"Cuit cuit ... nona cantik ngapain kesini...??" tanya salah satu pria penuh tato dengan bau rokok menyengat pada Esty yang masih blank.
Pria lainnya maju, tubuhnya penuh dengan tindik. "Gak bisa ngomong neng?" Esty menggeleng. Dia bisa kok ngomong.
Esty meringis. Netra hitamnya bergerak tak beraturan, jari tangannya dimainkan selalu. Dia ketakutan.
Esty tak memiliki keahlian bela diri apapun. Ah, kecuali lidahnya yang sudah terlatih.
Saat ini dia hanya bisa mengharapkan pertolongan. Tapi dari siapa? Mau bagaimanapun juga, yang ada di sekitarnya hanyalah dinding. Tentu saja, karena dia terjebak di sebuah gang kecil.
Salah satu pria bertato maju menyentuh pundak kiri Esty-- tidak, mungkin lebih tepatnya mengelus. Esty meringis menundukkan kepalanya.
Dia ingin menangis saat itu juga. Esty memejamkan kedua matanya erat sembari terus bergumam sesuatu, mungkin merapalkan mantra pemanggil?
"Hei, kenapa nona? Kesakitan?" ucap salah seorang pria yang terkekeh geli.
Esty mengepalkan kedua tangannya, dia mulai geram. Baru saja dia ingin memaki 3 pria di hadapannya, sebuah bayangan yang menutupi sinar matahari muncul di atas kepala Esty. Lalu mendarat dengan mulusnya tepat di depannya.
Esty terdiam sesaat sebelum akhirnya sadar siapa yang baru saja mendarat di depannya.
Itu Angga. Iya, Angga. Esty langsung cengo, dia berbalik menatap tembok tinggi di belakangnya. Angga baru saja melompat dari dinding itu?!
Esty mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, menatap dinding di belakangnya dan Angga di depannya bergantian.
"Kak Ang--"
"Hitungan ketiga," Angga mencengkeram tangan kanan Esty, "ikutin gue lari!" ucapnya lirih memberi perintah.
Esty awalnya bingung sendiri namun akhirnya dia mengangguk walau sedikit ragu.
"Satu ..." Esty mempersiapkan dirinya.
Tapi tiba-tiba Angga menendang kotak sampah besi di kanannya dengan kuat hingga mengenai wajah salah seorang dari 3 preman tersebut. "Lari!!" pekiknya kuat hingga membuat Esty terkejut.
"Kak Angga ...!!! Itu tadi belum tiga!!!" teriak Esty disela usahanya mengimbangi langkah Angga yang saat ini tengah menaiki kotak bekas teh botol yang tersusun membentuk tangga di sebelah kanan mereka.
Angga melompat diikuti Esty di belakangnya, "hoi, mau kemana kalian?!!" salah seorang preman mulai berlari mengejar.
"Kesini kalian ...!!" Esty melirik ke belakang. Alangkah terkejutnya dia melihat preman itu sedikit lagi akan menyentuh rambutnya.
Esty memejamkan matanya, seolah bersiap untuk rasa sakit yang akan dirasakan olehnya. Namun tiba-tiba dia ditarik oleh Angga yang segera berbalik dengan tangan kanan dikepalkan kuat yang setelahnya mendarat tepat diwajah pria itu.
Esty tak tau seberapa kuat pukulan Angga, tapi yang pasti, dia melihat pria yang baru saja dipukul Angga terpental beberapa meter dari mereka.
Esty bergeming kagum, dia tak menyangka tubuh kecil Angga memiliki kekuatan yang hebat.
"Wah, Kak ... lo bener-ben--"
"Nanti dulu ngomongnya, cepet lari!!" potong Angga cepat, dia tak mau kelelahan saat pulang ke rumah nanti.
Dengan cepat, Angga menguatkan cengkeramannya di tangan kanan Esty lalu segera berlari keluar dari gang tersebut dan berbelok ke arah kanan.
"Duh, Kak ...! Sakit!!" ringis Esty yang merasa cengkeraman Angga terlalu kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Baper
Fiksyen RemajaEsty itu cewek famous yang sering buat baper para cowok kurang belaian di sekolahnya. Dia itu gak suka cowok badboy ataupun yang kalem. Esty hanya suka pada cowok yang imut-imut gemesin. Hingga dia bertemu Angga. Seorang cowok pendek mungil bertamp...
