Di detik kosong yang berjalan tanpa penghuni, ada hampa yang menggrayangi sepi.
Ayam-ayam sudah terlalap sejak sore, sedang sang waktu terlanjur cemburu pada sepasang kekasih yang tertidur pulas di ranjang nyaman itu.
Tak jauh dari rumah sepasang kekasih tadi, ada seorang remaja tanggung yang tengah sibuk menyelami isi kepalanya. Wajahnya amat lesu dengan keringat di sekujur tubuh. Padahal hari sudah malam dan kipas angin tak henti berputar dari tadi. Sepertinya sang remaja sedang meratapi hidupnya yang di penuhi tanda tanya.
Di sisi lain kedua rumah itu ada sepasang makhluk berwujud tak kasat tengah memerhatikan remaja tadi. Kita namai saja mereka dengan Nanga dan Renca.
Nanga dan Renca adalah sepasang yang tidak bisa sepasang.
Nanga dengan kepastian yang dia miliki bermimpi ingin merubah segala hal buruk yang menimpa hidup seseorang. Sayangnya Nanga tak mungkin bisa merubah apapun. Sebab tempatnya selalu berada di belakang takdir seseorang.
Sedang Renca adalah kebalikan dari Nanga. Jalannya selalu di penuhi ketidakpastian. Mimpinya sama dengan Nanga, ia ingin membuat semua orang bisa merasakan bahagia. Tapi Renca tak memiliki apa-apa selain mimpi itu. Ia tak memiliki referensi atau petunjuk kemana dia akan memulai langkah.
"Nanga, bagaimana kita akan mewujudkan mimpi kita ini?"
"Aku juga tidak tau Renca."
Tapi, sepertinya mereka kali ini beruntung. Sebab alam semesta berbaik hati mendengarkan mimpi-mimpi mereka. Dari singgasananya, semesta mengutus sang waktu ke bumi untuk mewujudkan mimpi Nanga dan Renca.
"Hai Nanga dan Renca.." Ucap sang waktu tiba-tiba.
"Siapa kamu?" Ucap Nanga dan Renca secara bersamaan dengan nada heran.
"Kenalkan, Namaku Waktu. Aku adalah utusan semesta untuk mewujudkan mimpi kalian." Ucapnya seraya mengulurkan lengan.
Kedua makluk tadi masih keheranan ketika kedua tangan mereka menerima jabatan sang waktu.
"Tenang, ini akan berjalan sesuai keinginan kita kalau kalian mau bekerja sama dengan baik."
Kedua mata Renca dan Nanga bertemu. Mereka sudah mengerti tanpa harus berbicara. Lalu sejurus kemudian mereka berdua mengangguk tanda setuju.
***
"Oke. Pertama-tama kalian harus masuk kedalam pikiran remaja tadi." Ucap sang waktu memberi arahan.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Nanga sudah langsung masuk kedalam pikiran remaja tadi, di ikuti Renca sedetik kemudian.
Setiba disana mereka langsung ingat satu hal. Mereka berdua sama-sama belum tau harus melakukan apa di dalam pikiran sang Remaja ini. Disisi lain mereka langsung kegum dengan keindahan tempat yang mereka kunjungi itu. Ruangan itu berdiameter tak kurang dari 24milimeter. Sangat kecil. Yang lebih mengagumkan tempat itu di penuhi dengan serabut saraf warna-warni yang kecilnya bahkan 100 kali lebih kecil dari rambut manusia.
"Keren ya Renca tempat ini" Ucap Nanga tiba-tiba. Matanya begitu berbinar.
"Indah bukan hanya keren Nanga." Balas Renca.
"Oh iya kata sang waktu tadi kita harus bekerja sama kan Renca?" Ucap Nanga sepontan.
"Iyaa ya, untuk mewujudkan mimpi itu kita hanya perlu bekerja sama."
"Tapi di sisi lain aku begitu mengagumi tempat ini. Nyaman dan menyenangkan sepertinya tinggal di sini." Nanga tak henti mengagumi tempat itu.
"Sepertinya aku juga Nanga. Ayo kita tinggal disini dan bangun mimp-mimpi kita bersama remaja ini." Ucap Renca penuh optimis.
Di luar sana sang waktu tersenyum girang. Ia seperti menemukan nyawanya yang sudah beratu-ratus tahun hilang. Sepertinya kehadiran Renca dan Nanga akan jadi bentuk bahagia baru untuk sang waktu. Ia tak akan lagi merasa hampa tinggal di Bumi. Ia akan terus bergerak semangat dengan Nanga dan Renca sebagai motivasinya.
"Semoga Renca dan Nanga berhasil mewujudkan mimpi mereka." Ucap sang waktu sembari tersenyum lalu kembali ke dimensinya: Sekarang.
***
Nanga dan Renca akhirnya berhasil mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Sang Remaja tak lagi merasa kosong. Pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya akhirnya satu persatu berhasil terpecahkan.
Rencana mereka berdua berhasil berkat mengkombinasikan Referensi-referensi yang Nanga punya dengan ide-ide yang Renca punya. Begitulah seterusnya.
Renca dan Nanga akhirnya bisa berhasil mengubah satu persatu hidup orang menjadi lebih baik. Renca dan Nanga memang tidak bisa bersebelahan, tapi mereka bisa hidup berdampingan. Saling menutupi kekurangan dan saling mengisi kekosongan di tempat masing-masing. Setelah berdiskusi panjang mereka memutuskan mengganti nama mereka sebagai bentuk identitas baru. Agar orang-orang mudah menyebutkannya. Nama baru mereka adalah KENANGAN dan RENCANA.
