahkan kepalanya pada bahu sang tuan. Dalam hati mendesah, jika aroma tubuh suaminya sangat enak untuk dihirup. Rasanya, ia ingin terus berada di sisi Aaron.

"Tuan, bagaimana kalau anak ini berkelamin perempuan?"

Terdengar desah napas dari Aaron sebelum laki-laki itu berucap. "Alana berani bertaruh jika bayi kita adalah anak laki-laki yang sehat."

Dugaan Alana tidak salah. Usia enam bulan kehamilannya, ternyata hasil USG menyatakan anak yang dikandung Nara berkelamin laki-laki. Setelahnya, mereka sibuk mencari nama untuk bayi yang bahkan belum lahir.

"Kita akan mengasuhnya bergantian. Kamu bisa menyusui dan aku yang mengajak bermain," tutur Alana berapi-api.

Nara yang sedang duduk di sofa mengangguk pelan. Melirik ke arah suaminya yang sedang menatap layar ponsel.

"Nama apa yang bagus, ya?" tanya Alana. Kali ini pada suaminya.

"Kita akan cari bersama," jawab Aaron sambil meletakkan ponsel ke atas meja. Matanya menatap Nara yang duduk di seberanganya.

"Nara? Ada usul nama anak?"

Nara menggeleng, menyerahkan sepenuhnya urusan nama pada mereka berdua. Ia hanya mendengarkan dalam diam saat melihat keduanya berbicara soal nama. Dengan lembut, ia mengelus perutnya yang mulai membulat. Merasakan satu kehidupan tumbuh di sana. Rasanya masih tak percaya ia akan punya anak. Dari laki-laki paling tampan dalam hidupnya. Tanpa sadar matanya melirik ke arah Aaron yang kini duduk berdampingan dengan Alana. Mereka berdua terlihat serasi, sama-sama berwajah rupawan dan kaya-raya. Tidak bisa dibandingkan dengannya yang hanya pelayan. Jika bukan karena anak, dia tidak akan pernah merasakan menjadi istri muda dari jutawan. Menjadi bagian dari keluarga Aaron Bramasta.
.
.
.
Tersedia di google playbook

ISTRI RAHASIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang