Tuan Jung tidak benar-benar memenjarakan Jisung di sel. Ia membuat selnya sendiri di kamar lama anak itu. Kalau kalian lupa, Jisung sudah tidak tinggal di rumah keluarga Jung sejak lima tahun lalu. Kamar lama Jisung yang sebelumnya penuh debu dan kotoran itu sudah dibersihkan. Terlihat sudah diperbaiki.
"Aku tidak ingin mengotori nama keluarga kita karena menjerumuskanmu ke penjara. Kakakmu dan kakak iparmu selamat. Kau harusnya bersyukur karena aku tidak perlu membunuhmu."
Kata-kata Tuan Jung terus terngiang-ngiang di dalam kepala Jisung. Tak hanya satu, banyak kalimat Tuan Jung lainnya yang berseliweran dalam pikirannya.
"Anak pembawa sial. Harusnya kamu sudah ku bunuh sejak kecil."
"Kalau saja kamu tidak lahir, pasti istriku sakitnya tidak separah ini."
"Aku berharap penyakitnya Jaemin bisa dipindahkan ke tubuhmu, biar kamu yang cepat mati."
Jisung berlari ke ujung ruangan sambil berteriak, lalu membenturkan kepalanya dengan keras hingga berdarah. Ia merogoh kantongnya untuk mengambil tube kecil berisi obat dan menelan beberapa butir obat itu. Ia kembali tenang, sambil perlahan tubuhnya melemas.
"Gejala skizofrenia paranoid, sudah kamu alami sejak bulan kemarin. Harusnya kau datang lebih awal. Tapi aku bersyukur kau masih bisa tertolong. Kau kuat, Jisung. Makanlah obatmu dengan teratur."
Jisung mendudukkan tubuhnya ke karpet tipis di bawah kakinya. Ia kira ia cuma mengalami depresi ringan, ternyata lebih buruk dari itu. Tidak ada yang bisa mengerti dirinya, selain Jaemin dan dr. Kim.
Omong-omong soal dr. Kim, dia adalah psikiater yang menangani Jisung sejak Jisung pertama kali merasakan stress. Selama empat tahun mengenal dr. Kim, Jisung sudah menganggapnya seperti ayahnya sendiri.
Jisung yang lemas mulai menyandarkan dirinya ke dinding. Netranya memburam dan yang ia lihat terakhir hanya seseorang yang membuka pintu.
---
"Ibu, jangan khawatir ya? Jisung akan baik-baik saja. Sesekali aku akan datang kemari untuk melihat keadaan Jisung. Jadi ibu fokus saja dengan pengobatan ibu. Kalau ibu sembuh, aku juga bisa cepat sembuh." ucap lelaki cantik bersurai pink sambil mengusap lembut tangan ibunya. Sang ibu yang awalnya terlihat gelisah, sedetik kemudian menampilkan senyumnya yang menambah kesan cantik dari wajah pucatnya. "Bayi kecil di perutku ini sebentar lagi lahir bu, sebentar lagi ibu akan jadi nenek..."
Sang ibu, tersenyum lebih lebar. Tangannya bergerak menuju perut buncit anaknya, lalu mengusapnya pelan. Satu tetes air mengalir dr pelupuk matanya.
"Bayi ini sehat, bu. Ini berkat Jeno yang selalu menjagaku. Dokter pun bilang, kemungkinan bayi ini menuruni penyakitku pun terbilang kecil. Jadi, cepat sembuh ya ibu..."
Mereka berpelukan. Suara tangis haru bersahutan. Yang satu fakta, yang lainnya menutup fakta. Sang ibu mempercayai kalimat sang anak. Sedangkan sang anak menutupi fakta bahwa suaminya selalu berbuat kasar terhadapnya bahkan berselingkuh di depan matanya sendiri.
-----
"Aku takut mati, tapi aku jauh lebih takut pada hidupku sendiri."
-----
KAMU SEDANG MEMBACA
✔ Good Liar
Short StoryJisung sudah terbiasa hidup sebagai angin, tak teranggap padahal ada. Jisung itu hidup, namun seperti bolak-balik di depan pintu kematian. Dan ini cerita Jisung sebelum nafas terakhirnya hilang. by. jaeminister
