Langit kali ini berbeda dari biasanya. Bintang gemintang menyebar luas, menghiasi langit malam yang begitu kelam. Ditemani kamu, juga secangkir susu coklat dan kopi. Kita kemudian duduk pada hamparan tanah kering lagi dingin.
"Lihat! Bagus, kan?"
"Separuh Rembulan?"
"Iya. Separuh Rembulan."
"Kenapa Separuh Rembulan?"
"Karena persis sepertimu."
"Maksudnya?"
"Coba senyum."
Aku mengikuti arahannya untuk menarik dua sudut bibirku.
"Persis. Seperti Separuh Rembulan. Kamu memberi sinar dengan menebar senyum pada siapa saja yang melihat. Sampai aku sendiri penasaran, selain karena film Anohana, apa kamu pernah menangis tersedu-sedu?"
"Karena ini merupakan hari yang berbahagia setelah 10 tahun lamanya, aku akan menjawab rasa penasaranmu. bahwa Aku pernah menangis karena film Marmut Merah Jambu."
"Dasar. itu genre comedy."
"Haha. mulai saat ini, aku juga akan merubah nama kontakmu dari Bimasena menjadi Saraga menuju Fajar."
"Saraga menuju Fajar?"
"Iya. Saraga menuju fajar."
"Maksudnya?"
"Pikir saja sendiri. Laki-laki itu harus mandiri, kan?"
"Dasar, curang. Oh iya, bagaimana? Desain untuk undangan pernikahanku sudah selesai, kan?"
"Belum sepenuhnya."
Aku tersenyum, kemudian melihat layar handphone ku yang mulai meredup. tertuju pada sebuah kontak yang baru saja ku ubah namanya. Saraga menuju Fajar.
Semesta, ternyata bukan kamu orangnya.
YOU ARE READING
Separuh Rembulan
Historia CortaSebuah kumpulan cerita pendek dari seorang puan yang bisa kau sebut dengan Separuh Rembulan. Selamat menikmati, selamat berlarut dengan hikmah yang tersaji :)
