Ini minggu pertama di bulan Maret. Seperti biasa Rara datang ke kampus. Hanya sekedar mendengarkan dosen dan mencatatnya di buku catatannya. Seperti biasa pula, ia masuk ke kelas dan berjalan menuju bangku yang berada di deretan bangku nomor dua dari belakang. Duduk disana dengan tenang sembari memainkan ponselnya.
Gadis itu sempat melewati Daffa tadi. Laki-laki yang duduk bergerombol dengan teman-temannya. Sejenak ia menoleh. Sekedar memastikan apa gadis itu tetap duduk di tempat biasanya. Dan benar Rara masih duduk disana. Senyumnya terkembang. Daffa beranjak dari kursinya. Seperti biasa ia tidak akan peduli dengan nyinyiran temannya yang mengatakan jika ia aneh. Daffa rasa ia tidak aneh. Laki-laki itu hanya mendatangi Rara. Sekedar menemaninya selama mata kuliah berlangsung.
Rara terkenal dengan pendiamnya. Membuatnya sulit mendapatkan teman. Membuat teman enggan dekat dengannya. Sikapnya yang lebih banyak dingin membuat gadis itu tidak mudah di dekati. Termasuk Daffa. Tapi laki-laki itu tidak seperti lainnya. Lainnya dengan wajah teman yang baik tapi teman yang busuk di belakang. Daffa yakin Rara punya alasan tersendiri memilih diam di bandingkan belaga menjadi hangat tapi sebenarnya itu bukan dirinya. Dan mungkin Daffa harus mulai cari tahu itu dan berusaha menjadi temannya.
“pagi ra,” sapanya seperti biasa
Kali ini Rara menoleh. Gadis itu menatap Daffa sambil ūtersenyum kecil. “ngapain kesini?” tanyanya seperti biasa
“emang enggak boleh?” tanya Daffa balik
Senyuman itu kembali terkembang. “boleh, duduk aja.” ujarnya dan mengijinkan Daffa untuk duduk di sebelah Rara
Dengan senang hati laki-laki itu duduk di sebelahnya. Tidak lupa pula ia tersenyum pada gadis itu. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menerimanya duduk di sebelah kanannya. Rara kembali dengan buku catatannya. Daffa sempat sedikit heran awalnya. Karena dosen belum datang, tapi gadis itu malah menulis di bukunya. Tapi ia mulai memutar otaknya. Mungkin sedang menulis catatan lain.
“lu nulis apa ra?” tanyanya pada gadis itu, sekedar basa-basi
Spontan Rara menutup bukunya. Dengan wajah kagetnya dan pipi yang sedikit merona gadis itu menoleh ke arah Daffa. “b-b-bukan apa-apa.” Jawabnya sedikit gugup
Daffa yakin ini sudah melewati hak privasi gadis itu. Laki-laki itu memilih mengangguk mengerti. Terkesan mengakhiri obrolan kecil tentang buku bersampul merah muda itu. Keheningan kembali menjalar di sekitar mereka. Daffa kembali menatap ke arah Rara yang kini memainkan ponselnya. Sesekali gadis itu tersenyum. Hangat. Amat hangat. Sampai Daffa iri. Kapan senyum itu bisa untuknya.
“lu suka kpop ya?” tanyanya membuka obrolan lagi
Rara menoleh ke arah Daffa. Dengan wajah sedikit terkejut karena Daffa bisa tahu apa yang ia sukai. “kamu tau darimana aku suka kpop?” tanyanya
Daffa diam sejenak. Ia mencoba merangkai kata untuk menjadi alasannya. Lagipula ia tidak mungkin bukan menjawab jika ia sering memantau gadis itu setiap saat. Mencari tahu tentang sosok Davira Laquitta Camilla di akun sosial medianya dengan akun palsu. Tidak mungkin. Itu akan menjatuhkan sosok Daffa di mata Rara.
“waktu itu gue enggak sengaja denger lu nyalain lagu kpop yang enggak asing gitu, jadi gue simpulin kalau lu mungkin suka kpop.” Jawab Daffa setelah sekian lama
“lagu apa?” tanya Rara lagi
Daffa diam lagi. Laki-laki itu masih mencoba mengingat-ingat lagu apa yang sempat samar-samar ia dengar dari ponsel Rara. Sampai sebuah judul lagu terlintas di otaknya. “kalau enggak salah judulnya like always deh.” Jawabnya, ia sengaja tidak menyebutkan siapa yang menyanyikan lagu itu. Karena ia lupa.
“oh like always.” Rara mengangguk-angguk mengerti. Terdapat semburat kesenangan di wajahnya. “iya aku suka kpop, kamu juga?” tanyanya mulai penasaran
Spontan Daffa mengangguk. Presetan jika ia berbohong. Demi Rara ia akan lakukan itu. Bahkan meskipun harus menyukai setumpuk laki-laki yang tidak jauh dengan parasnya. Terkadang Daffa berfikir, apa jika menyukai satu boygroup Rara tidak berfikir aneh bukan? Maksudnya, apa ini tidak sedikit aneh ketika seorang laki-laki malah menyukai laki-laki.
“suka grup apa?” tanya Rara lagi dan kali ini nampak jelas jika gadis itu seperti menemukan dirinya di diri Daffa
Daffa memutar otaknya lagi. Mencoba mengingat-ingat. Sungguh ia masih cukup bersyukur menghabiskan kuotanya kemarin hanya untuk mencari tahu tentang kpop. Ingat demi Rara ia akan lakukan apapun itu. Meskipun membuatnya harus menguras uang mingguannya hanya untuk membeli kuota.
“iz– iz–“
“iz*one?” potong Rara dengan wajah senangnya itu
Sontak Daffa mengangguk. Kenapa ia bisa lupa dengan itu. “bias kamu siapa disana?” tanya Rara lagi
Bias? Apa lagi itu. Daffa kembali memutar otaknya. Berusaha ingat apa itu Bias. Sampai ia ingat apa arti kata itu. Setelah menemukan artinya ia harus kembali memutar otaknya. Ia harus menyukai siapa di grup itu. Bahkan namanya saja ia lupa. Sepintas satu nama muncul di otaknya dan langsung saja ia lontarkan itu.
“Cho Seungyoun, lu siapa?” jawabnya
Rara diam sejenak, ia menatap Daffa dengan heran. Sampai ia tertawa kecil. Ini tawa pertamanya. Tawa yang Daffa ciptakan dari wajah manis Rara.
“Cho Seungyoun itu cowok fa, dia bukan membernya girlgroup Iz*one.” Ujarnya sambil menahan tawanya
***
Tbc.
Jangan lupa votmentnya temen-temen🌱
See ya🐣
yeolki_

KAMU SEDANG MEMBACA
Different | Cho Seungyoun ✔
Fanfiction[TAMAT] Sayangnya menjadi diri sendiri artinya menjadi aneh di mata semua orang #3 Mini Series Happy Reading🐣 cover by xxsjy9 yeolki_ Start : 10/02/20 End : 29/02/20 nb : karena ini mini series jadi cuman ada beberapa part di book ini