DI SARANKAN AGAR FOLLOW DULU AUTHORNYA YA KALAU GAK MAU KECEWA 📍📍
Azura super model ternama, memiliki masa lalu buruk tentang kisah cinta. Lalu dalam sepinya hidup Azura, datanglah Devano Mackzie, CEO muda dengan semua kekonyolan yang ada pada dir...
Lampu tidur di apartement mahal milik Azura terlihat berkelip-kelip, memandang bintang di langit London dari jendela besar kamarnya sambil membayangkan kesalahan dimasa lalu membuat Azura lupa membalas pesan Devan setelah dia meminta Devan datang ke Pesta pernikahan sepupunya tercinta Viza.
Azura heran kenapa Banu mudah sekali melupakannya sedangkan dirinya masih sangat susah melupakan Pria itu. Hanya karena dia berpikir dewasa saja dia bisa bertahan melanjutkan hidupnya yang pernah terpuruk karena patah hati. Azura memegang perutnya karena mengingat masa lalu itu, dia memejamkan matanya lalu mencoba untuk tidur. Sebelum tidur dia berdoa semoga saat pesta pernikahan diadakan dia tidak menangis ataupun melakukan hal konyol lainnya.
****
Dan hari itu tiba, hari dimana Viza menikah dan semua keluarga besarnya dan kerabat keluarga mereka berkumpul, Azura bagaikan wanita yang bodoh karena terus diam saat Banu mendatanginya di taman belakang Istana Wieldburgh.
Ya, Azura memang sedang duduk disana menyendiri sambil menantikan kedatangan Devan yang akan menghiburnya. Tapi Banu ternyata mendekatinya sebelum acara ijab kabul pernikahan diadakan. Pria itu masih saja terus terlihat sangat tampan dengan senyuman play boy miliknya.
"Ada apa kau kesini!." Ketus Azura kepada Banu dengan wajah datar nya, dan sebuah tangan terulur dihadapan Azura.
"Aku ingin meminta maaf lagi kepadamu, tolong maafkan aku Azura. Terlebih sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, aku harap hubungan kita membaik." Azura masih memasang wajah dingin dan juteknya, dia membalas uluran tangan itu dengan santai.
"Tidak perlu kau pikirkan, aku juga tidak memikirkan hal itu lagi." Bohong Azura pada dirinya sendiri, sakit yang dirasakan Azura saat ini rasanya ingin meledak.
"Boleh aku memeluk mu?"
"NO!!" Jawab Azura langsung dan Banu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bodoh untuk tidak tahu kalau kau baik-baik saja." Azura tertegun dengan apa yang Banu katakan saat ini. "Malam itu aku marah saat kau tidak mendengarkanku dan saat aku ingin menemuimu, kau sedang mabuk dan masih memakai setelan lingerie sialan itu."
"Aku masih sangat jelas mengingat kalau kau bergelayut manja dipelukan seorang pria yang aku tidak tahu saat itu siapa. Tapi sekarang aku tahu kalau dia adalah Azka__sepupumu yang kabarnya cinta masa kecilmu." Azura tidak menyangka akan hal ini, yang dia pikir adalah Banu mengkhianatinya hanya karena dia tidak mahu mengikuti perkataan Banu untuk berhenti menjadi model.
"Dan malam itu aku juga tahu kau datang ke hotel dimana aku menginap, tapi aku tidak ingin berbohong padamu kalau aku juga menikmati malam bersama wanita lain." Banu terdiam sejenak sebelum melanjutkan lagi kalimatnya. "Saat itu dipikiranku adalah kau wanita yang tidak akan bisa menjaga sebuah komitmen dalam suatu hubungan, dan aku memutuskan mengakhiri semua hal indah yang sudah kita lewati." Setetes airmata Azura mulai jatuh saat dia tahu hal yang sebenarnya. Ternyata karena kebodohannya Banu menganggapnya tidak bisa berkomitmen.
Banu memeluk tubuh Azura tulus, bagaimanapun Azura adalah cinta pertama dihidupnya. Dia pernah mencintai wanita ini setulus hatinya, tapi takdir mengatakan hal lain. "Aku bersumpah saat aku pertama kali melihatmu turun dari pesawat, aku bagai melihat seorang bidadari turun dari langit. Meski kau tahu, wajah jutek mu itu tidak pernah tersenyum sekalipun." Banu tersenyum dan melepaskan pelukannya, dia menangkup wajah Azura yang masih menangis.
"Aku memang bersalah karena menggoreskan luka ini padamu Azura, ternyata kau adalah wanita yang sangat baik. Kau bahkan tidak mengganggu hubunganku dan Viza, malah kau membantu kami." Azura menghapus airmatanya dan mencoba tersenyum.
"Aku harap setelah semua yang ku katakan ini kau bisa dengan ikhlas memaafkanku dan melanjutkan hidup mu tanpa rasa sakit lagi Azura. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Viza, bidadari kedua yang aku temui setelah dirimu." Azura tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Dan dia adalah bidadari terakhir dihidupku." Azura mengangguk tanda dia mengerti.
"Aku mengerti, pergilah ! Aku bisa mengurus diriku sendiri, dan kau tidak perlu mengkhawatirkan ku. Aku tulus mendoakan kau dan Viza bahagia selama-lamanya." Azura menahan airmata yang akan keluar itu, "lagi pula kau salah jika menilai ku tidak menjalani hidupku dengan baik, aku sudah memiliki kekasih."
"Benarkah?"
"Ya," Azura mengangguk. "Akan ku kenalkan saat dia sudah tiba nanti."
"Ah Azka pasti patah hati, padahal ku kira Azka akan bersamamu." Azura menggelengkan kepalanya.
"Pergilah," usir Azura halus pada Banu, karena dia benar-benar ingin menangis saat ini, dan dia tidak mau Banu melihat hal itu.
"Ya, aku akan pergi." Banu mengecup puncak kepala Azura untuk yang terakhir kalinya, dia berdoa semoga Azura juga mendapatkan kebahagiaan sama sepertinya.
Tubuh Banu perlahan hilang dari pandangan Azura, dan dia kembali tertunduk. Menggigit daging pipi dalamnya agar suara tangisnya tidak terdengar oleh siapapun, namun semua sia-sia saat seorang Pria duduk disebelahnya menggantikan posisi Banu.
Azura menatap Pria yang dia harapkan hadir itu, Devan sudah mendengar semuanya dan dia tahu kalau Azura sangat membutuhkan dirinya saat ini. "Menangislah, aku tahu kau perlu menangis." Azura memeluk erat Devan dan menangis dipelukan hangat itu.
Sudah hampir lima belas menit Azura menumpahkan semua rasa sakitnya, dan Devano sekarang tahu siapa Pria masa lalu Azura. Dia tidak bisa menyalahkan Banu karena dari cerita yang dia dengar tadi tentu saja baik Azura dan Banu salah. Mungkin dia juga akan hilang kendali saat melihat wanita yang dia cintai sedang bersama Pria lain dalam kondisi mabuk.
"Azura haruskah aku membawa pergi sekarang dari sini?" Tawar Devan lembut pada Azura.
"Tidak Dev, aku ingin melihat hari bahagia Viza dan juga Banu." Azura menghapus airmatanya dan mencoba menstabilkan napasnya. "Tapi setelah ini tolong bawa aku pergi jauh, mendaki gunung lagi misalnya." Azura tersenyum dan Devan lega. Devan memberikan ciuman dibibir merah Azura membuat Azura ingin memukul kepala Devano, tapi disaat bersamaan dia juga suka hal itu.
"Ayo kita ke tempat diadakannya acara, ijab kabul pasti sebentar lagi dimulai." Ajak Devan tapi Azura menahan. "Tungggu, aku mau membersihkan make up dulu." Devan tertawa begitu juga Azura.
***
Azura melihat senyum kedua insan yang sudah terikat dalam suatu pernikahan yang sakral itu. Viza dan Banu terlihat sangat bahagia, airmatanya kembali jatuh tapi Akira yang berada disebelahnya langsung menepuk pundaknya memberikan semangat kepada Azura. Devan juga yang berada dibarisan depan Azura terus menatap gerak gerik Azura, sungguh wanita yang tegar pikir Devan.
Azura membisikkan sesuatu kepada Akira dan Akira mengangguk mengerti, lalu Devan mengikuti Azura yang meninggalkan pesta itu bersama Devan.
Entah kemana Devan akan membawa Azura, tapi yang Azura tahu Devan berjanji akan membawanya ketempat yang indah.
Tbc ❤
Eakkkkkk mana suara pendukung mereka??.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.