05

0 3 0
                                    

Selamat membaca

***
Sastra menggelengkan kepala tanda tidak paham setelah mendengar rentetan cerita dari bora yang malah membuatnya pusing. Ternyata ia salah, dari jaman orok pun bora tidak mungkin memberikan apapun secara gratis.

Ia merutuki kebodohannya. Seharusnya ia curiga ketika bora menelpon dengan tergesa dan mengajaknya untuk segera bertemu. Bora bahkan mengancam akan datang kerumahnya jika ia tidak segera datang ke tempat yang telah disepakati.

Niat hati ingin refreshing otak sepertinya gagal. Bahkan saat ini ia harus mendengarkan ocehan bora mengenai sadena anhar. Siapa lagi memangnya yang bisa membuat sahabatnya itu uring-uringan tidak jelas selain bocah songong itu. 

"Jadi kapan gue bisa mulai makan ra?" ucapnya kesal. Bagaimana tidak, bora terus nyerocos tanpa memperdulikan perutnya yang lapar. Walaupun jaminan makan sepuasnya ada di depan mata, namun ia lebih baik harus membayar ketimbang kelaparan seperti saat ini.

"Bentar dulu tra, gue belum kelar nih. Bentar lagi oke" ucapnya seraya mempercepat laju mulutnya yang ngegas tanpa di rem sambil melihat suasana kafe yang mulai memperhatikan mereka berdua.

Lega. Itu yang dapat menggambarkan perasaan bora setelah menyelesaikan curcolannya. Ia tahu, sastra amat kesal padanya. Namun siapa lagi yang dapat ia sogok dengan makanan gratis selain sastra. Bahkan lisa sepupunya selalu menghindar jika bora ingin sharing dengannya. Bora begitu menyedihkan.

"Jangan marah dong tra, kan gue jadi syedih" ucapnya pura-pura sedih seraya memeluk sastra.

Sedangkan sastra cemberut tetap melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.

"Lagian heran, kalo emang suka ya ngapain coba sok-sok jual mahal. Udah tau dena itu songongnya nauzubillah. Pake acara ngambek jalan sendirian. Emang lo siapa? Pacarnya? Huh bahkan gue yakin dia nggak bakal punya pacar sampe lulus nanti. Jamuran baru tau rasa tuh bocah" Ucapnya ngegas. Bora menggeleng seraya bertepuk tangan, ia sangat suka jika sastra sudah seperti ini.

"Fix sekarang juga lo harus cari laki lain ra. Gue udah prihatin banget sama kisah cinta abadi lo ini" katanya seraya mengibaskan tangan kepanasan.

"No no, lo belum pernah ngerasain cinta pandang pertama jadi gini tra" tuturnya dramatis sembari membayangkan wajah tampan dena.

"Tapi ini tuh salah lo di awal ra. Lo cinta mati kan sama dena? Seharusnya lo bilang sejak awal kalo cinta sama dia. Hilangin gengsi lo itu, kejer sekarang juga." bora melotot mendengar ucapan sastra. Cinta? Entahlah. Ia bahkan bingung ini termasuk cinta atau obsesi.

Obrolan mereka terhenti saat bunyi lonceng kafe terdengar, terlihat cindy kakak kelasnya bersama gengnya masuk dengan suara cempreng masing-masing.

"Ra" sapanya, ketika tak sengaja melihat bora.

"Berdua aja?" ucapnya lagi,

"Eh iya kak, tapi ini bentar lagi mau balik juga sih udah sore soalnya" katanya sopan.

Bukannya ia takut dengan kehadiran cindy and the geng. Hanya saja ia risih jika ujung-ujungnya diajak untuk bergabung bersama gengnya. Cindy memang sudah lama mengincar bora dan sastra. Untuk kepentingan gengnya tentunya.

"Tra ayok, katanya ada janji sore ini" tungkasnya sembari melirik sastra.

Paham dengan kode bora, sastra pun langsung berdiri mengambil tas slempangnya "Duluan kak, semua" ucapnya ke arah geng cindy yang dibalas anggukan kompak.

Cindy hanya menggeleng geli, bahkan untuk mengobrol saja mereka enggan. Apalagi diajak untuk bergabung, pikirnya.

-------

"Haha, tadi muka lo kocak asli. Lagian santai aja kali tinggal tolak kalo nggak mau gabung" ucap sastra mengingat wajah bora yang tadi sempat pucat.

Sastra cemberut "Gue itu nggak enak nolak terus tra, kak cindy itu anaknya temen mama"

Alasan. Ungkap sastra dalam hati. Padahal mereka jelas tahu cindy menyukai sadena. Pasti bora tidak nyaman jika harus berdekatan dengannya dengan status menyukai orang yang sama.

Sastra terus membahas kejadian tadi tanpa lelah. Kemudian ia menghentikan tawanya saat mengingat hal yang tak kalah penting.

"Oh iya lo udah janji mau jajanin gue 24 jam nonstop loh ya" ucap sastra sembari nyengir kuda.

Bora menghela nafas panjang. Ia jelas ingat apa yang sudah dijanjikan untuk sastra. Tanpa pikir panjang ia memberikan dompet beserta tasnya kepada sastra lalu naik ke taxi yang ada dipinggir jalan. Ia terlanjur kesal pada sastra, setelah mengejek nya habis-habisan. Kini ia malah menagih janjinya dengan tampang yang sama menjengkelkan. Ia tidak terlalu pusing memikirkan ongkos taxi nya. Biar saja nanti mama tajirnya yang membayar tagihan. Orang kaya memang beda.

Sastra yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan isi otak bora.

"Kayaknya emang lo itu nggak jodoh deh ra sama dena, buktinya sekarang malah gue yang ngeliat pangeran songong lo itu" ucapnya cengengesan pada dompet dan tas bora. Sepertinya ia mulai sama gesreknya dengan sahabatnya.

Sedangkan dena sebenarnya sudah melihat dua sejoli itu sejak tadi. Keributan yang mereka buat mau tidak mau memancing rasa penasaran orang-orang termasuk dirinya yang sedang membeli nasi padang.

Ia tersenyum kecil, sejak dulu bora memang terkenal manja dan pemarah. Kadang ia heran dengan teman bora yang tadi sempat berbicara sendiri. Sepertinya ia sama anehnya dengan bora. Sehingga betah bersahabat segitu lama mengingat tingkah aneh dan kekanakan bora yang semakin meningkat.

****

Destiny, MaybeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang