PEDEKATE

171 12 0
                                    

Hallo readers
Jangan lupa ngevote and komennya ya

*SELAMAT MEMBACA*


"Pagi Vano" sapa Ara pada seorang cowo yang sedang memakai earphone ditelinganya tersebut

Vano tak menghiraukannya karna memang tak didengar olehnya, Ara pun mengambil sebelah earphone pada telinga Vano dan memakainya pada telinganya
Vano yang sedang asik mengotak-atik hpnya pun beralih menatap orang yang tiba-tiba duduk disebelahnya

Ara pun kembali tersenyum padanya tapi hanya wajah datar yang didapat nya

"Hai" sapa Ara kembali, ia menahan air matanya, merasa sesak, mungkin seperti inilah rasa cinta bertepuk sebelah tangan yang ia teriaki pada Vano batinnya

Vano pun berdiri dari tempat duduknya menghiraukan senyuman Ara yang semakin menyayat hatinya

"Ntaran aja perginya, lagunya lagi asik" saut Ara kembali dan sekali lagi ia tidak mendapatkan jawaban dari Vano, Vano melepaskan sebelah earphone ditelinganya dan meninggalkan hpnya disana, Ara hanya memandang punggung Vano yang semakin menjauh

Gue akan mulai semuanya dari awal Vano batin Ara

Setibanya Vano dikelas dia teringat mengapa dia meninggalkan hpnya pada Ara agar Ara tetap melanjutkan musik yang ia dengar

Kringg

Bel istirahat pun berbunyi Ryan, dan Arfan langsung keluar menyerbu kantin, lain dengan Vano yang pergi ke rooftop untuk menenangkan dirinya

Seseorang dengan wangi yang sama kembali duduk disebelahnya

"Ini hpnya" saut cewe tersebut sambil meletakkan hp dan sekalian dengan earphone tersebut ditelapak tangan Vano

Ara yang tak mendapatkan jawaban dari Vano malah tersenyum menampakkan sederetan gigi-gigi putihnya pada Vano

"Maafin aku Vano" sautnya kembali merubah posisi duduknya menghadap ke arah Vano

Vano pun masih tak menghiraukannya dan berjalan kebawah meninggalkan Ara sendirian disana
Ara pun kembali meneteskan bulir-bulir air di pipinya menahan suara agar tangisnya tak didengar oleh orang lain

"Saitan pisau yang lo kasih ke dia masih berdarah, tunggu sampai mengering dan kemudian sembuh tapi kita gak yakin kalo luka itu bisa saja meninggalkan jejak" saut seseorang yang baru datang berjalan kearahnya

"Kino?" jawab Ara

"Tapi gue yakin lo bisa ngobatin luka itu sampai menghilangkan jejaknya" sautnya lagi

"Tapi luka itu gara-gara gue No" jawab Ara

"Gue kenal Vano, gue yakin dia masih sayang dan cinta banget sama lo tapi karna kemaren lo sia-siain dia mungkin rasa sayang dan cinta yang seharusnya buat lo itu udah semakin memudar" balas Kino lagi

Saelah bambang nih gue bijak banget deh perasaan batin Kino

Ara hanya menunduk mengangguk mengiyakan kata-kata dari Kino

•••

Setibanya dirumah Ara disambut dengan kedatangan Ferdi papa nya tersebut yang telah lama di Prancis melanjutkan bisnis nya

REVANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang