Hari pertama minggu ini, hari dimana Myungeun dapat kembali ke rumahnya. Entah mengapa, tapi ia merasa bahwa tak ingin kembali ke rumah. Ia ingin berada di tempat ini sedikit lebih lama, bahkan ia rela jika harus mengenakan peralatan rumah sakit sedikit lebih lama lagi.
Sore itu adalah jadwal pemeriksaan terakhirnya sebelum pulang. Itu artinya peluangnya untuk bertemu dengan Wonwoo berkurang.
Jeon Wonwoolah yang menjadi titik perhatiannya selama pemeriksaan berlangsung. Tak ingin rasanya ia memalingkan pandangannya.
"Aku rasa kamu menyukainya,"
Jiyeon yang mengucapkan hal itu, seiring dengan pintu yang perlahan ditutup oleh Wonwoo yang telah selesai memeriksa keadaan Myungeun.
"Apa yang kamu bicarakan? Hal itu tidak mungkin terjadi, Jiyeon."
"Terserah kamu saja, sudahlah, aku mau ke kantin."
Sesaat setelah kepergian Jiyeon, Myungeun terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Benarkah aku menyukainya? Atau ini semua hanyalah kekaguman?"
gone,
Rembulan telah muncul, menggantikan tugas sang mentari, yang tandanya hari sudah malam. Tepat pukul tujuh, Myungeun diperbolehkan pulang.
Senyuman yang manis perlahan terukir pada bibirnya, memang benar, ia sangat merindukan rumahnya. Tapi entah mengapa disisi lain ia merasa tak ingin pulang.
Pikirannya selalu tertuju kepada dokter magang tersebut. Bahkan ia tak dapat melupakan senyuman calon dokter tersebut.
"Myungeun, ayo kita pulang. Jisung sudah menunggu di mobil,"
Dia adalah Park Jimin, anak tertua di keluarga Park, kakak laki-laki Myungeun. Sedangkan Jisung adalah adik laki-laki Myungeun, anak bungsu keluarga Park. Benar, mereka adalah tiga bersaudara.
Sesegera mungkin Myungeun tersadar dari lamunannya. Dengan bantuan Jinyoung ia berdiri dan duduk di kursi roda.
tok tok tok
"Permisi, bisa saya berbicara dengan Myungeun sebentar?"
Laki-laki ber jas putih tersebut perlahan memasuki ruang inap Myungeun. Arah pandangan Jimin beralih ke orang tersebut, ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman.
"Silahkan, dokter Jeon."
gone,
"Ada apa, bukankah hari ini aku boleh pulang? Tadi kan sudah diperiksa."
"Iya, tapi ada hal lain yang perlu kubicarakan."
Myungeun nampak menautkan alisnya, membuat laki-laki bermarga Jeon di hadapannya itu gemas melihatnya.
"Aku ingin membicarakan dirimu, dan..."
Ucapannya menggantung, jarak wajahnya dengan wajah Myungeun semakin dekat. Bahkan, Myungeun dapat merasakan hembusan nafas Wonwoo.
"D-dan?"
Diraihnya tangan Myungeun, lalu diletakkan di depan dadanya.
"Dan aku ingin membicarakannya, dia terus saja berdetak dengan keras saat aku berada di dekatmu. Apa kamu merasakan hal yang sama?"
Myungeun tebak, wajahnya sudah semerah kepiting rebus saat ini. Kekehan kecil terdengar dari Wonwoo, menurutnya Myungeun sangatlah menggemaskan.
Kertas kecil yang terlipat ia berikan kepada Myungeun, setelah diberikannya, ia berbisik kepada gadis dihadapannya tersebut.
"Kutunggu pesan darimu."
Wonwoo keluar dan meninggalkan Myungeun yang membeku. Sesaat setelah itu ia tersadar dan langsung membuka kertas yang diberikan Wonwoo tersebut.
Dan saat itulah ia berkata dengan suara lirih,
"Benar, aku sudah jatuh hati padanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
GONE, Jeon Wonwoo x Park Myungeun
Fanfiction((hiatus)) Aku berusaha keras mengingatmu, di tempat di mana kita dulu bersama. Aku sangat bahagia hanya dengan berjalan di bawah hujan denganmu, tapi kau tak lagi di sini, bersamaku. --republish
