Chapter 4

614 55 16
                                        

Disclaimer: fanfiksi ini terinspirasi dari film Pretty Woman (1990)--dengan beberapa modifikasi menyesuaikan karakter. I do not own any of these characters or the story plot. Hanya menulis karena hobi. I do not gain anything from this fanfiction.

Warning: adult themes dan konten sugestif, tapi tidak ada penulisan eksplisit

--------

--------

Tony melihat jam tangannya dan menoleh kesana kemari. Dia tidak mungkin terlambat. Tapi dia tidak melihat Steve dimana pun di lobi itu.

"Keponakan anda menunggu di bar," terdengar suara seorang wanita. Wanita itu berambut merah dan memiliki wajah yang cantik. Tony melongokkan kepalanya, ke arah pintu bar hotel yang ada di seberang tempatnya berada sekarang. Lalu yang membuat bingung adalah tentang keponakannya.

"Keponakan?" tanya Tony bingung.

"Keponakan anda. Tuan Steve?"

Tony tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kau tahu dia bukan keponakanku."

"Tentu saja, tuan," wanita itu tersenyum simpul, seolah memang tahu kebenarannya.

"Dan kita sama-sama tahu karena aku anak satu-satunya," kata Tony. Dia tidak percaya Steve menutupi hubungan mereka dengan kebohongan seperti itu.

"Tuan Steve adalah orang yang sungguh menarik."

I know, sahut Tony dalam hati. Dia tidak ingin lama-lama lagi disana. Dia ingin bertemu Steve sekarang juga. Tanpa berkata apa-apa lagi, Tony segera pergi dari hadapan wanita itu, tidak menyadari bahwa wanita itu sedang mengambil kartu bisnisnya, mungkin mencoba memperkenalkan diri secara resmi. Tentunya tangan wanita itu tergantung sia-sia, karena Tony telah pergi.

-----

Kepala Tony kembali menoleh kesana kemari, mencari sosok berambut pirang bertubuh besar itu, tapi sepertinya Tony tidak bisa menemukannya dimana pun. Tapi saat dia berbalik, dia melihat Steve, duduk di depan bar. Laki-laki itu terlihat tampan dengan suit-nya yang berwarna biru tua. Atau coret itu, Steve membuat pakaian itu terlihat indah di tubuhnya. Rambutnya kini juga tersisir rapi, tapi tunggu saja sampai Tony akan mengacaukan tatanan rambut itu lagi. Steve tersenyum padanya. Senyum yang terlihat seperti ingin membuat Tony bangga, tapi juga senyum yang terlihat seperti ingin menggoda.

"You're late," kata Steve.

"You're stunning," balas Tony.

"You're forgiven."

Mereka sama-sama tertawa kecil. Steve mendekati Tony dan merentangkan tangannya, dan Tony mengalungkan tangannya pada tangan itu. Tony jadi ingin menyewa chauffeur, agar dia dan Steve sama-sama bebas untuk bermesraan di dalam mobil sampai mereka tiba di restoran.

------

-----

Restoran itu memiliki suasana yang tenang. Meskipun tanpa sekat, tetapi jarak antara meja yang agak berjauhan memberikan kesan privasi yang cukup. Obrolan para pengunjung hanya terdengar seperti bisikan-bisikan kecil, ditemani oleh kuartet live music klasik. Saat Tony mengatakan reservasi atas nama Dr. Bruce Banner, seorang pelayan langsung menuntun mereka menuju sebuah meja di dekat jendela. Meja-meja yang terletak di sana berjarak agak berjauhan dari yang lainnya, mungkin merupakan tempat favorit para pengusaha untuk mengobrol mengenai bisnis mereka.

Steve mengikuti Tony dari belakang, memperhatikan dua orang yang telah duduk di meja itu. Seorang pria tinggi (lebih tinggi dari Steve) yang berambut pirang panjang‒diikat dengan rapi, dan seorang lagi lebih pendek dari pria yang pertama, berambut hitam sedikit berantakan dan memakai kacamata. Kedua orang itu menyambut Tony dengan ramah.

What We DoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang