Disclaimer: fanfiksi ini terinspirasi dari film Pretty Woman (1990)--dengan beberapa modifikasi menyesuaikan karakter. I do not own any of these characters or the story plot. Hanya menulis karena hobi. I do not gain anything from this fanfiction.
Warning: adult themes dan konten sugestif, tapi tidak ada penulisan eksplisit
--------
--------
Steve berjalan-jalan santai di sekitar toko-toko di daerah Fifth Avenue. Seumur hidupnya, Steve tidak pernah bermimpi untuk melihat-lihat toko di daerah ini, lebih-lebih akan membeli sesuatu. Dengan keadaan ekonominya, dia dan Bucky lebih sigap mencari-cari barang di thrift shop. Setiap toko menampilkan nama-nama merk terkenal dan pakaian-pakaian indah di jendela etalase.
Jadi Steve tidak tahu dia akan membeli apa. Proper dan Profesional, Steve hanya punya bayangan abstrak, apakah sebuah suit kerja atau pakaian kasual tapi pantas (yang jelas tidak lusuh seperti pakaiannya sekarang). Tony meninggalkan uang yang lumayan banyak, sehingga Steve pikir sebaiknya dia meminta pertolongan saja dari pegawai di toko-toko itu. Steve yakin orang-orang itu lebih tahu. Steve memasuki salah satu toko dan mulai melihat-lihat. Tentunya kehadiran dirinya juga menarik perhatian dari beberapa pegawai, karena memang toko ini tidak sedang dipenuhi pelanggan. Salah seorang pegawai mendekati Steve.
"Apa ada yang bisa kami bantu, tuan?"
Steve menoleh hanya sekilas, karena dalam pikirannya dia sibuk memikirkan apakah pakaian yang sedang dilihatnya cocok dengan selera Tony. Meskipun begitu, Steve bisa menyadari nada bicara yang digunakan si pegawai itu terlalu tegas dan terlalu dingin, tidak seperti nada hangat para pegawai toko thrift shop yang biasa dia datangi.
"Oh, aku hanya ingin melihat-lihat dulu," kata Steve, mencoba tidak mempedulikan asumsinya.
"Apa anda mencari sesuatu secara khusus?" tanya si pegawai lagi.
Steve memperhatikan satu set suit berwarna biru tua dengan motif garis, mungkin Tony suka yang seperti ini. "Berapa harga yang ini?" tanya Steve, kini memperhatikan dua orang pegawai yang ada di depannya. Seorang pria dan seorang wanita berpakaian rapi. Yang pria memasukkan tangannya di saku celana, sedangkan yang wanita melipat tangan, sungguh bahasa tubuh yang buruk sekali.
"Saya tidak tahu apakah pakaian ini cocok untuk anda," kata yang pria.
Steve sangat tidak suka dengan nada bicara pegawai itu, apalagi dia menjawab pertanyaan yang tidak pernah dia tanyakan. Bukankah seorang pegawai toko sebaiknya melayani sebaik mungkin apa yang diinginkan pelanggan? Tetapi kemudian, Steve menyadari pandangan itu lagi. Rupanya, kedua pegawai itu terus-terusan memandangi Steve dari atas ke bawah, seolah memindainya tanpa henti.
"Aku bertanya berapa harga pakaian ini. Aku tidak bertanya soal apakah pakaian ini cocok atau tidak," kata Steve ketus.
Kedua pegawai itu saling berbisik, dan masih dengan tatapan yang merendahkan si wanita berkata pada Steve, "pakaian ini sangat mahal, tuan."
Hal itu membuat darah di kepala Steve mendadak mendidih. Mual sekali rasanya diperlakukan rendahan seperti itu. Apakah hanya karena Steve berpakaian lusuh, dia tidak boleh membeli pakaian baru?
"Dengar, aku sudah masuk ke dalam toko ini, jelas-jelas aku memiliki uang!" kata Steve, dengan suara yang mengeras. Si pegawai wanita memundurkan tubuhnya, dan juga membuat beberapa pegawai lain dan pelanggan tertarik oleh suara keras Steve tadi. Steve jadi sadar bahwa dia jadi terlihat telah mengusik kedua pegawai itu, apalagi si pegawai pria merentangkan tangannya seolah melindungi si pegawai wanita dari amukan Steve. Padahal jelas dari awal Steve yang sudah kesal lebih dulu karena kedua pegawai itu yang sejak awal bertingkah tidak sopan. Tapi tentu orang lain tidak melihat begitu, melihat siapa yang memakai pakaian lusuh dan siapa yang memakai pakaian seragam rapi.
KAMU SEDANG MEMBACA
What We Do
ФанфикшнDi antara carut marut kota bisnis New York, Tony Stark bertemu seorang PSK, Steve Rogers. Tony mempekerjakan Steve, semata untuk memiliki hubungan profesional tanpa melibatkan perasaan. Mereka yang tersesat dalam jalan yang tidak diinginkan. Steve x...
