Harapan

54 4 0
                                    

Sayangku,

Malam ini tenda sebelah ramai sekali, aku rasa hatinya tidak seriang apa yang mereka katakan, dengan nada yang khas itu seakan diciptakannya untuk membuat kita iri.

Biarkan saja, kita nikmati saja kopi hangat yang cepat dingin ini, sedingin orang-orang kota.

Tapi kita sedang mengamati bintang bukan?
Kau lihat awan-nya?
Dan kabut halus ini?
Bukankah ini lebih dari kota dan seisinya?

Bergembiralah kau manusia sisa-sisa (dalam hatiku).
Bergembiralah dengan sunyimu itu.
Berdamailah dengan dirimu itu.

Jam 1 dini hari aku terbangun ingin buang air kecil, ketika kubuka pintu tenda, bintang-bintang bertaburan diatas sana.

Oh jutaan bintang memeluk-ku sayang, apa kau tidak cemburu?
Ia menerangkan, tapi tidak berisik.
Setia menemani malam para pejalan, para pejalan seperti kita ini.

"Ku ingatkan, kita tidak tersesat bukan?"

Sialan! Bunyi mereka masih nyaring, ini bukan tongkrongan, dasar orang kota.

Ah udah lega...

Lalu kuseduh kopi hitam, dan menyalakan sebatang dua batang rokok.

Ah ternyata semua ini mimpi, setelah ku hisap rokok dengan pelan-pelan beriringan bersama angin malam berkabut dan harapan yang menguap dipuncak 4 guntur.

Jawa dan Ardhi tertidur pulas dari jam 9, ku melihat bulan menyapaku, "mari bermain lagi" katanya.

Puncak 4 gunung guntur.
21 july 2019

Bersama samar bayangmu.

Belum Ada JudulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang