Aku dan Dia (4)

8 0 0
                                    

Desember 2019
.
.
.
Berharap di bulan ini aku mendapatkan kabar dari dia. Menunggu penantian yang tak pasti. Namun tidak juga aku mendapatkan kabar dari dia. Aku selalu chat dia di messenger, via dm instagram. Aku sangat merindukan dia.

30 Desember aku menemukan hal yang janggal dalam instagram dia, ada dm dari teman dia yang sepertinya dia menghubungi temannya ini.

Hingga Tahun 2020 pun tiba.
Tahun dimana aku nantikan kedatangannya karena di tahun ini aku berharap dapat bersama dia lagi, jalan berdua, menikmati jalanan kota, menumpahkan segala kerinduan. Iya itulah harapan ku di tahun 2020 ini.
Tapi kenyataannya, dia juga tidak ada kabar.

1 januari 2020
Aku bersama teman temanku liburan ke kota D, kota D ini tempat tinggal salah satu teman dekatku.
Aku iri! Aku iri dengan mereka yang didampingi pasangannya.
Aku iri dengan canda tawa bersama pasangannya
Aku iri dengan kekonyolan bersama pasangannya
Sementara aku?
Aku mengingat semua hal yang pernah terjadi, semua kenangan ketika aku masih bersama dia, kekasihku. Yang kini aku tidak tahu kabar nya.
Dalam hati aku menahan semua luka ini sendiri, aku tak dapat bercerita kepada siapapun, bagaimana hatiku, bagaimana perasaanku.
Aku mencintai dia, sangat sangat mencintai dia

Tepat pulul 15.00, aku mendapatkan notif pesan dm dari instagram dia lagi. Dia komunikasi lagi dengan salah satu teman wanitanya.

Saat itu aku berfikir, kenapa dia bisa memberi kabar kepada orang lain. Sementara aku di biarkan dan diabaikan.

Saat itu aku masih menyembunyikan kekhawatiranku, fikiran aneh ku di depan teman temanku. Aku melihat mereka tertawa dan bercanda makin membuat hati ini sakit.

Pukul 18.00, aku sudah sampai rumah. Aku membuka instagram dia, dan ternyata password intagram dia sudah di ganti. Ku coba masuk ke akun facebook nya pun tidak bia karena sudah di ganti.

Aku tidak mengerti kenapa dia seperi ini, semua pesan ku di abaikan. Aku merasa sangat hancur. Dan tidak mengerti apa apa. Aku mengingat malam terkahir aku komunikasi dengan dia tapi semuanya baik baik saja, tidak ada pertengkaran yang ada hanya manjaan dan candaan.

Hari itu air mataku tumpah lagi.

Saat itu fikiran ku mulai kosong, nafasku mulai sesak, dadaku mulai sakit, dan ternyata bronkitisku kambuh lagi.

Aku ingat bahwa aku tadi menahan asap rokok karena aku tidak berani untuk meminta orang yang tidak kukenal mematikan atau berhenti merokok.

Malam itu aku kembali meminum obat untuk meredakan nyeri di dadaku. Aku hanya bisa menahan tangisan itu, agar tidak menyebabkan rusak nya jantungku.

Aku harus menahan semua perasaanku. Aku ingin hidup lebih lama lagi, itu yang selalu aku fikirkan ketika aku mulai ingin menangis dan mengingat perjuangan ibuku untuk menghidupi keluargaku.

Malam itu, ketika sakit ku mulai reda, aku mencari kontak teman dia yang ku kenal dan aku bertanya tentang dia kepada temannya. Dan benae ternyata dia sudah pulang.

Aku tak habis fikir KENAPA DIA SETEGA ITU KEPADAKU
.
.
.


Aku dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang