Hwa Eun Pov.
Menikah,ketika kata kata itu keluar dengan begitu mudah dari bilah bibir tipis nya yang tak kunjung mengeluarkan kata kata yang benar benar lembut dan menenangkan lalu bagaimana cara nya dia mengatakan menikah seolah seolah dia akan benar benar menolong ku dan mengeluarkan aku dari lingkaran hitam ini.
"Maafkan saya jika saya lancang Saem,tapi saya benar benar tidak dapat mengerti apa yang anda maksud.",Bersamaan dengan kalimat ku yang berakhir mata itu kembali menatap ku dengan begitu tajam,tak ada sedikit pun hangat nya mata di sana.Onyx nya begitu kelam dan mati.
"Apa kau ingin berpura pura di hadapan ku?",dingin begitu dingin dengan seluruh nada diktatorat nya seolah berkata bahwa aku tak akan mampu membantah nya barang sekali pun.
"Saya memang tidak mengerti apa yang anda maksud di balik kata itu Saem,saya tidak mengerti apa maksud anda mengatakn bahwa saya harus menggapai kebebasan dengan menikah dengan anda,karena saya sudah lelah untuk mengerti semua hal yang menurut saya tidak masuk akal.",Aku memberanikan diri untuk menatap nya.Namun baru sesaat aku menatap nya maka di saaat itu juga ku turunkan tatapan ku,itu begitu tajam aku tak akan mmpu untuk menatap nya lebih lama.
"ku katakan untuk yang kedua kali nya,kau tak dalam tempat mampu menolak. " aku tersenyum, "kenapa seperti itu?."
"Karena aku mengatakan nya seperti itu. " kenapa segala tentang nya yang baru ku lihat beberapa saat mampu melumpuhkan segala kosakata yang akan aku keluarkan?.
"Anda Mungkin akan menyesal dengan keputusan itu Saem. " Aku harus melangkah pergi tanpa berpikir untuk menoleh namun kenapa?,bahkan hingga aku duduk di kursi ku kata kata nya terus berputar.
"kau tak dalam tempat mampu menolak Hwa Eun-ssi." benar,siapa aku mampu menolak semua perintah manusia itu?,bahkan sejak lahir aku tak pernah di beri kesempatan untuk menentukan pilihan meski sejuta pilihan menghadangku.
............
Author Pov.
Sena sedari tadi memandang Hwa Eun yang tengah serius memperhatikan guru Ipa mereka,dia tidak lagi peduli dengan kertas nya yang kosong, tak lagi peduli dengan soal soal fisika di sana,karena fokus nya hanya ada di Hwa Eun.
"Baiklah,untuk pekerjaan rumah kalian kerjakan uji kepotensi 1 sampai 3." lalu guru itu pergi,bersamaan dengan bel istirahat.
"Hwa Eun-ah,apa kau ingin Ke kantin atau memakan bekal mu di sini?" pertanyaan sederhana memang selalu menjadi awal dari semua topik berat yang Sena punya.
"Aku pikir aku akan memakan bekal ku di sini Sena-ya, kalau kau ingin kekantin aku ak-" Sena memotong.
"Tidak, aku juga membawa bekal hari ini, aku rasa di kelas lebih baik aku tak begitu suka di sana, terlalu ramai. " Jawab nya menggagalkan perkataan naif Hwa Eun.
"Kau benar, di sana terlalu ramai... "Hwa Eun bergumam, sorot sendu dengan senyum hambar itu begitu kentara, Sena tidak bodoh.
"Hwa Eun-ah.. " Suara lain yang mengintrupsi ke giatan kedua nya membuat fokus mereka tertuju pada sosok itu, Byun Hana, "ada apa Han? "
"Kepala yayasan, maksud ku tuan jung ayah mu memintamu untuk keruangan nya.",Hwa Eun mengernyit lalu tak lama ia tersenyum. "Baik lah aku akan datang, terimakasih.. "
Senyuman hangat itu mengantar akhir kalimat nya, namun entah kenapa, rasanya itu jauh berbeda dari yang dahulu Hana rasakan, ada denyutan sakit yang menghantarkan bendungan air di matanya dan sebelum bendungan nya melebur dan keluar dia mengangguk dan berbalik.
'berbahagialah Hwa Eun ku mohon... '
Harapan yang hanya mampu ia keluarkan melalui hatinya, tanpa tersampaikan langsung untuk nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LET ME DIE
रोमांसketika senja tak lagi di rindukan dan ketika bulan tak lagi indah di mata nya,senyum yang terpantri indah di wajah nya dengan tatapan penuh cahaya kehangatan nan menenangkan. Jung Hwa Eun.Satu nama yang mampu menggambarkan ke indahan dari sosok nya...
