7. Loves and lies (warning! NC)

249 15 5
                                        

Kerlap-kerlip cahaya kecil dari lampu thumbler tersusun berjejeran rapi. Sungguh indah berwarna arm white dengan sesekali menyala bergantian lalu serempak terhubung menyatu mengelilingi pohon natal.

Hari ini bukan hari natal, melainkan hari jadinya kedua belah pihak menerima perjodohan bisnis. Memang sangat realistis, namun begitulah kenyataan. Tak ada cinta, tak ada pula sedikit rasa suka. Hanya ingin menerima tanpa melibatkan kasih sayang.

Bagi sebagian orang mungkin terasa tidak asing, atau mungkin sangat familiar dengan alur kisah ini. Tetapi ketahuilah, cerita ini memang benar-benar ada. Jika kamu sudah buta harta, maka jalan seburuk apapun akan kamu tempuh walau jarak begitu jauh.

Haru duduk termangu, melamun pun rasanya tak usah. Kali ini ia akan menuruti perintah ayah-nya. Karena sebelum deal untuk menerima perjodohan ini, keduanya sudah melempar janji. Sebetulnya ia hanya ingin kebebasan, dan jauh dari dalam lubuk hatinya ia juga menginginkan ayah-nya mempunyai harga diri tinggi, untuk tidak selalu merendah dihadapan para petinggi.

Restoran mewah ala kanada, hidangan menunya penuh dengan berbagai nama tema daun maple, sungguh unik. Dua keluarga saling bersulang wine penuh kebahagiaan, kecuali Haru dengan wanita yang duduk didepannya. Mereka bertukar senyuman. Hari jadi yang tak akan pernah dilupakan.

***

Haru melangkah bersama dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi wanita-nya. Padahal usia masih belum masuk 18 tahun. Tetapi tanggal pernikahan sudah ditentukan. Meski status lajangnya akan lepas setelah dari dua tahun kedepan. Terhitung sampai lulus sekolah.

Sebelumnya haru sudah meminta izin untuk mengajak calon istrinya berjalan bersama sebentar, hanya untuk mencari udara segar. Tidak mungkin ia keluar sendirian. Maka dari itu ia beralasan untuk mengajaknya melihat sekeliling taman restoran ini.

"namamu, Cho Ahra?" tanya haru sambil melangkah perlahan dengan menengadahkan kelangit.

"ya" jawabnya singkat.

Untuk waktu yang lama kedua orang ini merasa canggung, langkahnya terhenti saat sudah menepi dipembatas pagar restoran. Ada beberapa lukisan mahal, mau tidak mau keduanya berpura-pura menikmati pulasan tangan seorang seniman itu, walau hati terasa dingin tak ada rasa sama sekali.

"aku tidak tau alasan kenapa aku bisa dijodohkan denganmu, dan aku tidak mau tau"
Suasana menjadi sensitif, wanita itu memandanginya tajam. Ia pun sama halnya yang dirasakan Haru, seolah marah tapi tidak bisa diungkapkan.

"Ayahku sudah berjanji untuk memberiku kebebasan, dan aku setuju" lanjutnya.

"kenapa kau tidak menolaknya" tanyanya geram.

"karena bagiku itu tawaran menarik" jawab haru sekenanya.

"alasanmu, cih--" ahra mendesis,

"jangan naif! Aku sudah tau akal bulusmu. Ini semua demi uang kan" lanjutnya dengan penuh emosi.

Bagaimanapun haru tersinggung, memang benar semua karena uang. Tapi tak bisakah untuk tetap menyadari kondisi ini. Hal ini juga terasa sulit baginya.

"hei! Apapun alasanmu, kau itu sangat egois. Bisa saja kau berlapang dada. Tapi aku? Aku juga bukan barang seenaknya untukmu permainkan. Lihatlah sekeliling mu, aku juga merasa tersiksa. Dan sikapku sangat berlawanan dengan tindakanmu. Jika saja dua orang saling menolak, peluang untuk jauh dari ide gila ini akan berhasil. Karenamu semua jadi sulit! Aku tidak akan pernah menerimamu seumur hidupku, catat itu!"

Haru geram, ia kepalkan kedua tangannya, lalu meninju dinding tepat disebelah kepala wanita itu. Ahra terkejut bukan main, seketika bibirnya refleks tertutup tidak mengoceh kembali.

WAKE ME UP!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang