Tetes demi tetes jatuh menetes
Nabastala nan kelam bertambah suram
Air yang mengalir menjadi genangan, mencipta kenangan
Suara rintiknya saling bersahutan memecah kesunyian malamHawa dingin menusuk tulang
Mengingatkanku padamu yang pernah kusayang
Jujur, rasa itu belum hilang
Ya, sampai sekarangSecangkir kopi hangat dalam genggaman
Buatku bernostalgia pada senyuman
Senyuman gadis berparas menawan
Yang pergi bersama sebuah pengkhianatanRelakan...
Katamu mudah
Namun kenyataannya buatku gundah
Katamu tak akan susah
Namun sampai sekarang, aku tetap sakit tak berdarahRintik hujan...
Tolong jangan kau ingatkan
Apalagi buatku tak sanggup mengiklashkan
Sudah relakan
Karena ku tahu, kita hanya seorang rekanMinggu, 9 Februari 2020
-Rekan-
Vote ya...., makasih kalau udah vote😇

KAMU SEDANG MEMBACA
Buah Pena Milik Kita
PoetryKumpulan puisi karya pribadi dengan sejumlah diksi yang insyaallah bisa buat readers happy GAPAPA REQUEST ASAL VOTE DAN FOLLOW OKEEE👍 Vote Dan Komen Ya Temen-Temencuuu follow author jugaa