Aku Ingin Hidup Bahagia Bersamanya.

1.3K 172 15
                                        

"Karena tugas utama yang harus dilakukan orang tua adalah: melindungi anaknya."

Sedikit kata-kata yang diucapkan Witora sangat menyentuh. Mungkin bila terdapat orang tua di sekitar Witora saat dia mengatakan itu, mungkin mereka akan setuju dan menganggukan kepala.

Sedikit kata Witora, sudah cukup untuk membuat gadis itu terdiam seribu kata. Cahaya dimata gadis itu bergetar karena terharu.

"Memang benar seperti yang kamu katakan, melindungi karena kasih sayang adalah hal utama bagi seluruh kehidupan. Setiap makhluk hidup memiliki kasih sayang mereka."

Gadis itu berkata setelah terdiam cukup lama. Witora mengalihkan perhatiannya dan melihat gadis ini, tatapan Witora sangat baik, jadi dia tahu bahwa yang dikatakan gadis ini sama sekali tidak bohong.

Seolah-olah mendapatkan persetujuan Witora, ia melanjutkan.

"Kasih sayang mereka itu unik, sangat sulit dipahami oleh mata dan pikiran normal. Salah satunya adalah di depanku. Seekor Serigala buas memberikan kasih sayangnya pada manusia, apakah kau tahu bahwa yang kau lakukan hari ini akan dicatat dalam sebuah kisah?"

Gadis itu tidak berhenti, dan semakin ia berbicara semakin ia menatap Witora dengan tatapan yang sangat tajam. Kadang tatapannya beralih antara Witora dan Rebbeca.

"Kisah dari, Seekor serigala yang melindungi bayi manusia tanpa perbudakan. Di dunia yang kejam dan berbahaya ini, mungkin hanya kamu lah yang rela melakukan itu tanpa menjadi budak hewan manusia."

Witora menggelengkan kepalanya dengan tidak setuju apa yang dikatakan gadis ini.

"Kau salah! Aku adalah ayah dari anak ini! Dan bukan seekor budak. Sebagai seorang ayah, aku akan melindunginya tidak peduli apa yang akan terjadi padaku."

Gadis itu tertegun sebentar, mereka terdiam dan hanya terdengar hembusan angin dan salju yang jatuh sebagai latar belakang.

Setelah sekian lama terdiam, gadis itu tersenyum dan melihat Witora dengan tatapan yang sangat penuh perhatian. Jika tatapannya dulu yang tajam itu seperti menguji, maka tatapan ini adalah tatapan yang diberikan oleh guru ke muridnya yang lulus.

"Ya. Aku salah. Kamu adalah seorang ayah sejati."

Gadis itu kemudian berjalan kearah Witora.

Witora tidak waspada akan tingkah laku gadis itu. Setelah bercakap-cakap sebentar, akhirnya Witora tahu bahwa gadis ini bukanlah orang yang mengancam. Dia lebih suka berdamai dan menikmati segalanya secara perlahan.

Dia tiba di depan Witora, gadis itu mengelus bulu lembut Witora dengan kedua tangannya yang semulus giok. Dia tersenyum pada Witora, bergitu juga Witora, dia tersenyum sambil menahan sakit di perutnya hingga hanya memperlihatkan gigi dan rahangnya yang kokoh.

"Kau hebat hidup sampai saat ini."

Witora berkata.

"Apa maksudmu?"

"Sungguh? Kau tidak tahu hal itu? Jujur saja setiap anak panah yang kutembakan padamu mengandung racun tingkat menengah."

Gadis itu melihat Witora dengan tatapan yang sangat ingin tahu, seperti para ilmuwan yang ingin segera membedah percobaanya.

"Heh? Tunggu! apa yang kamu katakan? Racun?"

"Ya benar!" dia menjawab dengan cepat dan riang.

Witora segera merinding sebentar, dan mulai memfokuskan indranya pada tubuhnya. Tetapi anehnya adalah dia memang merasakan sebuah cairan aneh memasuki tubuhnya melalui luka. Tapi segera setelah cairan aneh itu memasuki tubuhnya. Itu segera diserap sebagian dan diubah menjadi sebuah jaringan saraf baru, dan sebagian lagi dihilangkan menjadi sebuah hal yang benar-benar tidak ada.

Reincarnation Become a Wolf With the SystemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang