Gue mengucek kedua mata gue dan menggeliat ke kanan dan ke kiri, hingga gue menghembuskan nafas sebelum gue membuka mata. Gue bangkit berjalan menuju balkon dan membuka pintunya seketika udara masuk menyapu wajah gue, derum montor terdengar membuat gue mengalihkan pandangan "Altar, baru dari mana?"
Altar membuka helm full facenya menatap gue "Baru nemenin Arkan ambil montor" jawabnya, gue menyapukan pandangan gue mengamati sekitar, hanya ada Altar terus Arkan mana?
"Arkannya mana?"
"Lagi dirumah Jeha, belajar bareng mau olim" gue mengangguk mengerti "Baru bangun ya?" tanya Altar "Iya" jawab gue "Belum mandi kan?"
"Iya, belum"
"Mau ikut gak?" tawar Altar, gue mengerutkan kening gue,bingung. "Ikut kemana?"
"Anak anak ngajak gue futsal"
"Pagi pagi gini?"
"Pagi lu bilang?! Ck, udah siang Allata"
"Masa sih?" gue menoleh kan kepala gue kebelakang melihat jam dinding, pukul setengah dua siang. Gilaaa "iya udah siang" ujar gue cengengesan
"Jadi gimana?" ulang Alltar
"Iya deh ikut"
"Mandi cepet, setelah ini gue kerumah lu"
"Iya!" teriak gue, kemudian gue langsung lari ke kamar mandi buat mandi
Setelah mandi gue turun dengan menggunakan rok putih dan sweater berwarna pink dengan sepatu sneakers putih "MAMA ANAAA" gue sedikit lari dan memeluk nyokap dari belakang "ALLATA KENAPA BARU BANGUN KAMUU" teriak nyokap, seketika gue melepaskan pelukannya dan menutup kedua telinga gue "Aduh ma, gak usah teriak juga" ujar gue
"Lagian siapa suruh kamu bangun siang kayak gini, anak perawan bangun jam segini gimana kata tetangga nanti, pamali Allata, anak perawan bangun jam segini nanti kalau jodohnya jauh gimana?mau?" omel nyokap dengan berkacak pinggang
"Ya jangan dong, gitu amat do'anya. Astagfirulloh ma, gak boleh ngomong gitu. Nanti kalau jodoh Allata jauh Mama Ana gak punya mantu cowo terus Mama Ana gak dapet cucu dari Allata." Seketika mulut gue dapet tabokan dari nyokap dan kemudian pipi gue dicubit keatas, parah banget
"Kamu tuh kalau ngomong ngaco, awas aja ya! kalau kamu gak bawa mantu buat mama, nanti Mama Ana coret kamu dari kartu keluarga, mau?"
"Awww! Aaaa, awww. Sakit Ma, aduhhh iya iya Allata bawa mantu entar, tapi lepasin dulu nanti pipi Allata sakit, astagfirullah " setelah itu nyokap melepaskan tangannya dari pipi gue, gue mengelus pipi gue, sakit bener sumpah. Gue mencebikkan bibir gue sebal "Lagian Allata juga masih sekolah kali, kalau Bang Zoe sama Kak Leo itu baru udah dibahas mantu, lah Allata masih jauh banget"
"Ngomel aja terus, nih makan dulu" ujar ibu menyerahkan sepiring makanan dan kemudian nyokap duduk didepan gue "Lagian kamu mau kemana sih, baru bangun udah wangi gini, jangan jangan kamu gak mandi terus cuma pakai parfum biar dikata udah mandi ya, ayo ngaku" seru nyokap menyelidik. Astagfirulloh, gitu juga mikirnya" YaAllah Ma, Mama tuh harusnya Khusnuzon ke Allata, bukan malah suuzon. Nih ya, dengerin Allata, Allata itu mau di ajak pergi sama Altar" jelas gue
"Kemana?"
"Nemenin dia main futsal" jawab gue, nyokap hanya ber'oh ria "Oiya Ma, Mama Ana pulang jam berapa?" tanya gue
"Setengah enam"
"Loh? Kok setengah enam, baarti kemarin tidur di rumah sakit?"
"Enggak, kemarin itu sebenarnya jam setengah satu Mama udah pulang, tapi karena capek banget Mama milik ke apartemen abang kamu, kan deket tuh sama rumah sakit" jelasnya, gue mengangguk dan memilih membawa piring ke dapur lalu kemudian mencucinya
KAMU SEDANG MEMBACA
ALLATA
Teen FictionIni cerita tentang sebuah pilihan terberat yang akan Allata hadapi Pilihan dari sang semesta, yang akan menentukan masa depannya Dengan bantuan kedua sahabat kampret tersayang, Allata siap menghadapi masa masa tersulit sekalipun Tak perduli apapun r...
