Meski takdir tidak memihak padanya, Bunga sudah berusaha sebaik mungkin agar kisah nya dan Adam tetap berlanjut. Namun setelah apa yang dikatakan sahabatnya dia dengar, Bunga ragu untuk melanjutkan usaha itu. Dia memang berpikir untuk pergi.
Maka pagi ini Bunga ingin mengunjungi Panti Asuhan tempat dimana dia dibesarkan dulu. Dia ingin berpamitan secara langsung dengan Ibu Kepala Panti, dan juga adik-adik nya disana.
Sebelum ke Panti Bunga menyempatkan diri membeli beberapa makanan serta mainan, dan yang terakhir Bunga akan membeli beberapa buku bacaan untuk adik-adiknya.Dia memarkirkan mobil tidak jauh dari toko buku di dekat taman kota yang biasa dia kunjungi.
Berjalan dengan wajah yang tenang Bunga membuka pintu kaca toko itu. Setelah memilih beberapa buku dia membayar nya di kasir lalu kembali menuju mobil, sebelum Bunga sampai pada mobilnya dia mendengar teriakan seorang Ibu memanggil nama anaknya, dia yang dekat dengan anak itu langsung saja berlari ingin mendorong anak perempuan yang rambutnya berkepang kuda itu.Klakson mobil terdengar sangat nyaring dan sebuah benturan terjadi. Bunga yang berusaha melindungi anak itu menjadi korban dari kecelakaan tersebut.
Bunga melihat kabut didepan matanya lalu kepalanya terasa sangat nyeri, hingga akhirnya dia tak bisa mendengar atau melihat apapun lagi.
****
Seorang Pria dengan kening terluka terlihat sangat khawatir dengan wanita yang dia tabrak. Dia benar-benar tidak sengaja, entah kenapa rem mobilnya tidak berfungsi.
Dia berdiri didepan sebuah ruang UGD dan tak lama seorang perawat menghampirinya. Memberikan ponsel wanita tadi.Adrian berpikir dia harus menghubungi seseorang dari keluarga wanita itu. Untungnya ponsel itu tidak terkunci, dia bisa leluasa membuka kontak lalu menemuka nama MAMA disana.
"Halo tante, saya Adrian. Saya mau memberitahu kalau anak tante sedang dirumah sakit. Dia tertabrak."
"Bunga," hanya itu yang dapat Adrian dengar. Membuat kening Adrian berkerut. "Beritahu saya alamatnya." Adrian memberikan alamat rumah sakit tersebut lalu dia mengikuti salah satu perawat disana untuk membalut luka di keningnya.
Dalam tidur nya yang panjang Bunga bermimpi, seperti dia dan Adam berada di padang rumput yang indah.
"Papa," panggil seorang anak membuat Bunga tersenyum dari kejauhan melihat Adam dan seorang anak kecil berlari kearah Adam.
"Hai sayang, kamu terlihat cantik." Bunga tersenyum bahagia melihat interaksi Adam dan anak kecil itu. Dia berada sedikit jauh dari mereka namun masih bisa mendengar jelas percakapan antara dua orang yang special di hidupnya.
Bunga terbangun tiba-tiba dan melihat langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. "Adam," panggilnya membuat wanita paruh baya di sebelahnya menghela napas kasar. "Kau sudah sadar Bunga." tanya wanita itu tersirat akan kekhawatiran. "Mama akan panggil kan Dokter." Bunga masih belum paham sepenuhnya hingga dia mengingat kejadian dimana dia tertabrak mobil.
Dokter memeriksa Bunga lalu berbicara dengan Asih__Mama Adam itu. "Oh Bunga syukurlah kamu tidak apa-apa. Hanya kaki mu yang patah dan akan segera sembuh dalam waktu beberapa minggu." Bunga melihat kaki nya yang sudah terbalut kain.
"Kenapa Mama bisa disini? Ehm...maksudnya tante kenapa bisa disini?""Tidak apa Bunga. Panggil saja Mama seperti biasanya. Bagi ku kamu tetap anak ku meski Adam menikahi Sofia. Maafkan sikap Mama saat di Masjid ya, mama hanya tidak mau tamu dan kerabat melihat kamu seperti itu." Bunga mengangguk, dia tidak mungkin marah dengan Asih, bagaimana pun Asih adalah orang tua Adam.
"Mama minta kamu tidak memberitahukan Adam kalau kamu kecelakaan ya. Kamu tahu kan mereka sedang berbulan madu." Bunga menghembuskan napasnya, dia menerima air putih yang diberikan Asih. Lalu sebuah pertanyaan muncul begitu saja dari mulutnya.
"Kenapa Ma? Kenapa Mama tega membiarkan Adam menikahi wanita lain? Mama tahu bagaimana aku mencintainya, Mama tahu bagaimana aku sudah sangat memimpikan hari dimana aku akan menikah dengan Pria yang aku cintai." Bunga meneteskan airmatanya dan Asih memeluknya dengan sayang.
"Mama minta maaf sayang. Saat Papa Sofia meninggal dia menagih janji yang bahkan sudah dilupakan mendiang Papa Adam. Dan sejak saat itulah semua nya terjadi, hingga Papa pun pergi di kita. Adam tidak bisa menolak permintaan Papa nya, kamu tahu kan bagaimana Adam." Asih pun meneteskan airmata. "Maafkan kami Bunga, maafkan Adam. Tapi Mama mohon jangan hancurkan pernikahan mereka, Mama tahu kamu wanita yang baik. Mama tahu kalian masih sangat saling mencintai. Tapi Bunga, mama mohon jangan merebut Adam dari Sofia." Semua yang Bunga dengar sama saja. Dia menghapus airmatanya dan melepaskan pelukan Asih.
Seorang Pria dari balik pintu mendengar semuanya, dia ikut merasakan sakit yang dialami wanita bernama Bunga itu.
"Kamu tidak boleh menghancurkan pernikahan mereka Bunga, tapi kamu bisa menikah dengan Adam lagi." Bunga terkejut dengan apa yang Asih katakan. "Mama sudah mendengar semua dari Adam dan Sofia. Dan Mama setuju kalau kamu menikah dengan Adam."
Bunga tidak mampu menjawab nya. Dia melihat wajah Asih yang meyakinkan nya."Apa mama tidak keberatan? Bagaimana dengan apa yang orang katakan?" ujar Bunga takut.
"Yang menjalani adalah kalian bertiga. Lagi pula apa yang akan orang katakan kalau kamu mengganggu hubungan Adam dan Sofia? Bukankah sama saja?"
"Kalau kamu setuju Mama akan memberitahu kan Adam dan Sofia." Bunga masih diam tidak tahu harus menjawab apa. "Bunga percayalah ini adalah jalan terbaik buat kamu dan Adam."
"Bunga tidak tahu Ma." Bunga memejamkan matanya membuat Asih mengerti. Dia mengusap rambut Bunga lalu duduk di sofa menjaga Bunga.
Dalam gelap penglihatannya Bunga tidak tidur, dia hanya memejamkan mata memikirkan tentang semua yang ada di depan jalan hidupnya. Berlari dari Adam atau menyetujui menikah dan menjadi istri kedua.
Tbc 😘😘😘
Kok sepi ya disini ? 😌

KAMU SEDANG MEMBACA
Mengurai Rasa
RomancePatah hati, ketika kekasih menikah dengan orang lain itu pasti. Bunga Humaira, wanita berparas ayu itu memaksa mengukir takdirnya sendiri. Sakit di hatinya tidak akan ada yang bisa merasakan, di tinggal menikah setelah enam tahun menjalin tali asma...