Perut Jaemin terus membuncit. Sedangkan Jeno terus menerus memukuli Jaemin. Yeah, setelah dua bulan berlalu, kehamilan Jaemin yang awalnya tak pernah diinginkan kini harus ia terima. Jeno adalah keturunan bangsawan, werewolf dari klan Seo sangat menghormati keluarganya. Dan sialnya, ia harus bertanggungjawab pada kehamilan keturunan Jung, rival keluarga Seo. Pertama kalinya dalam sejarah, Jeno dan Jaemin keluar dari jalur dan peraturan. Jeno tidak mungkin lari dari kenyataan. Jaemin pula terpaksa menerima kenyataan.
"Berhenti merengek atau kau ku lempar ke lantai bawah!" Teriakan Jeno menggema di penjuru ruangan. Jaemin hanya bisa menangis, dan terus menangis. Ada yang tidak biasa dari kehamilannya. Ia mengalami heat dan pusat tubuhnya mengeluarkan cairan dalam jumlah yang banyak. Tubuhnya lemas.
"T-tapi... Aku... Tidak kuat Jen..." Celana tidur dan kasurnya sudah basah kuyup. Wajahnya memerah disertai keringat dingin. Sekujur tubuhnya terasa sakit, ditambah dengan pukulan dari Jeno, membuatnya ingin mati saja.
"Gugurkan saja kalau begitu! Kepalaku mau pecah mendengar tangisanmu sejak kemarin!" Jeno beranjak ke dapur, mencari benda yang bisa membuat janin di perut Jaemin kehilangan hidup. Tepat saat itu, Jisung masuk ke dalam rumahnya. Berniat ingin menjenguk kakaknya, ia malah diperlihatkan kakak iparnya sedang membawa pisau ke dalam kamarnya. Ia berlari secepatnya untuk menghentikan aksi tersebut.
Jisung mendapatkan tangan Jeno yang sedang memegang pisau, lalu ia pelintir ke arah belakang. Melihat Jaemin yang babak belur dan sembab, emosi Jisung memuncak.
"Bedebah! Ubahlah sikapmu atau akan ku beberkan ke ayahmu!" Jisung mengambil pisau dari tangan Jeno, lalu mengacungkannya ke wajah Jeno. Jeno malah tertawa sinis.
"Dalam hal mencuci tangan, akulah yang paling bersih. Pertanyaannya, mereka akan lebih percaya pada anaknya, atau adik menantunya yang sakit mental?" Emosi Jisung meluap, ia kalap dan menusukkan pisau ke perut Jeno hingga banyak darah yang muncrat sampai ke wajahnya. Jeno tumbang di lantai dan darah yang terus bercucuran.
"Jeno!" Setelah teriakan kecil itu keluar dari mulut Jaemin, ia langsung tak sadarkan diri. Pintu terbuka dan menampilkan sosok ayahnya.
"Dasar bocah sialan! Apa yang kau lakukan pada anakku dan menantuku, bodoh!? Akan ku laporkan kau ke polisi! Biarlah kau mati membusuk di penjara!"
Jisung tak tau lagi harus memanjatkan doa kepada siapa. Ia rasa Tuhan lelah mendengarkan doa dan tangisannya setiap malam, sehingga tak ada satu pun yang dikabulkan.
---
"Hidup adalah mati. Kau akan terbunuh oleh waktu dan harapan yang kau agung-agungkan sendiri. Hidup adalah penyesalan. Dan mati adalah penyesalan."
KAMU SEDANG MEMBACA
✔ Good Liar
Short StoryJisung sudah terbiasa hidup sebagai angin, tak teranggap padahal ada. Jisung itu hidup, namun seperti bolak-balik di depan pintu kematian. Dan ini cerita Jisung sebelum nafas terakhirnya hilang. by. jaeminister
